PEMBUNUHAN BOYOLALI Keluarga Eka Ingin Tersangka Dihukum Mati

BOYOLALI—Pihak keluarga Eka Rahma Aprilianti, 24, korban pembunuhan di Boyolali pada Minggu (2/12) menginginkan tersangka Fajar Sigit Santoso, 19, dihukum mati. Mereka menilai perbuatan tersangka terhadap korban sangat keji, apalagi korban adalah orang baik.
Agus Trimo, 42, sepupu Eka, mengatakan perbuatan tersangka menghilangkan nyawa saudaranya membuat orang tua mengalami kehilangan dan kesedihan mendalam. “Utang nyawa dibayar dengan nyawa,” ujarnya saat ditemui di Mapolres Boyolali, Selasa (4/12).
Agus yang tinggal berdekatan dengan rumah korban di Dukuh Ngadigung, Desa/kecamatan Windusari, Magelang itu mengenal baik Eka. Menurutnya, Eka yang merupakan lulusan Universitas Sains Alquran (Unsiq) Wonosobo itu semasa hidupnya merupakan sosok penyayang dan supel. Eka juga orang jujur sehingga tidak pernah berprasangka orang akan berbuat jahat terhadapnya. Makanya, lanjut Agus, ketika Eka diajak pergi oleh pelaku untuk membicarakan masalah utang-piutang, diyakini Eka tidak curiga. “Eka orang baik, sehingga ketika dia meninggal dengan cara dibunuh, kami tidak bisa menerima begitu saja,” imbuh Agus.
Ungkapan senada disampaikan sepupu Eka lainnya, Ahmad Abdul Khadik, 22. Dia meminta tersangka yang merupakan warga Dukuh Waru, Kelurahan Kemiri, Mojosongo, Boyolali, itu dihukum mati. “Harus dihukum mati,” ungkapnya.
Khadik merasa geram terhadap tersangka karena pada saat pihak keluarga berada di Rumah Sakit Umum Daerah Pandan Arang (RSUDPA), tempat korban disemayamkan sementara, tersangka juga ada dan seolah-olah ikut bersimpati. “Saya sempat ditepuk-tepuk punggungnya oleh tersangka sambil menyuruh saya bersabar. Ini yang membuat saya sangat geram,” kata dia.
Pihaknya berjanji akan mengawal proses hukum kasus pembunuhan anggota keluarganya itu hingga tuntas dan memenuhi rasa keadilan. Sementara itu, Agus dan Khadik datang ke Mapolres Boyolali bersama lima orang lainya untuk mengambil barang-barang milik Eka yang sudah tidak diperlukan lagi dalam penyelidikan polisi.
Mereka juga sempat melihat sosok tersangka di sel tanahan Mapolres. Saat itu mereka meluapkan kekesalan dan kemarahan dengan berteriak dan memaki tersangka. “Kami belum puas tapi kami merasa sedikit lega sudah bisa melihat tersangka di dalam [sel],” ujar salah satu anggota keluarga Eka.
Sementara itu, Kasatreskrim Polres Boyolali KP Willy Budiyanto mewakili Kapolres AKBP Aries Andhi mengatakan pihaknya terus memeriksa tersangka. “Kami terus periksa tersangka dan saksi-saksi agar ini semua cepat selesai,” kata Willy.
Pada sisi lain, kecepatan anggota tim Polres dalam mengungkap pelaku pembunuhan (dalam waktu 8 jam) mendapat apresiasi Kapolres. Mereka mendapatkan penghargaan dari Kapolres dalam upacara yang digelar Senin (3/12) di halaman Mapolres setempat.
Kapolres mengatakan penghargaan tersebut merupakan bagian dari apresiasi pimpinan kepada anggota, serta memacu semangat kerja anggota lainnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Eka Rahma Aprilianti, 24, warga Magelang, ditemukan tak bernyawa Minggu, di sebuah kebun di Dukuh Banjarsari, Kelurahan Kemiri, Kecamatan Mojosongo, Boyolali. Pada hari yang sama, polisi menangkap pelaku, yakni Fajar Sigit Santoso, 19 di RSUDPA Boyolali, tempat korban disemayamkan sementara. (Akhmad Ludiyanto)