Bujangan Ditemukan Membusuk di Kamar

SOLO—Warga Gondorasan RT001 RW 007 Baluwarti, Solo, digemparkan dengan kematian seorang warga R.M. Joko Saryanto, 72, Minggu (2/12) pagi. Korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan, sebagian kepalanya telah menjadi tengkorak.
Korban diduga telah meninggal dunia sejak dua pekan lalu. Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran Solo, penemuan korban kali pertama diketahui dari ketua RT setempat bernama Sulasmo. Saat itu, Sulasmo menerima laporan dari warga terkait kondisi korban yang tidak pernah keluar rumah sejak dua pekan terakhir.
Dari laporan tersebut dirinya menindaklanjuti dengan mendatangi rumah korban. Saat masuk ke rumah korban, Sulasmo menemukan korban sudah dalam kondisi tak bernyawa di kamar lantai atas rumahnya.
“Saat masuk, rumahnya dalam kondisi terkunci. Lalu kami dobrak. Begitu masuk ke kamar di lantai atas kondisinya gelap dan saat dilihat pak Joko sudah meninggal dunia. Bahkan sebagian sudah seperti tengkorak,” ungkapnya.
Mengetahui kejadian itu, Sulasmo langsung melaporkan ke Polsek Pasar Kliwon. Menurut penuturan Sulasmo, korban selama ini tinggal seorang diri. Di mata tetangga, korban juga kurang dikenal karena jarang bersosialisasi dengan warga di sekitar tempat tinggalnya. “Hanya, tetangga curiga, biasanya korban tiap pagi manasi motor. Tapi dua pekan lebih tidak pernah keliatan,” katanya.
Hal itu pun diamini tetangga korban, Yudi Suyatno yang mengatakan para tetangga kurang mengenal korban dengan baik. “Pak Joko tidak pernah ikut acara RT dan warga lainnya. Jadi kami tidak tahu kalau dia meninggal dunia,” katanya.
Warga hanya curiga korban tidak kelihatan selama dua pekan terakhir. Warga semula menduga korban pergi ke luar kota karena tidak ada hal-hal mencurigakan terkait kematian korban, seperti bau tidak sedap. “Biasanya kalau meninggal sudah lama kan bau, tapi ini tidak bau sama sekali. Karena rumahnya tertutup rapat. Begitu dibuka pak RT sekarang baru terasa baunya,” katanya.
Kapolsek Pasar Kliwon AKP Ariakta Gagah Nugraha menduga korban meninggal dunia karena sakit. Dugaan tersebut muncul setelah jajaran Polsek Pasar Kliwon bersama tim Inafis Polresta Solo melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di rumah korban.
“Begitu menerima laporan dari warga, kami langsung ke TKP. Lalu koordinasi dengan Inafis atas sepengetahuan RT setempat melakukan olah TKP. Indikasinya meninggal dunia karena sakit. Korban sudah berumur 72 tahun,” katanya.
Sebatang Kara
Pihaknya memperkirakan korban meninggal dunia sekitar dua pekan lalu. Selain mayat yang ditemukan sudah dalam kondisi gosong dan menjadi tengkorak, juga diperkuat dengan keterangan para tetangga. Dari keterangan yang diperoleh, korban diketahui terlihat terakhir oleh warga sekitar dua pekan lalu. “Korban hidup sebatang kara dan kurang perhatian juga dari pihak keluarga dan lainnya sehingga baru diketahui meninggal dunia setelah dua pekan,” katanya.
Ihwal proses evakuasi mengingat jenazah korban sudah membusuk, Kapolsek mengatakan perlu perlakuan khusus dan dilakukan dengan kehati-hatian. Pihaknya pun telah berkoordinasi dengan palang merah Indonesia (PMI) serta Puskesmas setempat untuk proses evakuasi tersebut. Diakuinya proses evakuasi jenazah cukup sulit karena kondisi korban yang ditemukan tak bernyawa di lantai atas rumahnya. Selain itu rawannya penyebaran penyakit dari kondisi mayat yang membusuk. “Jadi memang butuh hati-hati jangan sampai niatnya evakuasi malah menimbulkan korban baru.”
Selanjutnya jenazah korban akan dimakamkan di pemakaman umum Danyung, Sukoharjo. Hal ini sesuai dengan permintaan pihak keluarga tidak perlu dilakukan autopsi dan langsung dimakamkan.
Perwakilan keluarga, Djoko Mar­said, mengatakan keluarga tidak menghendaki adanya autopsi terhadap korban. Alasannya kondisi korban yang tidak memungkinkan untuk dilakukan autopsi. Korban juga meninggal dunia karena faktor usia yang sudah tua. Sebab keluarga melihat korban tidak pernah memiliki masalah dengan siapa pun. “Beberapa kali sering sakit. Ya namanya sudah tua. Jadi kami merasa tidak perlu dilakukan autopsi apalagi jenazah sudah membusuk seperti itu. Jadi lebih baik dimakamkan langsung,” katanya.
Selama ini korban memang tinggal sendiri dan belum menikah. Keluarga hanya sesekali datang berkunjung ke rumah korban. “Memang kami tidak tiap hari ke sini. Kami nengok ya jarang-jarang,” katanya. (Indah Septiyaning W.)