Pengelola Berlakukan Tiket Masuk Rp25.000/Orang

KARANGANYAR—Pengelola Museum De Tjolomadoe menetapkan tiket masuk pengunjung museum senilai Rp25.000/orang. Menurut Marketing Manager De Tjolomadoe, Achmad Ridho, tiket Rp25.000/orang itu dinilai sepadan dengan konten yang ada. Di museum ini pengunjung akan mendapat banyak pengetahuan dan sejarah pabrik gula di Indonesia.
“Kami masih relatif [murah] daripada museum-museum di Solo dan sekitarnya. Kami punya konten artinya kami di sini bukan pada kemasan nilainya itu, tapi kemasan konten yang pengunjung tidak dapatkan,” ujar dia saat ditemui wartawan di De Tjolomadoe, Colomadu, Karanganyar, Rabu (12/12).
Menurut Ridho, museum dengan model konsep digital seperti ini di Indonesia dinilai tidak banyak. Mungkin paling maksimal hanya 10 museum, di antaranya Museum Penerangan Republik Indonesia dan Museum Gedung Sate Bandung. Bahkan, dia mengklaim Museum De Tjolomadoe adalah museum ketiga yang menggunakan konten-konten digital.
Selain itu, jelas Ridho, saat masuk museum masih gratis, pengunjung hanya membaca artefak melalui tulisan di papan. Pengunjung dinilai tak mendapat informasi secara konten apalagi visual.
Saat ini, ujar Ridho, dengan adanya konten baru wahana edutainment ini pengunjung benar-benar bisa menceritakan kepada orang lain.“Kita juga bisa tahu jenis-jenis tebu, jenis penyakit tebu, bagaimana mengolah tebu menjadi gula, bahkan kita bisa tahu kesuksesan PG Colomadu yang tidak banyak diketahui. Bahkan teknologinya ketika itu ditiru Kerajaan Thailand yang akhirnya malah lebih sukses daripada kita,” ujar dia.
Di museum tersebut pengunjung juga bisa tahu tentang sejarah yang dikemas menjadi dua demensi, digital, dan sebagainya. Dia mengklaim museum ini menghadirkan sebuah pengalaman baru bagi pengunjung. Di museum ini juga ada fasilitas layar sentuh yang bisa untuk mencari tahu sejarah gula di Indonesia, persebarannya di dunia dan sebagainya. Untuk mengonsep museum ini, Ridho menjelaskan pihaknya pihaknya menggandeng pakar konsultan dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.
Sedangkan data-data yang dikumpulkan pun langsung dari Thailand. Hal ini dikarenakan saat PG Colomadu telah satu tahun berdiri sekitar 1860-an, Kerajaan Thailand studi banding ke Colomadu.
“Utusan dari Thailand itu belajar operasional, sejarah, kultural, masyarakat selama dua tahun sampai tiga tahun. Jadi data yang kami dapatkan bukan data Google Search. Tapi data dari sumber langsung tepercaya yang kami olah lagi,” ujar Ridho. (Iskandar)