PTPN Holding Revitalisasi 7 PG

JAKARTA—PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Holding akan merevitalisasi tujuh pabrik gula yang berpotensi meningkatkan skala ekonomi perusahaan hingga 2022.

Pandu Gumilar
redaksi@koransolo.co

Nilai investasi ketujuh pabrik gula itu senilai Rp13,7 triliun. Ketujuh pabrik gula (PG) tersebut adalah PG Cinta Manis, PG Bungamayang, PG Mojo, PG Rende, PG Gempolkrep, PG Jatiroto, PG Asem Bagus.
Direktur Utama PTPN Holding (Persero) Dolly Pulungan mengatakan arah perseroan ke depannya meningkatkan efisiensi dengan peningkatan kapasitas penggilingan pabrik gula. PTPN  hanya menjalankan pabrik gula dengan kapasitas minimum penggilingan 4.000 TCD dan kapasitas maksimalnya 10.000 TCD.
”Kalau mau kembangkan pabrik gula, efisiensi itu perlu mekanisasi. Memang teknologi modern memerlukan biaya besar. Tapi PTPN Holding secara bertahap akan merevitalisasi pabrik gula dan 2022 kami targetkan bisa capai target. Minimum pabrik gula yang dijalankan itu kapasitasnya 4.000 TCD baru bisa berkembang ke depan,” ujar dia di Jakarta, Kamis (6/12).
Dolly mengatakan yang saat ini sedang dalam tahap pengerjaan adalah PG Jatiroto dan PG Asem Bagus. Mesin giling yang masih layak akan dikombinasikan dengan mesin baru yang lebih efisien. Ada beberapa alat yang dipertahankan, tapi sebagian besar diganti atau ditambah.
Dolly berambisi target revitalisasi ini dapat selesai tepat waktu. Hal ini karena PTPN Holding harus bersaing dengan pabrik gula swasta yang mendapatkan alokasi impor gula mentah sehingga biaya produksi menjadi rendah. Sementara PTPN masih menjalankan pabrik gula dengan sistem padat karya atau banyak tenaga kerja dan menggunakan mesin lama sehingga biaya produksi menjadi sangat mahal, yakni Rp8.700/kg hingga Rp9.200/kg. Sementara biaya jual Rp9.100/kg. Akibatnya perseroan menjadi tekor.
”Dari total kapasitas giling saat ini 167.000 TCD kami akan tingkatkan jadi 202.000 TCD pada 2022 dan itu sudah disetujui Menteri BUMN,” papar dia.
Selain itu di sektor hulu, Dolly menargetkan terjadi perluasan areal tanam tebu dari total 195.000 hektare menjadi 240.000 hektare pada 2022. Menurut dia, tidak mungkin meningkatkan kapasitas penggilingan tidak disertai dengan penambahan areal tanam untuk mencukupi pasokan tebu.
PTPN sudah menyiapkan langkah untuk kerja sama dengan Perhutani, bermitra dengan petani atau mengakusisi lahan baru.
Menurut dia, Perhutani sudah mengalokasikan lahan seluas 8.000 hektare di Jawa Timur dan 1.800 hektare di Jawa Tengah untuk menambah areal tanam sekaligus menjalankan diversifikasi bisnis berupa agroforestry.
”Di luar Jawa juga masih ada lahan yang kurang dioptimalkan seperti di PTPN II, PTPN IV, dan PTPN VII itu yang akan kami kembangkan lagi. Memang banyak area yang sudah diokupasi masyarakat sekarang sudah dibebaskan. Tentu kami juga kerja sama dengan petani menggunakan pola kemitraaan  untuk mengembangkan lahan,” papar dia.
Executive Vice President PTPN Holding, Aris Toharisman, menambahkan perseroan akan berusaha menyusun ulang (regrouping) pabrik gula dari 41 unit menjadi 32 unit. Regrouping dilakukan pada pabrik berkapasitas dibawah 2.000 TCD.
Beberapa pabrik, lanjutnya, bahkan telah beroperasi sejak 1830 dan masih menggunakan sistem alat uap. Adapun sembilan pabrik gula yang akan di regrouping adalah PG Olean, PG Gending, PG Kedawung, PG Jombang Baru, PG Merican, PG Panjang, PG Purwodadi, PG Wiringin Anom, dan PG Panji. (JIBI)