Waspada Bila Sering Mengantuk di Siang Hari

redaksi@koransolo.co

Rasa lelah dan mengantuk sering dialami orang-orang di siang hari. Terutama, pada saat melakukan pekerjaan di kantor atau di rumah.
Mengantuk bisa saja timbul karena Anda yang kurang jam tidur. Namun, berhati-hatilah jika rasa kantuk di siang hari terjadi secara berlebihan.
Melansir Reader’s Digest, belum lama ini, Anda harus segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami mengantuk di siang hari terus menerus. Ini bisa menjadi pertanda otak sedang mengalami masalah.
Para peneliti dari Johns Hopkins University Amerika Serikat menemukan orang yang melaporkan mengantuk sepanjang hari, hampir tiga kali lebih rentan memiliki penumpukan beta-amyloid bertahun-tahun kemudian.
Beta-amyloid sendiri adalah sebuah protein yang terkait dengan risiko penyakit Alzheimer.
Para peneliti menganalisa data dari Baltimore Longitudinal Study of Aging, sebuah studi jangka panjang yang mengikuti kesehatan ribuan sukarelawan sejak 1958. Selama bertahun-tahun para partisipan diberikan survei secara periodik, termasuk tentang seberapa sering mereka tidur siang, merasa mengantuk, atau tidur di siang hari.
Beberapa peserta juga melakukan pemindaian otak yang mendeteksi beta-amyloid di jaringan otak, hampir 16 tahun setelah mengisi survei.
Risiko penumpukan plak beta-amiloid ini 2,75 kali lebih tinggi pada mereka yang mengantuk di siang hari. Namun, risikonya pada mereka yang tidur siang tidak signifikan secara statistik.
Korelasi antara kantuk di siang hari dan peningkatan risiko beta-amyloid sendiri masih membingungkan para ilmuwan. Namun, hal tersebut tidak bisa diabaikan oleh para ilmuwan.
”Belum ada obat untuk penyakit Alzheimer, jadi kita harus melakukan yang terbaik untuk mencegahnya. Memprioritaskan tidur bisa menjadi salah satu cara untuk membantu mencegah atau mungkin memperlambat kondisi ini,” kata Profesor Kesehatan Mental di Sekolah Kesehatan Publik Johns Hopkins Bloomberg, Adam Spira.
Sementara itu sebuah cuitan di media sosial Twitter dari akun bernama dokter Gia Pratama tentang cara menghilangkan kantuk menjadi viral.
“Triknya adalah dengan menahan dan membuang napas.Kalau kita ngantuk berat di saat yang tidak tepat, contohnya pas rapat, lalu enggak ada kopi, enggak ada kesempatan untuk jalan keluar, coba tahan napas selama maksimal 20 detik, lalu buang nafas perlahan2, ulangi tiga kali. Ini bakal meningkatkan denyut jantung yang akan memompakan oksigen ke otak,” tulis akun @GiaPratamaMD seperti ditulis liputan6.com, Kamis (13/12).
Menanggapi hal tersebut, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Ade Meidian Ambari mengatakan belum ada penelitian yang membuktikan cara tersebut ampuh dalam menghilangkan kantuk.
Namun, Ade mengakui bahwa menarik napas dalam-dalam memang memiliki manfaat. Terutama untuk mengatasi kecemasan dan stres.
”Menarik napas dalam bermanfaat untuk mengatasi kecemasan dan stres. Karena dengan menarik napas dalam merangsang sistem parasimpatis,” ujar Ade.
”Menurunkan nadi, menurunkan tekanan darah, buat parasimpatis jantung sangat bermanfaat. Di samping oksigenasi ke otak lebih baik,” jelas dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) ini.
Mengutip Klikdokter.com, dr. Nitish Basant Adnani BMedSc MSc menulis ada beberapa tips untuk mencegahkan kantuk. Salah satunya adalah mengubah posisi duduk.
”Cara duduk yang salah juga bisa jadi penyebab rasa kantuk. Cobalah duduk dengan posisi tegak sambil menyilangkan kaki, atau berdirilah sejenak kemudian duduk kembali,” kata Nitish.
Selain itu, merangsang indera penciuman juga bisa dilakukan. Namun hindari pewangi berbau lavender karena malah akan meningkatkan rasa kantuk. Nitish juga mengatakan, berbicara dengan orang lain bisa menstimulasi otak dan mencegah rasa kantuk. (JIBI)