Malioboro Solo Harus Hindari Kesan Kumuh

SOLO—Gagasan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menyulap area citywalk sisi selatan Jl. Slamet Riyadi seperti Malioboro, Jogja, menuai pro dan kontra dari pelaku usaha.

INDAH SEPTIYANING W.
redaksi@koransolo.co

Sebagian pelaku usaha mendukung gagasan tersebut. Mereka menilai usaha Pemkot menjadikan area citywalk ala Maliboro mampu mendongkrak pusat bisnis di kawasan tersebut. Sebagian pelaku usaha memandang gagasan itu tidak tepat karena akan membuat kawasan citywalk menjadi kumuh.
Pemilik toko alat tulis kantor Merah Putih, Nelli, mengaku kurang setuju jika citywalk dijadikan seperti Malioboro saat malam hari. Selain mempertimbangkan sisi keamanan, dia juga mengkhawatirkan akan membuat kumuh kawasan tersebut.
“Pemkot harus mempertimbangkan penataan yang bagus. Jangan sampai asal menempatkan pedagang, lalu jadi kumuh. Bagaimana sistem keamanannya, ini harus dipertimbangkan lagi,” katanya.
Senada disampaikan pemilik toko ban Jl. Slamet Riyadi, Ny. Hadi, yang juga kurang sependapat dengan rencana Pemkot soal menyulap citywalk menjadi Malioboronya Kota Solo. Dia khawatir akan keamanan tokonya saat malam hari.
“Kalau malam hari yang mau jaga keamanan sini siapa? Karena selama ini toko buka tidak sampai malam hari,” katanya.
Sementara pelaku usaha lainnya menyambut positif rencana tersebut. Mereka menganggap gagasan Pemkot menjadikan Malioboro di citywalk Jl. Slamet Riyadi pada malam hari akan meramaikan pusat bisnis di kawasan tersebut. Selama ini mereka menilai kawasan citywalk pada malam sepi dan remang-remang.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
“Kalau memang dijadikan seperti Malioboro saya setuju karena nanti tambah ramai,” kata pengelola Toko Getuk Semar, Lestari.
Dia pun memiliki keinginan akan membuka operasional toko hingga malam hari. Selama ini toko yang menjajakan oleh-oleh tersebut hanya beroperasi dari pukul 07.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. “Kalau malam di sini sepi, jadi memang kami buka hanya sampai sore hari,” katanya.
Dukungan yang sama disampaikan pemilik Toko Bunga Purworedjo, Tri Widaryatmi, yang menyambut baik rencana Pemkot tersebut. Baginya dan pelaku usaha lainnya menilai kawasan citywalk di malam hari akan lebih ramai dibandingkan saat ini. “Jelas akan ramai sekali kalau memang benar itu [citywalk dikonsep  ala Malioboro] direalisasikan,” katanya.
Para pelaku usaha juga memberikan apresiasi kepada Pemkot yang menata kawasan citywalk jauh lebih baik. Toko-toko di kawasan citywalk sisi selatan kini lebih terlihat dari jalan raya. Sebelumnya citywalk tertutup pepohonan dan tidak terlihat dari jalan utama Kota Solo tersebut.
Rencana Pemkot menghidupkan citywalk Jl. Slamet Riyadi pada malam hari disambut positif kalangan legislatif. Rencana citywalk sebagai lokasi untuk menampilkan berbagai macam suvenir dinilai dapat membiasakan masyarakat untuk berjalan kaki. Banyaknya potensi usaha masyarakat kecil menengah di Kota Solo dapat diberikan ruang untuk menunjukan hasil karyanya yang berdampak pada daya tarik wisata khusunya wisata malam Kota Solo.
Ketua Komisi II DPRD Solo, Y.F. Sukasno, mengatakan apa yang direncanakan Pemkot merupakan hal positif dikarenakan selama ini citywalk beberapa kali pernah dicoba sebagai lokasi untuk menampilkan hasil karya usaha mikro kecil dan menengah dan berbagai kesenian.
”Citywalk kan sudah memiliki fasilitas yang baik, kursi juga sudah ada. Nantinya, mungkin akan menjadi sebuah ruang untuk menampilkan hasil karya terpanjang di Indonesia sehingga para pejalan kaki juga bisa turut menikmati apa yang disajikan di citywalk,” ujarnya.
Ia menambahkan dalam pelaksanaan harus memerhatikan penataan secara matang sehingga tidak ada kesan yang kurang baik. Menurutnya, dengan adanya hasil karya yang ditampilkan tidak hanya batik yang selama ini menjadi ikon Kota Solo melainkan kerajinan sangkar burung dan lukis kaca akan menjadi daya tarik wisata yang lebih baik dibandingkan dengan kawasan Malioboro, Jogja, yang tidak terlalu luas.
Menurutnya, untuk mengemas kawasan citywalk menjadi lebih menarik dapat dikonsep dengan kawasan Jl. Gatot Subroto yang kini telah banyak mural yang memperindah kawasan kota. Nantinya, kawasan tersebut dapat ditambah dengan jaringan wifi sehingga masyarakat yang bersantai atau melakukan swafoto dapat semakin nyaman dengan adanya jaringan wifi ditambah dengan penerangan yang memadahi di setiap lokasi.
Lokasi yang dekat dengan pusat kuliner seperti beberapa lokasi di kawasan Sriwedari, Ngarsopuro, dan Kelurahan Keprabon juga menjadi kelebihan tersendiri. Sehingga pedagang yang berjualan di citywalk difokuskan pada penjualan suvenir dan berbagai hasil kerajinan potensi Kota Solo.
Ia menambahkan untuk menjaga kawasan citywalk tidak terkesan kumuh diperlukan petugas kebersihan khusus yang menangani kawasan citywalk. Selain itu, diperlukan kesepakatan bersama seluruh elemen untuk berkomitmen menjaga kebersihan agar citywalk tetap terjaga kebersihannya. (Ichsan Kholif Rahman/JIBI)