Enthung Favorit di Wonogiri

RUDI HARTONO

WONOGIRI—Kabupaten Wonogiri sedang memasuki musim kupu-kupu pada awal penghujan ini. Hal itu membuat banyak ditemukan enthung atau kepompong. Bagi sebagian warga, enthung dijadikan lauk makan yang lezat, terutama enthung johar, enthung jati, dan enthung jambu mete.
Banyaknya penikmat enthung membuka peluang usaha bagi warga. Mereka menjualnya di pasar-pasar. Bahkan, harga 1 kg enthung lebih mahal dari pada 2 kg daging ayam.
Informasi yang dihimpun Koran Solo, periode kemunculan enthung bervariasi. Enthung johar maksimal 10 hari, enthung jati dan jambu mete paling lama dua pekan. Kemunculannya tidak bersamaan. Periode pertama musim enthung jati. Kepompong yang terdapat di daun jati itu sudah terlewati, tetapi warga masih ada yang menemukannya meski hanya dalam jumlah sedikit. Saat ini sedang banyak ditemukan enthung johar. Musim enthung yang terdapat di daun pohon johar itu terjadi sejak sepekan. Setelah periode kemunculan enthung johar habis akan muncul enthung jambu mete.
Bagi warga yang ingin membeli bakal kupu-kupu hijau itu dapat menemukannya di Pasar Ngadirojo. Salah satu penjual, Sadinem, 72, saat ditemui, Jumat (14/12), mengatakan penikmat enthung johar di Wonogiri sangat banyak. Persediaan enthung sebanyak 2 kg/hari selalu habis terjual. Padahal, harganya termasuk mahal, yakni Rp70.000/kg. Harga itu lebih mahal dari pada harga 2 kg daging ayam. Menurut Sadinem harga daging ayam saat ini Rp30.000/kg. Harganya mahal karena enthung hanya ada pada masa tertentu. Selain itu untuk mendapatkan enthung perlu usaha lebih karena terdapat di ketinggian.
Namun, penggemar enthung tak mempermasalahkannya. Mereka tetap membeli enthung johar karena tak mau melewatkan kesempatan yang hanya datang beberapa hari dalam setahun. Biasanya konsumen membeli dalam jumlah sedikit, yakni minimal 1 ons. Warga Watu Karung, Ngadirojo Kidul, Ngadirojo itu menjual 1 ons enthung berwarna hijau seharga Rp7.000.
“Yang suka enthung biasanya yang enggak alergi. Kalau alergi, makan enthung badan bisa bintul-bintul dan gatal. Selain enthung johar, biasanya ada warga yang mencari enthung jambu mete. Kalau ada yang menjual ke sini [Pasar Ngadirojo] saya selalu membelinya untuk saya jual lagi. Harganya sama dengan enthung johar,” kata Sadinem.
Dia yang juga penggemar enthung melanjutkan biasanya enthung johar digoreng dengan bumbu gurih. Enthung goreng dijadikan lauk makan. Sadinem menyebut rasanya yang gurih dan lezat membuat enthung sangat nglawuhi. Dengan lauk enthung sedikit saja penikmat bisa menghabiskan banyak nasi. Makan dengan enthung tetap enak meski tanpa lauk lain.
“Bisa juga buat campuran jangan [sayur] lombok ijo [hijau] atau dibothok,” ulas Sadinem.
Penjual lainnya, Wagi, 50, mengaku berani kulak enthung dalam jumlah banyak dari warga pencari enthung setiap hari. Sebab, permintaan enthung selalu tinggi. Warga Gupit Kulon, Kebonagung, Ngadirojo itu menyediakan 7 kg-10 kg enthung johar/hari dan selalu habis terjual. Dia mematok harga yang sama dengan enthung yang dijual Sadinem. “Selalu laris manis karena penggemarnya masih banyak, meski tidak semua orang suka seperti saya. Bahkan, dokter saja ada yang beli. Katanya kandungan proteinnya tinggi,” ucap Wagi.
Umi, warga Blimbing, Ngadirojo Kidul, mengaku sangat suka en­thung johar goreng. Setiap musim enthung dia selalu mem­beli. Dahulu dia mencari sendiri di pekarangan. Dia juga menyukai enthung lainnya karena rasanya enek semua. Selain enthung, perempuan muda itu menyukai klenthe go­reng. Klenthe adalah kumbang berukuran kecil warna cokelat kemerahan yang muncul pada malam hari. Kemunculannya hanya saat awal musim penghujan. (JIBI)