KERUSAKAN INFRASTRUKTUR Berlumpur, Jalan Bayanan-Jekawal Membahayakan

Sragen—Kondisi jalan antardesa yang menghubungkan Bayanan-Jekawal, tepatnya di kawasan Sokorejo, Ngepringan, Jenar, Sragen, dikeluhkan warga sekitar dan pengguna jalan. Banyaknya lumpur yang menumpuk di lokasi membuat kondisi jalan itu menyerupai arena offroad.
Pantauan Koran Solo di jalan itu, Selasa (4/12), setidaknya ada tiga lokasi jalan yang dipenuhi lumpur. Sejumlah pengguna jalan baik roda dua maupun roda empat harus ekstra hati-hati melewati jalan itu. Bila diguyur hujan, jalanan itu membahayakan pengguna jalan lantaran cukup licin.
“Korbannya sudah banyak sekali. Kebanyakan pelajar dan buruh pabrik. Mereka berangkat dari rumah sudah memakai seragam, tapi belum sampai sekolah atau pabrik sudah terjatuh di sini. Otomatis pakaian dan sepatu mereka jadi kotor. Ada yang nekat tidak sekolah karena seragamnya telanjur kotor setelah terjatuh di lumpur,” ucap Riswanto, 52, warga Dusun Ngampo, Desa Ngepringan, Jenar, saat ditemui di lokasi.
Meski berstatus jalan antardesa, lalu lintas jalan itu ramai karena menjadi jalur alternatif penghubung Kecamatan Tangen dan Kecamatan Jenar. Menurut Riswanto, kerusakan jalan itu sudah terjadi sejak setahun terakhir. Sebetulnya, permukaan jalan itu sudah dibeton. Namun, kondisinya retak-retak setelah dilintasi kendaraan berat yakni truk dump pengangkut material galian C berupa tanah uruk. Kebetulan tak jauh dari lokasi terdapat tempat penambangan galian C.
“Karena betonnya sudah retak-retak dan bergelombang, jalan itu diuruk tanah supaya bisa dilewati truk dump. Kalau musim kemarau tidak menjadi persoalan. Kalau musim hujan sudah pasti jadi masalah. Kasihan pengguna jalan yang kerap terjatuh karena melewati lumpur,” ucap Riswanto.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Sragen, Marija, mengaku sudah menerjunkan tim untuk menyurvei jalan Bayanan-Jekawal. Menurutnya, kondisi jalan berlapis beton itu sebagian masih baik. Kendati begitu, ada banyak lumpur tercecer di permukaan jalan sehingga kondisi jalan menjadi licin. Marija tidak membenarkan langkah awak truk dump yang menutup lubang jalan dengan timbunan tanah. “Wah itu tidak bisa dibenarkan. Kalau mau menutup lubang ya pakai sirtu [pasir dan batu]. Bukan memakai tanah karena bisa membahayakan pengguna jalan,” papar Marija saat ditemui di kantornya.
Marija sudah menjalin komunikasi dengan camat dan kepala desa setempat. Rencananya, pada Jumat (7/12), warga sekitar akan diajak bekerja bakti untuk membersihkan lumpur. Dalam hal ini, DPUPR akan mengirimkan satu unit backhoe untuk membantu warga menyingkirkan lumpur.
“Besok [hari ini], satu unit backhoe sudah ada di lokasi. Jumat baru kerja bakti membersihkan lumpur. Tapi, yang terpenting itu pengendalian galian C dulu. Sopir truk dump harus diperingatkan supaya tidak menimbun tanah di jalan yang rusak. Percuma jalan dibersihkan kalau galian C itu tidak ditertibkan,” tegas Marija. (Moh. Khodiq Duhri)