Beri Informasi Narkoba, Warga Dapat Rp1 Juta

WONOGIRI—Polres Wonogiri memberi imbalan Rp1 juta bagi warga yang memberi informasi keberadaan pengedar narkoba atau mengetahui adanya transaksi narkoba. Polisi menjamin kerahasiaan informan. Imbalan diberikan jika informasi bersangkutan benar.
Hal itu dikemukakan Kepala Urusan Pembinaan Operasional (KBO) Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Wonogiri, Iptu Sandiya, saat menyampaikan materi acara Sosialisasi Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di Pendapa Kantor Camat Ngadirojo, Wonogiri, Kamis (13/12).
Kegiatan itu diinisiasi Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Wonogiri. Kepada para peserta kegiatan dia mengatakan peran masyarakat sangat dibutuhkan dalam pencegahan peredaran narkoba maupun penindakan pelaku. Dalam hal penindakan, polisi membutuhkan informasi masyarakat sebagai modal awal penyelidikan kasus. Dia menjanjikan akan memberi Rp1 juta bagi siapa pun yang menginformasikan keberadaan pengedar narkoba atau setidaknya mengetahui adanya transaksi narkoba. “Identitas dijamin rahasia,” ucap Sandiya mewakili Kasatresnarkoba, AKP Suharjo dan Kapolres Wonogiri, AKBP Uri Nartanti Istiwidayati.
Dia mengapresiasi jika ada warga yang memberi informasi sekecil apa pun kepada polisi. Informasi tersebut sangat berguna untuk pengembangan penyelidikan. Dia meminta warga tak takut memberi informasi, meski yang terlibat kasus narkoba orang yang sudah dikenal. Peredaran narkoba telah sampai Wonogiri, bahkan hingga ke wilayah pelosok. Ironisnya, beberapa pelaku di antaranya pelajar dan mahasiswa. Dua tahun terakhir ini pengungkapan kasus narkoba meningkat. Pada 2017 Satresnarkoba mengungkap 19 kasus narkotika dengan 19 tersangka dan satu kasus psikotropika dengan dua tersangka. Tahun ini kasus narkoba yang terungkap sebanyak delapan kasus narkotika, delapan kasus psikotropika, dan lima kasus obat daftar G. Pada kasus-kasus tersebut polisi menangkap 23 tersangka.
“Ini membuktikan Wonogiri tak luput dari peredaran narkoba. Kebanyakan narkoba yang beredar ganja dan sabu-sabu. Meski skalanya kecil dibanding daerah lain, tapi kondisi ini tak boleh dibiarkan. Tahun ini kami menangkap beberapa pelajar yang mengonsumsi obat terlarang yang masuk daftar G di terminal. Ada yang dari Tirtomoyo, Betal [Nguntoronadi], bahkan Solo. Ini miris sekali,” kata Sandiya.
Dia melanjutkan imbalan dari polisi untuk memotivasi warga agar lebih semangat dan tak takut memberi informasi. Polisi membutuhkan informasi warga karena polisi belum bisa memantau dinamika masyarakat secara optimal. Sebab, personel sangat terbatas, yakni 13 orang termasuk Kasatresnarkoba. Sementara, wilayah yang harus dipantau se-kabupaten yang terdiri atas 25 kecamatan. (Rudi Hartono)