KUR Jateng Terbesar Nasional

WONOGIRI—Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di JawaTengah (Jateng) periode Januari–Oktober 2018 menempati posisi terbesar secara nasional yakni Rp20,4 triliun atau setara 17,5% dari total KUR nasional Rp113,6 triliun.

CAHYADI KURNIAWAN
redaksi@koransolo.co

Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, terus mendorong pembiayaan KUR untuk sektor produksi.
Deputi Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian, Iskandar Simorangkir, mengatakan tingginya pembiayaan untuk peternakan di Jateng didorong sumber pakan yang murah, ketersediaan air waduk, hingga pengelolaan badan usaha milik petani (BUMP) yang diakui secara internasional.
Ia menyebutkan penyaluran KUR di sektor peternakan rakyat juga disinergikan dengan penyaluran tanggung jawab sosial (CSR) BUMN dan perusahaan swasta nasional, yakni BRI dengan KUR Peternakan Rakyat senilai Rp3,2 miliar untuk 20 peternak sapi.
Lalu, Bank Mandiri menyalurkan Rp1,3 miliar untuk tujuh peternak di Wonogiri. BNI menyalurkan KUR Rp695 juta kepada 17 peternak dengan offtaker BUMP PT Pengayom Tani Sejagad (PTS). BNI juga menyalurkan pembiayaan Rp 4,5miliar kepada BUMP PT PTS sehingga menjadi KUR Peternakan Rakyat.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
Kemudian, Bank Jateng menyalurkan Rp2,1 miliar kepada 10 peternak dan pembiayaan Rp380 juta untuk lima petani dengan skema system resi gudang (SRG). Terakhir, Bank Sinarmas menyalurkan pembiayaan Rp1,3 miliar kepada 10 peternak.
“Total penyaluran hari ini Rp8,9 miliar untuk KUR Peternakan Rakyat dan Rp4,5 miliar untuk kredit korporasi petani dan pembiayaan SRG Rp380 juta,” kata Iskandar yang juga menjabat Sekretaris Komite Pembiayaan bagi UMKM/KUR dalam acara peluncuran KUR khusus peternakan rakyat di Desa Kebonagung, Sidoharjo, Wonogiri, Kamis (6/12).
Menko Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan data terbaru yang masuk penyaluran KUR tahun ini mencapai Rp113,6triliun. Penyaluran KUR terus meningkat sejak dibuat model KUR dengan suku bunga mulai dari 12% menjadi 7%. “Saya perkirakan tahun ini bergerak di Rp120 triliun dan tahun depan mungkin Rp140 triliun. Mungkin akan semakin banyak karena makin bervariasi yang ditawarkan ke sektor peternakan dan lainnya,” ujar Darmin.
Ia menceritakan pada 2015 dirumuskan KUR model baru dengan bunga ditetapkan 12%. Namun, realisasinya KUR banyak dinikmati sector perdagangan. Ia menghendaki alokasi KUR untuk produksi baik jasa, pertanian, dan lainnya. “Perkiraan kami, perdagangan butuh 30% KUR. Oleh karena itu, kami mulai atur pada 2016 naikkan 40% untuk sektor produksi, pada 2017 50% dan terus meningkat per tahunnya. Saat ini, capaian baru 43%,” ujar dia.
Gubernur Jawa Tengah, Gan­jar Pranowo, menyatakan di Jateng ada delapan lokasi peternakan yang siap menyerap KUR. Peternakan berjalan lama dan bekerja sama dengan Australia. Setiap tiga bulan sejumlah peternak dikirim ke Australia untuk belajar mengenai breeding (pembiakan), penggemukan, pembuatan pakan, dan manajemen. Tak hanya itu, bantuan sapi juga meningkat dari semula 20 ekor kini jadi 90-an ekor. Ganjar menilai  Wonogiri bias jadi model peternakan sapi di Indonesia. (JIBI)