FENOMENA ANTARIKSA Komet Natal Mendekat ke Bumi

Sebuah komet yang orbitnya berada di antara Jupiter dan Matahari akan mendekati Bumi sepanjang bulan ini. Komet yang disebut Komet Natal tersebut diklaim akan berada di posisi terdekatnya terhadap Planet Biru ini dalam beberapa abad terakhir. Berikut laporan yang dihimpun wartawan Jaringan Sindikasi Bisnis Indonesia, Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.

redaksi@jibinews.co

Peneliti dari University of Maryland Amerika Serikat, Tony Farnham, mengatakan dia sendiri telah membuat observasi terhadap Komet Natal tersebut di Discovery Channel Telescope, Arizona, Amerika Serikat. Gumpalan bola yang terdiri dari gas dan debu angkasa ini beberapa kali disebut sebagai Komet Natal. Meskipun begitu, nama aslinya adalah 46P/Wirtanen, nama itu sebagai bentuk penghormatan atas Carl Wirtanen yang menemukannya pada 1948 silam.
Komet ini menyelesaikan satu putaran terhadap Matahari selama 5,4 tahun sedangkan komet ini melewati Bumi paling tidak sekitar 11 tahun sekali, dengan jarak berbeda-beda. Komet ini disebut-sebut sebagai komet paling terang yang melintasi Bumi tahun ini. Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengatakan pada titik terdekatnya dengan Bumi, Komet Natal akan berada kira-kira 30 kali jarak antara Planet Biru ini dan Bulan. Itu berarti jaraknya lebih dari 11 juta kilometer.
46P/Wirtanen ini disebut memberikan peluang bagi para peneliti untuk mengobservasi buntut komet dan melihat lebih jauh ke nukleusnya. Selain itu, Farnham mengatakan, Komet Natal ini juga unik karena memancarkan air lebih banyak dari perkiraan. Itu merupakan fenomena yang terbilang jarang.
46P pernah menjadi fokus misi Rosetta bersejarah. Badan Antariksa Eropa telah merencanakan untuk meluncurkan probe dan pendaratan Philae pada awal 2003, yang akan melihat penjelajah robotik bertemu dengan 46P karena komet itu melakukan pendekatan terdekat dengan Matahari pada tahun 2013.
Namun, rencana ini harus direvisi, target baru pun dipilih dalam bentuk 67P/Churyumov-Gerasimenko ketika tanggal peluncuran Rosetta merosot ke 2004. “Kami harus mengucapkan selamat tinggal kepada 46P untuk Rosetta, tetapi komet itu selama bertahun-tahun ada di inti kehidupan profesional saya, sehingga sangat emosional. Saya mungkin memiliki kesempatan untuk melihatnya langsung dengan mata kepala saya sendiri,” kata Gerhard Schwehm, ilmuwan proyek Rosetta pada 1990-an, ketika 46P terpilih, dikutip dari newatlas.com, Selasa (18/12).
46P akan mencapai titik pendekatan terdekat ke Bumi hanya beberapa hari setelah perihelion, titik di orbit komet yang paling dekat dengan Matahari. Para ilmuwan tahu dari pengamatan yang dilakukan dari 67P bahwa perihelion adalah periode yang sangat aktif dalam kehidupan komet, di mana panas yang mengalir keluar dari bintang kita mengarah pada peningkatan aktivitas seperti outgassing.
Periode sebelum dan sesudah perihelion adalah waktu yang tepat untuk melakukan pengamatan ilmiah. Sementara kecerahan komet natal ini sangat tidak terduga, diperkirakan bahwa 46P akan membesar. Hal tersebut akan membuatnya mudah dikenali menggunakan teleskop atau teropong, dan bahkan bisa membuatnya terlihat dengan mata telanjang.
Cahaya Terang
Sementara pengamatan jarak jauh yang dibuat dari 46P selama ini tidak pernah bisa sama dengan yang dibuat oleh pesawat ruang angkasa yang mengorbit. Hingga saat ini ilmuwan masih akan menawarkan wawasan berharga mengenai sifat komet.
Namun teleskop berbasis darat mampu menangkap komet dan jejak panjang material yang mengikutinya secara keseluruhan. Selanjutnya, ketika sebuah komet melewati 46P akhir pekan ini, 46P dapat diamati oleh sejumlah teleskop kuat yang mampu menangkap berbagai panjang gelombang. Di mana masing-masing komet akan mengungkapkan aspek yang berbeda dari sifatnya.
Misalnya, gambar dan data yang dikumpulkan oleh pasukan pengamat ini dapat mengungkapkan banyak hal tentang proses yang mendorong pergerakan debu dan gas dalam koma komet. “Di NASA, kami biasanya mengirim pesawat ruang angkasa ke target di tata surya. Itu selalu bagus hasilnya ketika target datang kepada kami,” papar Kelly Fast, Manajer Program Program Pengamatan Objek Dekat-Bumi di Markas NASA.
Fast mengatakan itu adalah kesempatan bagus untuk mengembangkan ilmu komet, dan untuk komunitas astronomi di seluruh dunia yang akan mempelajari kimia, perubahan koma, dan proses lain yang terjadi di Comet Wirtanen.
Sayangnya, komet ini sudah menunjukkan cahayanya yang paling terang pada Minggu (16/12) malam waktu AS. Meski demikian, bagi yang masih ingin melihatnya, Komet Natal ini masih akan menampakkan dirinya di langit Bumi dalam waktu sepekan hingga dua pekan ke depan. Soal bisa terlihat dengan mata telanjang atau tidak, hal ini tergantung dari tempat melihat komet itu sendiri.
Apabila orang-orang mengincar pemandangan komet tersebut di kota-kota besar dengan tingkat polusi tinggi, Farnham mengatakan, mungkin penikmatnya butuh teleskop atau teropong untuk melihatnya. Fenomena ini membuatnya masuk ke dalam 10 komet terdekat dengan Bumi dalam kurun waktu 70 tahun terakhir. Setelahnya, 46P/Wirtanen tidak akan berada sedekat ini dalam kurun waktu hingga ribuan tahun ke depan. (JIBI/inet.detik.com/newatlas.com)