Peremajaan Miss V Sekedar Tren atau Kebutuhan?

Sekitar 2011 silam, artis dan penyanyi dangdut Dewi Persik sempat mengejutkan publik dengan pengakuannya telah melakukan operasi keperawanan di Mesir. Tindakan yang dilakukan penyanyi bernama asli Dewi Murya Agung tersebut menuai kontroversi karena pembahasan mengenai organ intim kewanitaan kala itu masih dianggap tabu.
Namun kini, semakin banyak selebritas yang telah melakukan peremajaan vagina, sebut saja Nikita Mirzani yang menjalani operasi pengencangan vagina atau vaginoplasty. Selain itu, ada pula Tessa Kaunang dan Five Vi yang memilih perawatan non-invasif dengan menggunakan teknologi laser untuk mengencangkan kembali jaringan mukosa dan otot kewanitaannya.
Ni Komang Yeni, dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari Bamed Women’s Clinic mengatakan bahwa tren peremajaan vagina pertama kali diperkenalkan pada 2007, ketika semakin banyak perempuan yang mulai berani menyuarakan permasalahan dan perubahan anatomi organ kewanitaan.
Pasalnya, seiring dengan berjalannya waktu, vagina terus mengalami sejumlah perubahan dari tampilan fisik sehingga menurunya sensitivitas dan elastisitasnya akibat perubahan hormon, penambahan usia, kehamilan, serta proses persalinan.
Dokter yang akrab disapa Yeni ini mengatakan bahwa permasalahan yang umum dialami wanita adalah berkurangnya kelenturan dinding vagina setelah melahirkan sehingga mengakibatkan jaringan vagina menjadi kendur dan terasa longgar.
Kondisi ini dapat mengurangi kepekaan di daerah vagina sehingga sensasi saat bercinta juga menjadi berkurang. “Akhirnya, tidak sedikit perempuan yang mengalami permasalahan seksual karena kesulitan mencapai orgasme,” ujarnya.
Selain itu, kehamilan dan persalinan berulang juga dapat menimbulkan trauma dan tekanan di organ kewanitaan. Hal tersebut membuat elastisitas dan kekuatan di uretra berkurang akibat tekanan struktur pendukung pelvis yang lemah sehingga wanita tersebut kesulitan mengontrol keluarnya urin atau yang disebut inkontinensia.
Yeni juga menambahkan bahwa pergeseran hormon yang terjadi karena menopause bisa mengakibatkan lapisan vagina menjadi kering, kurang elastis, dan meradang sehingga dapat menurunkan hasrat bercinta. Sementara itu, perubahan fisik vagina juga dapat membuat kulit labia tampak mengendur dan tidak kenyal.
“Banyaknya persoalan yang dihadapi perempuan menunjukkan bahwa peremajaan vagina bukan hanya sekadar tren tetapi memang sudah menjadi kebutuhan,” tutur dokter yang juga bergerak dalam bidang ginekologi estetika tersebut.
Namun, ketika seseorang melakukan prosedur peremajaan vagina tersebut, yang dicari bukan hanya kenikmatan seksual semata tetapi lebih untuk meningkatkan rasa percaya dirinya. Ketika sudah timbul rasa percaya diri, maka kualitas hidupnya pun akan meningkat dan hubungan bersama pasangan akan kembali hangat.
“Peremajaan vagina bukanlah sesuatu yang tabu untuk dibicarakan sehingga perempuan tidak perlu malu mengemukakan kebutuhan dan mencari solusi akan hal tersebut karena jika tidak diungkapkan malah akan membuat menderita sendiri,” tambahnya.
Perawatan
Ada sejumlah peremajaan vagina yang dapat dilakukan mulai dari prosedur invasif hingga non invasif yang sifatnya tidak melukai permukaan kulit dan mukosa vagina. Beberapa tindakan non-invasif yang dapat dilakukan, yaitu CO2 fractional laser yang menggunakan teknologi laser untuk remodelling jaringan vagina dan mengembalikan jaringan vagina menjadi muda kembali.
Laser bekerja dengan cara membebaskan jaringan di kulit dan glukosa serta merangsang terbentuknya collagen yang baru sehingga mukosa dan otot vagina menjadi lebih kencang. Selain itu, dengan menggunakan teknologi radio frequency dengan menggunakan prinsip yang sama untuk perawatan labia remodelling, labia majora tightening, labia majora brightening, serta vaginal tightening atau pengencangan vagina.
Prosedur non invasif tersebut hanya dilakukan sekitar 10 menit—20 menit. Namun, tidak semua pasien yang datang langsung mendapatkan tindakan. Akan ada sejumlah wawancara yang dilakukan untuk menemukan berbagai masalah dan keluhan yang dihadapi pasien.
“Setelah perawatan, pasien dapat langsung pulang dan beraktivitas seperti biasa, termasuk berhubungan dengan pasangan. Untuk mendapatkan hasil maksimal, pasien harus melakukannya secara berkala 3—5 kali dengan biaya sekitar Rp12 juta hingga Rp15 juta per paket,” tuturnya.
Sementara itu, perawatan prosedur semi invasif yang dapat dilakukan yaitu labia mayora augmentation untuk menambah volume bagian bibir vagina labia luar. Tindakan ini dapat dilakukan baik dengan platelet rich plasma (PRP) atau filler sehingga tampilan vagina lebih berisi dan kencang.
Ada pula injeksi G-spot dengan cara menginjeksikan PRP pada area sensitif tersebut untuk membantu memperluas titik sensitif perempuan sehingga dapat lebih menikmati hubungan seksual.
Dasep Suwanda, dokter spesialis kebidanan dan kandungan, mengatakan bahwa prosedur peremajaan vagina juga dapat dilakukan melalui tindakan operasi yang meliputi clitoralhood reduction, labia mayora plasty, labia minora plasty, vaginoplasty, hingga hymenoplasty. “Vaginoplasty tujuannya untuk mengencangkan vagina yang longgar akibat melahirkan dan mengembalikannya ke tampilan asli, sedangkan hymenoplasty untuk memperbaiki atau merapatkan kembali selaput,” jelasnya.
Namun, sambungnya, vaginoplasty dan hymenoplasty tujuan lebih ke arah tampilan fisik tidak mempengaruhi sensitivitas ataupun elastisitas dari vagina itu sendiri. Berbeda dengan laser dan radio frequency yang memang berupa perawatan untuk mengembalikan kekencangan dan elastisitas otot serta mukosa vagina. “Jika ingin mendapatkan hasil maksimal, bisa melakukan prosedur operasi. Kemudian dilanjutkan dengan perawatan non invasif seperti laser atau radio frequency yang dilakukan secara berkala,” ujarnya.
Adapun labia minora plasty bertujuan memperbaharui struktur anatomi labia minora yang mengendur atau tidak simetris akibat penuaan, melahirkan, maupun penurunan berat badan yang merosot drastis.
Sesudah menjalani prosedur operasi, pasien biasanya harus menyediakan jeda setidaknya 6—8 minggu untuk bisa kembali berhubungan secara intim serta olahraga. Jika prosedur tersebut tidak diikuti akan memiliki risiko terjadinya perdarahan atau kemungkinan infeksi. (JIBI/Dewi Andriani)