Duka Proyek Trans Papua

KELUARGA KORBAN: Keluarga korban mendatangi Kodim 1702 Jayawijaya untuk mengetahui kondisi keluarga mereka yang diduga menjadi korban penembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kabupaten Nduga, Papua, Selasa (4/12).

JAYAPURA—Indonesia berduka. Kelompok kriminal bersenjata (KKB) membunuh 31 pekerja proyek jembatan PT Istaka Karya jalur Trans Papua di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua.

redaksi@koransolo.co.id

Satu pekerja lagi belum diketahui nasibnya setelah berhasil lolos dari kejaran kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) tersebut. Tidak hanya itu, KKB juga menyerang Pos TNI Yonif 755/Yalet di Mbua, Nduga, yang menyebabkan seorang anggota TNI gugur dan satu terluka. Polisi mengatakan pembunuhan 31 pekerja dilakukan KKB pimpinan Egianus Kagoya.
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. Ahmad Musthofa Kamal, mengatakan saat ini 153 personel TNI-Polri telah dikerahkan ke Distrik Yigi untuk mengejar para pelaku pembunuhan.
”Dilakukan oleh KKB pimpinan Egianus Kogoya. Dari keempat orang [korban selamat] tersebut didapatkan keterangan bahwa Pos TNI yang berada di Distrik Mbuma telah hancur diserang. Personel gabungan TNI-Polri sebanyak 153 orang telah sampai di Distrik Mbuma, yang merupakan distrik terdekat dengan TKP [tempat kejadian perkara], di Distrik Yigi,” kata dia dalam siaran pers, Selasa (4/12).
Tragedi itu diduga dipicu kemarahan KKB terhadap para pekerja. Mereka marah karena para pekerja merekam aktivitas kelompok tersebut saat merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) OPM, Sabtu (1/12) lalu. Dilansir Solopos.com, peristiwa bermula dari aktivitas KKB di dekat kawasan proyek jembatan, yaitu sekitar Kali Yigi pada Sabtu.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
Namun, aktivitas itu terlihat oleh para pekerja yang kemudian merekam momen tersebut. Saat itu, ada pengibaran bendera bintang kejora yang merupakan simbol OPM.
Sadar aktivitas mereka direkam, anggota kelompok itu kemudian marah dan terjadi cekcok dengan para pekerja. Cekcok itu berujung penembakan yang menyebabkan 24 orang pekerja meninggal dunia di tempat.
Sementara itu, sejumlah pekerja lainnya melarikan diri ke rumah-rumah warga sekitar, termasuk rumah anggota DPRD. Namun, KKB itu mengejar mereka dan kembali membunuh tujuh orang sehingga total ada 31 orang yang meninggal dunia. Selain itu, masih ada satu orang lainnya yang belum diketahui nasibnya.
Data yang dihimpun Antara menyebutkan Pendeta Wilhelmus Kogoya, tokoh gereja di Distrik Yigi, melaporkan kasus pembunuhan di Kali Yigi dan Kali Aurak Distrik Yall Kabupaten Nduga yang menewaskan 24 pekerja. Dari laporan tersebut, terungkap dua pekerja melarikan diri dan selamat, dan kini berada di Distrik Mbua. Sementara delapan lainnya di Distrik Yall diselamatkan keluarga Alimi Gwijangge yang menjabat Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Nduga dan dibawa ke Distrik Koroptak dalam keadaan selamat.
Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih, Kolonel (Inf) Muhammad Aidi, mengatakan prajurit TNI bersama Polri akan terus mengejar para pelaku penembak pekerja di Distrik Yall, Kabupaten Nduga.
”Yang jelas Kodam Cenderawasih tetap melaksanakan penindakan, kami akan cari, kejar sampai di mana pun mereka berada,” katanya ketika dimintai konfirmasi dari Kota Jayapura, Papua, Selasa.
Menurut dia, personel TNI yang ada di pegunungan tengah Papua, terutama yang berada di Kabupaten Jayawijaya akan membantu personel Polri yang melakukan pengejaran terhadap para pelaku pembunuhan pekerja jembatan di Kali Yigi dan Kali Auruk, Kabupaten Nduga.
Wakapendam XVII/Cendrawasih, Letkol (Inf) Dax Sianturi, mengatakan pada pukul 17.55 WIT, pasukan gabungan berhasil mengamankan empat orang karyawan PT Istaka Karya, perusahaan yang mengerjakan proyek Trans Papua. Dari empat orang itu, tiga pekerja mengalami luka tembak dan satu lainnya dalam keadaan sehat.
Selain itu, dia mengungkapkan berhasil mengamankan enam orang pekerja puskesmas di Distrik Mbua, tanpa luka-luka, serta dua orang pekerja di sebuah SMP di distrik yang sama. Total ada 12 orang yang semuanya dievakuasi ke Wamena menggunakan helikopter. ”Pukul 17.55 [WIT], pasukan gabungan berhasil mengevakuasi 12 masyarakat sipil ke Wamena menggunakan pesawat heli,” ucap Dax dalam keterangannya.
