83%UMKM Jamu Belum Penuhi CPOTB

JAKARTA—Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan 83% dari 754 perusahaan jamu skala usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) belum memenuhi standar cara pembuatan obat tradisonal yang baik (CPOTB).
Kepala BPOM Penny K. Lukito menjelaskan pemenuhan standar CPOTB merupakan sebuah keharusan. “Zaman berubah. Ada tuntutan kualitas dan kapasitas pelaku usaha. Untuk itu dibutuhkan peningkatan pengetahuan, proses, keamanan dan mutu,” kata Penny di Jakarta, Rabu (12/12).
Dia menyebutkan saat ini BPOM bersama enam kementerian/lembaga melakukan program pendampingan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dari program ini telah didapatkan 34 UMKM yang tersertifikasi sebagian.
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM Maya Gustina Andarini menargetkan pada 2025 seluruh UMKM yang terdata sudah memenuhi aturan CPOTB.
“Tahun depan kami akan tambah lagi [UMKM yang  memenuhi stradard CPOTB dengan dorongan pemerintah]. Ini program lintas sektor untuk mendorong UMKM bersaing. Sekarang yang usaha jamu banyak, namun yang kami fokuskan untuk terdaftar baru 754. Artinya [83% dari 754] ini dulu yang kami fasilitasi agar mereka jangan kalah bersaing,” papar dia.
Maya menjelaskan untuk mendukung UMKM jamu dan obat herbal, BPOM melakukan metode bertingkat. Dia mencontohkan untuk jenis obat herbal sederhana, maka minimal harus lulus tingkat higienitas. Terdapat 11 tingkat dalam CPOTB oleh industri untuk memperoleh sertifikasi penuh. “Obat tradisional yang beredar dan sudah bernomor sudah pasti memenuhi CPOTB,” papar dia. (Anggara Pernando/JIBI)