LINGKUNGAN HIDUP Imbas Buruk Produksi Rokok

Dampak rokok terhadap kesehatan pribadi telah banyak diulas dan diketahui masyarakat luas. Namun, dampak produksi rokok dari hulu ke hilir untuk kerusakan lingkungan masih jarang dibahas. Padahal, produksi rokok berlebih menimbulkan dampak negatif dari berbagai aspek. Hal ini mestinya menjadi refleksi untuk meningkatkan pencegahan dampak negatif dari industri rokok. Berikut laporan yang dihimpun wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.

redaksi@jibinews.co

Sebuah laporan baru menunjukkan enam triliun batang rokok yang dihasilkan setiap tahun berdampak pada lingkungan melalui perubahan iklim, air, penggunaan lahan, dan keracunan. Dampak tembakau untuk lingkungan juga berdampak pada perubahan iklim dari konsumsi energi dan bahan bakar, deplesi air dan tanah, serta pengasaman.
Pasalnya penanaman tembakau secara global membutuhkan penggunaan lahan yang besar, konsumsi air, pestisida dan tenaga kerja. Padahal, semua sumber daya yang terbatas yang dapat dimanfaatkan dengan lebih baik.
Menurut penelitian Imperial College London, secara global, penanaman 32,4 juta ton tembakau hijau yang digunakan untuk memproduksi 6,48 juta tembakau kering digunakan untuk enam triliun rokok yang diproduksi di seluruh dunia pada 2014. Kegiatan itu menghasilkan 84 juta ton CO2 untuk perubahan iklim, yakni sekitar 0,2% dari total emisi global.
Profesor Nick Voulvoulis, dari Pusat Kebijakan Lingkungan di Imperial College London, mengatakan dampak lingkungan dari merokok, dari hulu sampai hilir, menambah tekanan yang signifikan terhadap sumber daya yang semakin langka di bumi dan ekosistemnya. “Tembakau mengurangi kualitas hidup kita untuk berkompetisi, karena semua aspek yang dirugikan merupakan sumber daya berharga untuk mata pencaharian dan pembangunan di seluruh dunia,” kata Voulvoulis, dikutip dari phys.org, Rabu (12/12).
Serat Sintetis
Pemrosesan atau pengeringan daun tembakau untuk menghasilkan tembakau kering, sangat intensif dalam menyerap energi. Prosesnya menggunakan batubara atau pembakaran kayu yang berkontribusi pada emisi gas rumah kaca dan deforestasi. Produksi tembakau juga menggunakan lebih dari 22 miliar ton air. Transportasi untuk pembuatan rokok, serta penggunaan dan pembuangan akhir mereka, juga menggunakan lebih banyak sumber daya dan meninggalkan limbah lebih lanjut.
Negara pengonsumsi rokok terbesar di dunia, Tiongkok, memanen lebih dari 3 juta ton daun tembakau dengan menggunakan lebih dari 1,5 juta hektare lahan subur dan sumber air tawar yang signifikan. Sementara habitat di sekelilingnya menderita kelangkaan air dan karena itu hampir 134 juta penduduknya kurang gizi.
Di sisi lingkungan sekitar, sampah plastik identik dengan pencemaran laut dan juga wilayah perairan lain. Namun, salah satu yang kerap tidak diperhatikan adalah puntung rokok. Indiatimes menyebutkan puntung rokok menjadi sampah terbesar yang dikumpulkan di seluruh pantai dunia selama 32 tahun terakhir. Lebih dari 60 juta puntung rokok dikumpulkan selama waktu tersebut.
Puntung rokok berjumlah lebih dari sepertiga dari semua barang yang dikumpulkan sejak 1986, yang meliputi tutup botol, wadah, pembungkus, peralatan makan, dan botol. Kehadiran filter rokok sendiri ditemukan untuk membantu menghilangkan masalah yang ditimbulkan rokok pada kesehatan. Namun, ini malah menjadi masalah baru bagi lingkungan. Serat sintetis dan bahan kimia yang digunakan untuk mengolah tembakau mencemari tanah, sungai, dan juga lautan.
“Sangat jelas [rokok] tidak ada memiliki manfaat kesehatan dan filter rokok, hanyalah alat pemasaran. Dan mereka [perusahaan rokok] membuatnya lebih mudah bagi seseorang untuk merokok,” ujar Profesor Kesehatan Masyarakat dari San Diego State University, Amerika Serikat, Thomas Novotny.
Tanaman Alternatif
Apabila dibandingkan dengan tanaman lain, dampak tembakau dengan tanaman lain yang biasanya membutuhkan lebih banyak input. Selain itu, hasil panen tanaman lain jauh lebih tinggi daripada tembakau. Misalnya, di Zimbabwe, satu hektare lahan bisa menghasilkan 19 kali lebih banyak kentang daripada 1–1,2 ton tembakau yang saat ini dibudidayakan. Bukti juga menunjukkan bahwa menanam tanaman alternatif lebih baik bagi petani dan keluarga mereka, karena pekerja anak tetap menjadi masalah utama dalam produksi tembakau.
Hampir 90% dari semua produksi tembakau terkonsentrasi di negara berkembang. Negara berkembang itu terdiri dari 10 negara penghasil tembakau terbesar, sembilan sedang berkembang dan empat negara berpenghasilan rendah defisit (LIFDCs). Termasuk India, Zimbabwe, Pakistan, dan Malawi. Namun, nyatanya mayoritas konsumsi rokok terjadi di negara maju.
Nicholas Hopkinson, dari National Heart and Lung Institute di Imperial College London, mengatakan perokok di negara maju secara harfiah dan metafora membakar sumber daya negara-negara miskin. Dalam laporan itu juga tertulis soal perhitungan dampak lingkungan dari seorang perokok selama hidup mereka. Seseorang yang merokok sebungkus 20 batang rokok per hari selama 50 tahun bertanggung jawab atas 1,4 juta liter air yang menipis.
Penemuan tersebut menyerukan berbagai tindakan untuk mengatasi masalah ini. Selain itu, penemuan tersebut memperkuat kesenjangan dalam data lingkungan saat ini sehingga itu dapat mendorong investasi berkelanjutan serta memastikan biaya lingkungan tembakau menghasilkan biaya yang tinggi, dan juga mendorong industri untuk bertanggung jawab atas seluruh kehidupan. Terutama siklus produknya. (JIBI/liputan6.com/phys.org)