Topi Pintar untuk Tunanetra

PONOROGO—Kelak tongkat untuk alat bantu berjalan bagi para tunanetra akan menjadi barang usang dan digantikan dengan teknologi yang lebih canggih. Ide itu bahkan telah direalisasikan oleh dua siswa SMA di Ponorogo, Jawa Timur.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 4
Adalah Karvian Setio Aji, 18, dan Muhammad Huda, 17, siswa SMA Muhammadiyah Ponorogo yang berhasil berinovasi dengan membuat topi pintar untuk tunanetra. Fungsinya mirip dengan tongkat bagi para penyandang tunanetra, yaitu penunjuk arah.
”Kami terinspirasi dari kakak kelas kami yang tunanetra, sering terantuk kena kepalanya saat melewati lorong atau bawah tangga,” tutur Karvian, Senin (3/12).
Dari sini Karvian bersama Huda berinisiatif membuat sesuatu yang dapat membantu para tunanetra agar tak mengalami kesulitan.
Belakangan muncul ide memanfaatkan topi yang dilengkapi sensor yang dapat mendeteksi benda di sekitar penyandang tunanetra.
Butuh waktu selama 1,5 bulan untuk Karvian dan Huda membuat topi yang dilengkapi infra merah, panel surya, IC controller arduino, buzzer, lampu led, dan konektor USB tersebut. Topi yang kemudian diberi nama Topi Pintar ini diklaim dapat mendeteksi benda di depan penggunanya sejauh 1,5 meter serta benda di kanan kiri pengguna sejauh 20 cm. Tak bisa diatur sesuai dengan kebutuhan.
Karvian menambahkan topi yang dibuat dengan menghabiskan dana Rp750.000 itu dapat dipakai selama 1,5 jam di dalam ruangan dan 2 jam di luar ruangan karena dilengkapi panel surya. Menariknya, topi ini juga dilengkapi dengan alarm. Ini untuk mengantisipasi bila sewaktu-waktu si pemilik lupa meletakkan topi pintarnya. Pemilik tinggal bersiul dan topi tersebut akan “membalas” panggilan si pemilik. ”Jadi cara pakainya topi dipakai nanti ada alarm yang berbunyi jika ada benda diatas atau didepan kepala pemakai,” terang Karvian.
Kelebihan lain dari topi ini, lanjut Karvian, adalah bisa menjadi USB konektor untuk charger HP dan panel LED agar orang lain bisa waspada dengan si pemilik topi saat berjalan di malam hari. ”Karena masih dalam tahap pengembangan sehingga belum tahan air,” tambah Karvian.
Ditambahkan Karvian, mereka sempat menemui beberapa kendala saat membuat topi pintar tersebut, semisal saat memprogam arduino dan buzzer yang berulang kali rusak saat dicoba. ”Paling sulit menginput progam untuk penambahan alat lainnya seperti penambahan pengisi daya serta deteksi siul untuk mencari topi dan pengisian daya melalui panel surya,” jelasnya.
Namun upaya Karvian dan Huda seolah tak sia-sia ketika topi bikinan mereka mendapatkan pujian. Salah satu penyandang tunanetra yang mencoba memakai topi ini mengaku terbantu dengan alat ini.
”Ya terbantu, apalagi di tempat baru biasanya terbentur tembok. Kalau ini kan ada warning jadi kepala saya tidak sampai terantuk,” ungkap si penyandang tunanetra, Nabiel Ghaly Azumi.
Hasil karya siswa kelas XI dan XII ini berhasil menyabet Best Speaker dalam lomba karya ilmiah populer pesta sains nasional yang digelar di Institut Pertanian Bogor pada 25 November silam. (Detik/JIBI)