Komunikasi Macet, Karyawan PTPN IX Unjuk Rasa

Koran Solo/Sunaryo Haryo Bayu
UNJUK RASA: Karyawan PTPN IX berunjuk rasa di Kantor PTPN IX, Jl. Ronggowarsito, Solo, Kamis (6/12). Para karyawan menuntut hak-hak kepada perusahaan dan menolak rencana penutupan beberapa pabrik gula.

KURNIAWAN

SOLO–Lebih kurang 150 anggota serikat pekerja perkebunan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX melakukan aksi unjuk rasa di halaman Kantor PTPN IX di Solo, Kamis (6/12) pagi hingga siang. Mereka memprotes pembayaran gaji bulanan yang kerap terlambat, dan menolak kebijakan penutupan pabrik-pabrik gula di wilayah PTPN IX. Saat ini sudah ada tiga pabrik gula di wilayah PTPN IX yang ditutup lantaran dinilai kurang berkinerja baik dalam beberapa waktu terakhir. Apalagi penutupan tiga pabrik tersebut berpotensi berlanjut dengan penutupan pabrik-pabrik yang lain.
Bersambung
ke Hal. 6 Kol. 4
Pantauan Koran Solo unjuk rasa berlangsung tertib. Sejumlah pengunjuk rasa menyampaikan beberapa tuntutan dan aspirasi kepada direksi PTPN IX dan pemerintah. Salah satunya stabilisasi harga gula demi kelangsungan industri gula nasional.
Ketua UMum SP Perkebunan Nusantara IX, Sentot Suparno, saat diwawancarai Koran Solo mengatakan aksi serupa telah dilakukan di Jatim dan Lampung beberapa pekan lalu. Aksi SP dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap langkah penutupan pabrik-pabrik gula BUMN. Alasannya kebijakan itu tidak menunjukkan hasil signifikan bagi kebaikan perusahaan. Justru kondisi keuangan perusahaan terus menurun. ”Maka saran kami harus kembali ke konsep awal. Merevitalisasi pabrik, menambah bahan baku tebu, dan membenahi manajemen,” terang dia.
Sentot menambahkan ada kebuntuan komunikasi manajemen terkait produktivitas dan hak-hak karyawan. Direksi PTPN IX dinilai kurang menghormati rambu-rambu hubungan industrial dan menelantarkan hak-hak karyawan. “Hak-hak karyawan yang termaktub di PKB 2018 sebagian besar belum terbayarkan. Ditambah lagi dengan gaji yang sering terlambat setahun ini. Seingat saya setahun ini baru satu hingga dua kali tepat waktu. Harusnya dibayar tiap tanggal 25, tapi pernah sampai tanggal tujuh bulan berikutnya. Bisa dibayangkan dampaknya bagi karyawan,” dia menerangkan.
Padahal gaji karyawan golongan I hanya sekitar Rp2,5 juta per bulan, dan mayoritas karyawan PTPN IX golongan I. “Bila kebetulan anak atau istri sakit, atau butuh untuk bayar sekolah, mereka telantar. Maka kami lakukan dialog dengan manajemen. Tapi karena tidak ada titik temu lahirlah aksi ini. Ke depan harus introspeksi diri,” kata Sentot. Dia meminta induk perusahaan bertanggung jawab terhadap anak perusahaannya. Induk perusahaan diminta tidak hanya mengejar untung sedang anak perusahan yang tak bisa memberikan keuntungan disikat. Sebab menurut Sentot kondisi PTPN IX terlanjur terpuruk. Perusahaan butuh proses pemulihan kondisi internal terlebih dulu.
“Kepada penentu kebijakan mohon kebijakan industri nasional harus mendukung kemandirian industri gula nasional menuju swasembada gula nasional. Bukan malah pabrik ditutup terus impor kian parah, atau muncul pabrik baru swasta, impor gula setengah jadi dan sebagainya. Itu berdampak sangat besar,” sambung dia.
Ditanya tiga pabrik gula yang sudah ditutup beberapa waktu terakhir ini, Sentot menyebut nama PG Jati Barang Brebes, PG Sumberharjo Pemalang, dan PG Gondang Baru Klaten. Pabrik-pabrik itu ditutup karena dinilai merugi dan bahan baku menyusut. Padahal bahan baku menyusut tak lepas dari dampak kebijakan impor yang dibuka lebar. Penutupan tiga PG itu menurut Sentot membuat karyawan PTPN Nusantara IX khawatir akan nasib mereka. Apalagi induk perusahaan menyebut pabrik-pabrik lain yang merugi, tidak memberikan kontribusi keuntungan, dan kapasitas produksi kurang dari 4.000 TCD, akan ditutup. Padahal produksi seluruh PG masih kurang dari 4.000 TCD.
Sedangkan Direktur Komersial PTPN IX, Rudi Harjito, mengatakan aspirasi dan tuntutan para pengunjuk rasa menjadi perhatian utama manajemen perusahaan. Sebab penyikapan terhadap aspirasi karyawan penting bagi kelangsungan PTPN IX. Tapi dia menyatakan kondisi yang di hadapi perusahaan butuh solusi bersama.
“Kondisi pergulaan nasional saat ini kebijakannya memang perlu ditata kembali, perlu dibuatkan re yang lebih baik lagi. Saya berharap ini hanya sementara waktu karena faktor politis yang menyebabkan harga kebutuhan pokok tidak naik bahkan turun. Yang pasti kita punya niat yang sama memajukan perusahaan ini,” dia menerangkan.
Rudi menyatakan akan menyampaikan aspirasi dan tuntutan para karyawan kepada induk PTPN IX. “Segera selesaikan di pekan pertama. Ini prioritas ya, teman-teman golongan I dan II saya selesaikan segera. Perlu diingat induk perusahaan tidak akan memberikan uang untuk inefisiensi. Maka dari itu ayo berlomba efisien,” tutur dia.(JIBI)