GUNAKAN GOOGLE MAP UNTUK CARI SASARAN Komplotan Pembobol Sekolah Dibekuk

MADIUN—Pembobol SMPN 2 Gemarang, Kabupaten Madiun, Jatim, dibekuk aparat Polres Madiun. Pencuri ini membobol sekolah dan mencuri 22 unit mini PC yang ada di laboratorium komputer sekolah.

Abdul Jalil
redaksi@koransolo.co

Pembobol SMPN 2 Gemarang ini merupakan satu komplotan yang terdiri dari lima pelaku. Komplotan pencuri spesialis komputer sekolah ini berhasil dibekuk tim gabungan dari Polres Madiun, Polres Trenggalek, dan Polres Ponorogo.
Komplotan pencuri ini dibekuk saat melakukan pencurian di wilayah Lamongan beberapa hari lalu. Dua pelaku disidik di Polres Ponorogo, dua pelaku disidik di Polres Trenggalek, dan satu pelaku bernama Khoirul disidik di Polres Madiun.
“Ada lima pelaku yang ditangkap saat sedang beraksi di Lamongan. Satu pelaku di antaranya disidik di Polres Madiun yaitu yang berinisial K [Khoirul], warga Jakarta Utara, DKI Jakarta,” kata Kapolres Madiun AKBP Ruruh Wicaksono kepada wartawan di Mapolres Madiun, Rabu (12/12).
Ruruh menuturkan komplotan pencuri ini telah membobol sejumlah sekolah yang ada di Madiun, Trenggalek, Jombang, Ponorogo, Nganjuk, dan Lamongan. Untuk peristiwa pembobolan di SMPN 2 Gemarang sendiri terjadi pada tanggal 9 Oktober 2018.
Di SMPN 2 Gemarang itu, para pelaku berhasil menggondol 22 mini personal computer (PC) yang satu unitnya seharga Rp8 juta. Kejadian pencurian itu awalnya diketahui oleh penjaga sekolah, Setyo Budi, yang datang ke sekolah untuk membuka pintu sekolah dan membersihkan sekolahan.
Penjaga sekolah itu kaget saat hendak membuang sampah melihat tiga unit CPU berada di dalam toilet. Ternyata CPU itu telah dibongkar dan diambil hardisk-nya.
“Saat mengecek pintu laboratorium komputer ternyata kunci pintu sudah rusak. Dan mini PC yang ada di dalam ruangan itu sudah hilang semua,” ungkap Ruruh.
Setelah dilakukan pemeriksaan dan koordinasi antarpolres, akhirnya dibentuk sebuah tim untuk mencari para pelaku yang diduga antarkabupaten ini. Dari hasil penangkapan ini baru diketahui bahwa pelaku berjumlah lima orang. Dua pelaku dari Jember, dua pelaku dari Bojonegoro, dan satu pelaku dari Jakarta.
Mereka berlima mengendarai sebuah mobil saat melakukan pencurian. Alat-alat yang digunakan seperti obeng dan kunci L yang digunakan untuk membobol sekolah.
Dari keterangan tersangka, dia ditemukan dengan keempat pelaku di pasar barang bekas di Jakarta. Saat itu, Khoirul bertemu empat orang lainnya dan bermufakat untuk melakukan perbuatan jahat. Bermodalkan smartphone, kelima pelaku itu memanfaatkan aplikasi Google Map untuk mengetahui lokasi sekolah SMP. “Dari kelima pelaku tidak ada yang warga Madiun maupun daerah yang menjadi lokasi pencurian. Mereka hanya memanfaatkan dari Google Map,” ujar dia.
Setelah mendapatkan barang curian itu, selanjutnya langsung dibawa ke Jakarta untuk dijual ke penadah yang diketahuinya melalui iklan koran. Satu unit mini PC yang dicuri dijual sangat murah yaitu Rp800.000/unit, padahal harga awal mini PC senilai Rp8 juta/unit.
“Satu tersangka berinisial K ini akan disidik di Polres Madiun. Tersangka dikenai Pasal 363 ayat (1) dengan hukuman penjara maksimal sembilan tahun,” jelas Ruruh.
Tersangka Khoirul kepada wartawan mengaku terpaksa mencuri karena rumahnya di Jakarta Utara menjadi korban kebakaran pada Agustus 2018. Uang yang didapat dari hasil penjualan ini diakui digunakan untuk membeli material bangunan rumah.
Dia memilih sekolah sebagai tempat mencuri karena lokasinya biasanya sepi. Sedangkan barang yang dicuri berupa perangkat komputer karena lebih mudah dibawa dan pembelinya jelas. “Proses penjualannya mudah. Sudah ada pembelinya,” ujar Khoirul. (JIBI)