MACAN LAWU SERANG TERNAK Warga Karanganyar Cegah Perburuan Hewan

IRAWAN SAPTO ADHI

KARANGANYAR—Warga Desa Beruk, Jatiyoso, Karanganyar, sepakat mencegah aktivitas perburuan hewan di kawasan hutan lindung Gunung Lawu. Hal ini untuk mencegah macan Lawu kehabisan mangsa sehingga beralih memangsa hewan ternak dan membahayakan jiwa penduduk.
Kadus Pondok Pengkok, Desa Beruk, Giyono, 24, mengatakan warga meyakini serangan macan Gunung Lawu terhadap hewan ternak di Pondok Pengkok pada Sabtu (1/12) pukul 01.00 WIB, dipicu menipisnya mangsa macan di Gunung Lawu.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 4
Warga menilai salah satu penyebabnya adalah aksi perburuan kijang dan hewan lain yang merupakan mangsa hewan predator ini.
Giyono juga memastikan aksi perburuan hewan tersebut tidak dilakukan warga setempat. Sejak lama warga telah menyadari bahwa aksi perburuan di hutan lindung bakal menimbulkan kerugian karena merusak siklus rantai makanan. Dia meyakini aksi perburuan dilakukan oleh pihak luar. ”Dari dulu warga sudah sepakat untuk tidak memburu hewan di hutan lindung. Saya pastikan perburuan hewan selama ini dilakukan orang luar. Sebagai bentuk antisipasi jangka panjang adanya serangan macan lagi, warga kini sepakat menolak kedatangan para pemburu itu,” jelas Giyono saat ditemui Koran Solo di Beruk, Senin (3/12) pagi.
Giyono menyebut sudah mengumpulkan warga Pondok Pengkok untuk membahas teknis pelaksanaan larangan pemburu masuk hutan lindung lewat Beruk. Warga Pondok Pengkok yang berada di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung kini siap menegur siapa saja yang tampak ingin berburu. Warga akan melarang mereka yang kedapatan membawa senjata api atau senjata tajam tertentu masuk ke hutan. ”Situasi di kampung kami sekarang begitu mencekam. Semua warga takut akan adanya serangan macan Gunung Lawu yang bukan tidak mungkin mengancam keselamatan jiwa penduduk,” terang Giyono.
Selain menolak pemburu masuk, warga Kampung Pondok Pengkok juga sepakat mengintensifkan ronda malam. Warga RT 001-RT 003/RW 001 di Pondok Pengkok siap datang ronda bergilir hingga pukul 05.00 WIB. Giyono menyebut kegiatan ronda sebelum peristiwa macan menerkam dua kambing milik Kisut, 50, kurang berjalan baik. Kebanyakan warga yang petani mengaku butuh tidur cepat karena harus bangun lebih awal untuk pergi ke sawah atau kebun.
”Saya memaklumi hal itu. Namanya juga petani, butuh tidur cepat karena harus bekerja pagi hari. Tapi sekarang ronda harus full personel dan sampai pukul 05.00,” jelas Giyono.
Seorang warga Pondok Pengkok RT 001/RW 001 Beruk, Kisut, 50, menceritakan dua kambingnya langsung mati setelah diterkam macan Gunung Lawu pada Sabtu sekitar pukul 01.00 WIB. Awalnya dia mendengar suara gaduh di kandang kambing dan saat ditengok ternyata ada dua ekor macan di kedua kandang ternaknya. (JIBI)