Di sisi lain, evakuasi jenazah anggota TNI Yonif 755/Kostrad, Sersan Handoko, yang menjadi korban penembakan KKB di Pos Yalet, Distrik Mbua, ditunda. Evakuasi bakal dilanjutkan Rabu (5/12) ini. ”Mengingat kondisi alam, sore ini evakuasi anggota TNI ditunda karena sudah dan akan dilanjutkan besok,” kata Dax.
Dia mengatakan cuaca di lokasi selalu berubah-ubah. Menurutnya, helikopter yang sudah disiapkan juga belum bisa digunakan untuk evakuasi. ”Semoga besok pagi [hari ini] kami bisa evakuasi. Kalau pun memungkinkan subuh hari kami evakuasi jalur darat. Semoga saja segera bisa kita evakuasi untuk kemudian bisa dimakamkan secara terhormat sebagai pasukan yang gugur dalam tugas,” sambungnya.
Terkait senjata KKB, Muhammad Aidi mengatakan mereka memiliki senjata api ilegal. Dari data intelijen, senjata yang dimiliki kelompok tersebut berasal dari rampasan TNI-Polri dan ada yang diduga berasal dari luar negeri.
”Ya senjata api. Kami punya data bahwa mereka memang memiliki senjata api. Jumlahnya secara pasti kami belum tahu. Itu yang belum kami dapatkan informasi berapa kekuatannya dan senjatanya apa saja. Hanya data awal saja, bahwa memang ada di antara mereka itu membawa atau ada kepemilikan senjata secara ilegal,” kata Aidi di Jakarta.
”Senjata standar militer dan jumlahnya puluhan. Kan standar militer, standar NATO. Sebagian senjata api itu diambil dari hasil rampasan terhadap TNI-Polri di pos-pos. Sebagian juga yang selama ini berhasil kita sita, senjatanya ada saat kontak tembak, ada yang indeks TNI, Polri, ada juga yang bukan indeks TNI-Polri. Artinya berasal dari luar,” ungkap Aidi.
Menko Polhukam, Wiranto, mengecam pembunuhan 31 pekerja pembangunan jembatan di Papua. Dia menilai aksi itu sangat biadab. ”Saya kira itu suatu aksi yang sangat biadab. Karena ini teman-teman kita sedang membangun infrastruktur, membangun jembatan untuk kesejahteraan masyarakat. Artinya apa? Artinya mereka sudah berbakti berjuang untuk kebaikan Papua, kebaikan masyarakat Papua,” ucap Wiranto di kantornya.
Dia telah bicara dengan Kapolri dan Panglima TNI untuk mengejar pelaku pembunuhan di Papua tersebut habis-habisan. ”Jadi tadi saya sudah bicara dengan Kapolri, Panglima TNI untuk segera dilakukan pengejaran yang habis-habisan. Supaya apa? Supaya tak terulang lagi. Ya habis-habisan, sampai ketemu,” kata Wiranto.
Menko Polhukam menyatakan perbuatan yang dilakukan KKB ingin menakuti masyarakat agar pembangunan tidak berjalan. ”Upaya mereka kan untuk menakut-nakuti, agar pembangunan tak berjalan ini justru mengganggu kepentingan masyarakat Papua sendiri.”
Jalan Terus
Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, menegaskan proyek pembangunan jalan Trans Papua akan terus berlanjut. ”Pembangunan Jalan Trans Papua akan jalan terus. Untuk kasus pembunuhan itu, nanti akan ada tindakan lebih lanjut dari aparat keamanan. Tapi pembangunan lanjut terus,” ujar dia di Kantor Kementerian PUPR, Jakarta, Selasa.
Dia menjelaskan lokasi kasus pembunuhan pekerja PT Istaka Karya terletak di Segmen V proyek Jalan Trans Papua ruas Wamena-Habema-Kenyam-Mamugu sepanjang 278 km. Di ruas tersebut, pemerintah turut menggandeng dua badan usaha yakni PT Istaka Karya (Persero) dan PT Brantas Abipraya (Persero) dalam membangun sebanyak 35 jembatan. ”Istaka karya ditugaskan bangun 14 jembatan, 11 jembatan sedang dalam pekerjaan. Brantas Abipraya 21 jembatan, 5 jembatan sudah dalam pelaksanan,” terang dia.
Untuk lokasi kerja yang menjadi lahan Istaka Karya, Basuki menegaskan itu sebenarnya bukan merupakan titik rawan utama. ”Daerah yang rawan sebenarnya ada di daerah Brantas, makanya dihentikan. Belum ada rekomendasi, sehingga belum dikerjakan,” sambungnya.
”Di Istaka, di km 103 di kalo Yigi dan Kali Aurak sebenarnya sudah aman. Istaka juga sudah menyatu dengan warga. Menurut informasi Kepala Balai di sana, warga menjamin keamanan pekerja Istaka Karya,” dia menambahkan.
Untuk perkembangan proyek, Basuki melaporkan pembangunan Jalan Trans Papua sudah mencapai 72 persen. Sementara untuk pembangunan jembatan di Segmen V, sambungnya, kini sudah sekitar 70 persen. ”Jembatan-jembatan yang ada di Segmen V progresnya sudah sekitar 70 persen. Jalannya sudah tembus, tinggal jembatan. 14 unit jembatan untuk sementara disetop, tapi tidak menghentikan program pembangunan jalan,” tutur dia. (Detik/Liputan6.com/JIBI)