Rudy Ingin Flyover Manahan Dibuka Desember

Koran Solo/Nicolous Irawan
FINISHING: Pekerja menggunakan sepeda motor melintasi flyover Manahan yang sudah memasuki tahap finishing di Jl. dr. Moewardi, Kota Barat, Solo, Jumat (14/12).

INDAH SEPTIYANING W.

SOLO—engoperasian jalan layang (flyover) Manahan masih menunggu kesiapan sarana dan prasarana infrastruktur pendukung rampung dikerjakan oleh Pemkot Solo. Dinas Perhubungan (Dishub) Solo pun akan menjajal flyover selama tiga hari mulai Senin (17/12) mendatang.
Namun simulasi tersebut dilaksanakan secara internal, artinya tidak untuk umum. Selama simulasi ini Dishub akan mengerahkan sejumlah kendaraan berupa bus besar, sedang, mobil, dan kendaran roda dua.
Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, berharap jalan layang Manahan bisa dioperasionalkan pada bulan ini. Harapannya bisa mengurangi kepadatan kendaraan yang masuk ke Kota Solo selama arus libur sekolah sekaligus Hari Natal dan Tahun Baru 2019 (Nataru).
“Kita uji coba dulu.  Kalau sudah clear semua, bisa dibuka untuk umum. Sekarang sudah saya perintahkan DPUPR [Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang] untuk bersih-bersih lokasi dan kerjakan aspal jalan,” katanya, Jumat (14/12).
Kepala Dishub Solo, Hari Prihatno, mengatakan beberapa pengerjaan oleh Pemkot Solo dalam proyek pendampingan jalan layang Manahan di antaranya perbaikan jalan sayap kanan dan kiri bawah berikut pengaspalan. “Operasional jalan layang menunggu semua pengerjaan di area bawah selesai. Kami tidak ingin berisiko belum selesai sudah dibuka untuk umum,” kata Hari ketika dijumpai wartawan di ruang kerjanya.
Uji coba pada Senin mendatang, kata dia, dimaksudkan untuk menguji sejauh mana konstruksi jalan layang mampu mengakomodasi arus kendaraan jika sudah dibuka untuk umum. Pergerakan kendaraan di jalan layang tersebut akan menjadi kunci. Dengan demikian perlu dipastikan apakah jalan layang Manahan bisa menampung kendaraan dari arah utara dan selatan. Dishub menginginkan ruas jalan layang dari arah Kota Barat hingga perlintasan kereta dapat dilalui tiga lajur.
“Memang kalau diukur tidak cukup [tiga lajur] karena lebar jalan hanya delapan meter. Makanya besok [Senin] kami coba bisa apa tidak,” katanya.
Informasi mengenai kapasitas ruas jalan layang itu dinilai vital oleh Dishub. Sebab hal itu sangat menentukan manajemen rekayasa lalu lintas (MRLL) yang bakal diterapkan di area terdampak. Mengacu pada usulan awal MRLL yang disusun Dishub pertengahan 2018 lalu, segmen jalan layang dari arah utara, yakni Jl M.T. Haryono dijadikan satu arah menuju Kota Barat. Segmen jalan layang dari arah Barat (Jl. Adi Sucipto) dibuat dua arah. Sedangkan segmen terpanjang dari perlintasan kereta hingga Kota Barat dibagi menjadi tiga lajur. Dua lajur ke arah Kota Barat, satu lajur ke arah Manahan.
Namun rancangan ini terkendala lebar jalan layang yang terlalu sempit jika dibagi tiga lajur. Dengan lebar efektif delapan meter, satu lajur hanya mendapat jatah kurang dari tiga meter. “Mungkin bisa saja tiga lajur, tapi satu lajur itu hanya khusus motor,” katanya.
Hari juga mengatakan uji coba diperlukan lantaran konstruksi jalan layang memungkinkan adanya merging (penggabungan arus kendaraan) di sisi utara perlintasan sebidang. Jalur merging itu mempertemukan kendaraan dari Jl. Adisucipto dan Jl. M.T. Haryono, yang mengarah ke Jl. dr. Moewardi. “Kami akan cek dulu apakah memungkinkan merging itu dilakukan. Jika tidak, maka harus disiapkan skenario lain,” katanya. (JIBI)