Malioboro Solo Lebih Pas untuk Jl. Gatot Subroto

ICHSAN KHOLIF RAHMAN

SOLO—Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menata kawasan city walk Jl. Slamet Riyadi dengan konsep Jl. Malioboro Jogja dinilai kurang pas. Akademisi menilai penataan itu lebih tepat untuk Jl. Gatot Subroto.
Dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret, Kusumaningdyah Nurul, kepada Koran Solo, Selasa (4/12), mengatakan ada perbedaan tipe antara Jl. Slamet Riyadi dengan Jl. Malioboro. “Jl.Slamet Riyadi telah menjadi karakter Kota Solo dengan pohon yang rindang. Apabila hendak dijadikan seperti Malioboro maka harus dilihat dulu apakah Jl. Slamet Riyadi itu central business district (CBD). Memang benar Jl. Slamet Riyadi itu CBD namun tipenya jelas berbeda dengan kawasan Malioboro,” ujarnya.
Menurutnya, di kawasan Malioboro CBD terdapat berbagai karakter bisnis baik kelas bawah, menengah, hingga kelas atas. Berbeda dengan CBD di kawasan city walk Jl. Slamet Riyadi yang merupakan k awasan perkantoran besar yang monoton, bukan tempat bisnis ritel kecil.
Ia menambahkan justru kawasan Jl.Gatot Subroto yang lebih menyerupai kawasan Malioboro. Lebar jalan yang memisahkan kawasan pertokoan dengan jarak sekitar 12 meter dan pertokoan dengan muka yang tidak terlalu lebar lebih mendukung dan membuat seluruh kelas masyarakat dapat masuk.
“Kalau bisa ada komunitas yang dapat menghidupkan kawasan Gatot Subroto, dapat membuka kawasan, terkawal oleh pemerintah, dan sustainable. Saat ini Pemkot luar biasa telah memfasilitasi secara fisik namun juga harus sustainable dan menjaga kelangsungannya. Seluruh elemen harus kerja bersama tidak bisa hanya sebatas fisik. Kalau diisi penjual makanan saya rasa akan lebih bertahan di Jl. Gatot Subroto semisal satai kere,”ujarnya. Ia menambahkan Jl.Slamet Riyadi lebih baik menjadi ruang terbuka yang rindang dengan hiasan bangunan heritage Kota Solo yang elegan.
Terpisah, Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengatakan beberapa aturan akan diterapkan dalam rangka mewujudkan penataan ala Malioboro di city walk Jl. Slamet Riyadi. “Kami akan buat seperti di beberapa negara lain, pedagang tidak boleh bawa perkakas yang bikin kumuh. Habis jualan juga harus bersih,” kata Rudy, sapaan akrabnya, ketika berbincang dengan Koran Solo, Selasa.
Pemkot Solo juga bakal menyeleksi pedagang yang berjualan di area city walk, yaitu khusus menjajakan aneka suvenir hasil kerajinan tangan para pengrajin Solo. Konsep ala Malioboro ini hanya akan dilaksanakan pada malam hari untuk menghidupkan city walk di malam hari.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Solo, Endah Sitaresmi Suryandari, mengatakan penataan city walk Jl. Slamet Riyadi akan dilanjutkan tahun depan. Proyek penataan ruang publik berupa drainase dan taman kota terpaksa dilakukan per segmen karena keterbatasan anggaran. Pada tahun ini, penataan dikerjakan di segmen Gladak hingga timur Nonongan. Kemudian tahun depan dilanjutkan di segmen barat Rumah Sakit Slamet Riyadi. (Indah Septiyaning W./JIBI)