PENGGUNAAN GADGET Atur Waktu untuk Menjaga Otak

Sebuah studi psikologi di San Diego, Amerika Serikat menjabarkan hubungan antara lama menonton televisi dan bermain telepon seluler (ponsel) pintar terhadap kemampuan kognitif anak. Semua berawal dari hubungan positif lama penggunaan dengan waktu tidur berkualitas yang terampas. Berikut laporan yang dihimpun wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.
redaksi@koransolo.co

Orang tua yang takut anak-anak mereka menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar sekarang memiliki lebih banyak alasan untuk khawatir.
Penyebabnya, penelitian baru yang didanai oleh National Institutes of Health menemukan adanya perubahan otak di antara anak-anak yang menggunakan layar lebih dari tujuh jam sehari. Mereka memiliki keterampilan kognitif yang lebih rendah di antara mereka yang menggunakan layar lebih dari dua jam sehari.
Ketika studi tersebut menemukan hubungan antara waktu layar dan hasil negatif, beberapa orang berpendapat itu hanyalah bentuk kepanikan moral terbaru atas kemajuan teknologi. Apalagi orang tua baby boomer dan Gen X khawatir anak-anak mereka terlalu banyak menonton televisi atau terlalu banyak berbicara di telepon. Padahal, nyatanya anak-anak itu baik-baik saja.
“Jadi bagaimana perangkat elektronik portabel, teknologi yang dipilih dari anak-anak dan remaja saat ini berbeda? Penelitian baru yang saya lakukan pada hubungan antara penggunaan perangkat portabel dan tidur memberikan beberapa jawaban,” kata Profesor Psikologi Universitas San Diego, Jean Twenge, dikutip dari livescience, Rabu (19/12).
Twenge mengatakan di mana saja, sepanjang waktu, hampir tidak perlu diragukan perangkat portabel saat ini, termasuk ponsel pintar dan tablet, pada dasarnya berbeda dari set televisi ruang tamu dan telepon rotary masa lalu. Hal tersebut terjadi karena peneliti telah melacak kebiasaan menonton televisi.
Hasilnya, remaja Amerika Serikat rata-rata tidak pernah menghabiskan lebih dari dua setengah jam sehari untuk menonton televisi Namun, pada 2016, rata-rata remaja menghabiskan sekitar enam jam sehari dalam media digital, ketika waktu itu merupakan lebih dari dua kali lebih banyak waktu anak-anak zaman dulu.
Jumlah waktu yang dihabiskan untuk menggunakan media digital ini cukup untuk mengulur waktu yang dihabiskan untuk kegiatan lain, seperti berinteraksi dengan teman-teman secara tatap muka, membaca, atau pergi keluar. “Tidak seperti telepon, aplikasi media digital dirancang untuk menghubungkan Anda,” kata Twenge.
Sebagai mantan eksekutif Silicon Valley, Tristan Harris, mengatakan tentang aplikasi ponsel pintar. “Telepon Anda pada 1970 tidak memiliki seribu insinyur yang memperbarui cara kerja telepon Anda setiap hari menjadi lebih dan lebih persuasif,” ucapnya.
Kedua, tidak seperti telepon televisi atau telepon rumah, perangkat portabel dapat dibawa ke mana-mana, ke sekolah, tempat guru mengatakan perangkat itu adalah gangguan konstan, dan dalam situasi sosial, percakapan dapat langsung dibuka dengan meraih telepon yang berdengung.
Faktor tidur
Bahkan ada kata untuk fenomena satu ini, yaitu phubbing, portmanteau phone dan snubbing. “Benar saja, orang-orang telah melaporkan kegiatannya menikmati makan malam restoran dengan teman-teman. Interaksi jadi kurang ketika ponsel mereka tersedia, dibandingkan dengan ketika mereka tidak,” ucap Twenge.
Di banyak penelitian, anak-anak dan remaja yang menghabiskan lebih banyak waktu dengan layar, termasuk televisi dan perangkat portabel, juga kurang tidur. Twenge mengatakan hal itu terjadi mungkin karena mereka menghabiskan begitu banyak waktu terlibat dengan perangkat mereka yang akhirnya membuat mereka mengorbankan waktu tidur. Namun, ada juga alasan fisiologis, yaitu cahaya biru yang dipancarkan oleh layar elektronik. Cahaya itu menipu otak untuk berpikir saat malam masih siang hari. Kemudian tidak cukup memproduksi hormon tidur melatonin untuk membuat tertidur dengan cepat dan mendapatkan tidur berkualitas tinggi.
Mengacu dari survei besar kepada orang tua yang dikelola oleh Biro Sensus AS, Twenge dan timnya menemukan anak berusia dua hingga 10 tahun menghabiskan empat jam atau lebih per hari pada perangkat elektronik portabel mereka. Mereka melakukannya saat tidak ada waktu luang. Hasilnya kemungkinan mereka untuk tidur secara berkualitas dua kali lebih besar untuk terenggut. Waktu menonton televisi juga terhubung ke keadaan kurang tidur, tetapi tidak kuat atau konsisten.
Selain itu, di antara remaja usia 14 hingga 17 tahun, mereka yang menghabiskan empat jam atau lebih per hari di perangkat elektronik portabel, 44% dari mereka lebih mungkin untuk tidak memiliki cukup waktu tidur. Namun, saat perangkat portabel secara statistik terkontrol, menonton televisi atau bermain video game di konsol memiliki sedikit kaitan dengan waktu tidur.
Fenomena ini adalah apa yang oleh sebagian orang disebut vamping. Twenge mengatakan fenomena itu mungkin menjelaskan mengapa kurang tidur di kalangan remaja melonjak setelah 2012, tepat saat penggunaan ponsel pintar menjadi hal yang lumrah.
Twenge menjelaskan yang terbaik adalah mengeluarkan ponsel pintar dan tablet dari kamar setelah lampu kamar anak dipadamkan. Kedua, jangan menggunakan ponsel pintar atau perangkat portabel lainnya satu jam sebelum tidur. Itu karena cahaya biru dari perangkat akan mempengaruhi kinerja otak memproduksi melatonin. “Akhirnya, sebagai aturan umum, dua jam sehari atau kurang dihabiskan untuk perangkat portabel. Itu adalah panduan yang baik. Aturan-aturan ini berlaku untuk orang tua juga, tidak hanya anak-anak. Namun, jangan menonton televisi secara sembarangan,” ucapnya. (JIBI/livescience.com)