NYAWA KORBAN TAK TERTOLONG Cari Kayu Bakar, Perempuan Diserang Gerombolan Tawon

SRAGEN—Maksud hati ingin mencari kayu bakar, Ngatinem, 55, warga Dusun Dukuh, Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, justru meninggal dunia dengan cara mengenaskan setelah diserang segerombolan tawon, Minggu (2/12).
Kisah tragis itu bermula ketika Ngatinem bermaksud mencari kayu bakar di sebuah kebun milik almarhum Manto Saimin pada Sabtu (1/12) sore sekitar pukul 15.00 WIB. Kebun seluas sekitar 1.500 meter persegi itu bertahun-tahun dibiarkan tidak terawat karena semua ahli waris dari Manto Saimin berdomisili di luar daerah. Mengetahui ada kayu yang sudah kering di kebun itu, Ngatinem bermaksud memotongnya dengan parang. Namun, tanpa sengaja potongan kayu itu menimpa sarang tawon yang berada di permukaan tanah. Nahas, gerombolan tawon yang belum diketahui jenisnya itu langsung keluar dari sarang dan menyerang Ngatinem secara membabi buta.
Gerombolan tawon itu awalnya menyengat bagian kepala. Ngatinem lantas melepas pakaian bagian atas lalu mengibas-ngibaskannya untuk mengusir gerombolan tawon yang menyerangnya. Namun, gerombolan tawon justru bertambah beringas. Tidak hanya bagian kepala, tawon itu menyengat sekujur tubuhnya. Merasa kewalahan menghadapi serangan tawon, Ngatinem sempoyongan berlari untuk menyelamatkan diri. Malang baginya, gerombolan tawon itu tetap mengejar Ngatinem yang berlari menuju rumahnya. Jarak rumah Ngatinem dengan kebun itu sebetulnya mencapai lebih dari 100 meter. Akan tetapi, masih ada puluhan tawon yang mengejar Ngatinem hingga masuk ke dalam rumah. Sesampainya di rumah, Ngatinem kemudian ditolong suaminya, Trisno Sukarno, 60, dibantu tetangganya.
“Sekujur badannya penuh bentol. Kami langsung membawanya ke bidan desa. Setelah dikasih obat, bentolnya mulai menyusut meski masih ada bekasnya. Tapi, dia terus mengeluhkan rasa sakit di kepala dan perut,” ujar Parti, adik Ngatinem saat ditemui Koran Solo di rumahnya, Senin (3/12).
Sepanjang malam, Ngatimen terus merintih kesakitan. Dia merasa tidak kuat menahan sakit di kepala dan perutnya. Namun, pada saat itu pihak keluarga tidak terlalu khawatir dengan kondisi Ngatinem. Mereka merasa yakin Ngatinem segera sembuh setelah ia beristirahat. Sayang, prediksi keluarga meleset. Kondisi kesehatan Ngatinem memburuk pada Minggu pagi pukul 06.00 WIB. Keluarga lantas memanggil bidan desa, tapi Ngatinem malah tidak sadarkan diri dua jam kemudian. Keluarga pun membawa Ngatinem ke rumah sakit. Ia akhirnya mengembuskan napas terakhirnya di perjalanan menuju rumah sakit, tepatnya di kawasan Taraman.
“Saat jenazah dibawa pulang, pihak keluarga masih belum yakin 100% bila ibu Ngatinem sudah meninggal dunia. Mereka masih sulit percaya kalau sengatan tawon bisa menyebabkan kematian. Pihak keluarga lalu kembali memanggil tim medis untuk memeriksa Ngatinem. Setelah itu pihak keluarga baru percaya kalau Bu Ngatinem benar-benar sudah meninggal dunia. Jenazah akhirnya dimakamkan pada Minggu siang pukul 12.30 WIB,” papar Ketua RT 07, Dusun Dukuh, M. Husnul Aziz. (Moh. Khodiq Duhri)