Momok Kematian Ibu dan Bayi

Jumlah angka kematian ibu dan anak di Indonesia tergolong masih tinggi. Bahkan Indonesia termasuk dalam 10 negara dengan jumlah kematian ibu dan neonatal atau bayi baru lahir, tertinggi di dunia.
Setidaknya setiap 1 jam, 2 ibu dan 8 neonatal atau bayi baru lahir meninggal di Indonesia. Berdasarkan evaluasi Millennium Development Goals (MDGs) pada 2015, angka kematian ibu di Indonesia mencapai 305 per 100.000 kelahiran hidup sedangkan angka kematian neonatal pada 2017 mencapai 15 per 1.000 kelahiran hidup.
Sementara itu, jumlah kasus kematian bayi di tahun 2016 mencapai 32.007. Masih cukup tinggi meskipun sedikit menurun dibandingkan 2015 sebanyak 33.278. Adapun semester I 2017 jumlah kasus kematian pada bayi sebanyak 10.294.
Demikian pula dengan jumlah kematian ibu yang masih terbilang tinggi 4.912 kasus pada 2016, tidak jauh berbeda dibandingkan 2015 yakni 4.999 kasus. Pada semester I/2017 jumlahnya sudah mencapai 1.712 kasus kematian.
Dalam setiap tahap pada proses kehamilan sampai pas­capersalinan, seorang ibu memiliki risiko untuk mening­gal. Studi tindak lanjut sensus penduduk pada 2010 menyebutkan bahwa kasus kematian terbesar pada ibu terjadi pada masa pasca­persalinan yaitu 57%, diikuti pada masa kehamilan 22%, dan saat melahirkan 15%.
Konsultan Senior Kesehatan Masyarakat Budihardjo Singgih mengatakan penyebab utama kematian pada ibu adalah permasalahan klasik yaitu disebabkan oleh eklampsia atau keracunan kehamilan yang dapat menyebabkan kejang, kemudian terjadinya perdarahan, dan infeksi pascapersalinan.
Budi mengatakan bahwa ketika seorang ibu mengalami perdarahan saat kehamilan maka darah yang keluar mengalir sangat deras sehingga harus segera dibawa ke pusat kesehatan masyarakat.
Kondisi ini menurutnya akan sangat berbahaya jika terjadi di daerah perdesaan yang lokasinya sangat jauh dengan pusat layanan masyarakat. Padahal ketika sudah terjadi perdarahan, waktu maksimal yang harus ditempuh untuk mendapatkan pertolongan itu adalah 2 jam.
Sementara itu, untuk faktor risiko infeksi juga banyak terjadi setelah proses persalinan karena banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya sanitasi dan kebersihan lingkungan. Biasanya, ketika ibu melahirkan dibantu dukun beranak atau bidan kemudian masih ada sisa-sia lendir atau darah keluar yang tidak diperhatikan, itu bisa menjadi sumber infeksi karena kuman sangat senang dengan tempat yang kotor dan lembab.
“Kalau terjadi infeksi dan menyerang bagian tubuh bisa menyebabkan kematian seminggu setelah bersalin dan itu banyak sekali apalagi di daerah perdesaan yang belum memahami pentingnya menjaga area kebersihan,” tuturnya.
EKLAMPSIA
Adapun eklampsia merupakan kondisi serius yang dialami akibat preeklamsia pada ibu hamil, ditandai adanya kejang. Kondisi ini harus segera segera ditangani karena dapat membahayakan tidak hanya nyawa sang ibu tetapi juga bayi yang dikandungnya.
Eklamsia bisa terjadi pada saat ibu hamil mengalami hipertensi berat atau preeklamsia, dan sudah muncul kejang-kejang yang dapat diikuti dengan penurunan kesadaran atau tatapan kosong.
Dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita Akira Prajudianto mengatakan bahwa penyebab utama kematian pada bayi disebabkan oleh beberapa risiko yaitu asfiksia, infeksi, dan bayi prematur.
Asfiksia adalah kondisi saat bayi tidak dapat bernafas secara spontan setelah dilahirkan. Beberapa penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir antara lain partus macet atau partus lama keran bayi menyangkut di dalam jalan lahir sehingga kekurangan oksigen dan tidak bisa bernafas. Penyebabnya bisa dari faktor ibu, faktor tali pusat maupun dari faktor bayinya itu sendiri.
Di samping asfiksia, kelahiran bayi dengan berat badan rendah atau prematur juga merupakan salah satu penyebab terbesar kematian pada bayi. Apalagi jika bayi memiliki berat lahir di bawah 1.000 gram sebab memiliki berbagai risiko karena belum sempurnanya organ tubuh bayi.
Namun, dengan berbagai kecanggihan teknologi yang dimiliki oleh sejumlah rumah sakit di Indonesia, bayi dengan berat di bawah 1.000 gram banyak yang sudah terselamatkan. “Dulu bayi di bawah 1.000 gram harapan hidupnya sangat kecil sekali, sekarang sudah banyak bayi prematur yang di bawah 1.000 gram mampu bertahan hidup,” ujarnya.
Meski demikian, orang tua perlu memberikan perhatian khusus kepada bayi-bayi prematur tersebut karena adanya berbagai risiko yang dihadapi mulai dari risko pernafasan, penglihatan, gangguan metabolisme, hingga tumbuh kembang.
Kondisi-kondisi bayi yang memiliki risiko ini harus ditangani di rumah sakit yang sudah memiliki kualifikasi dan memiliki ruangan neonatal intensive care unit (NICU) tidak bisa melalui bidan.
Pakar Komunikasi Kesehatan Irwan Julianto mengatakan bawah kematian pada bayi dan ibu sebetulnya dapat dicegah melalui deteksi dini dan penanganan yang tepat.
Apalagi, saat ini 60% kematian ibu dan 78% kematian neonatal terjadi di fasilitas kesehatan. Kondisi ini menekankan pentingnya peningkatan kualitas layanan kesehatan dalam setiap tahap, mulai dari pemeriksaan kehamilan, layanan persalinan, hingga pascapersalinan.
“Sebetulnya masalah-masalah tersebut sebagian besar dapat diselesaikan dengan perbaikan di sektor non kesehatan. Ini menunjukan bahwa pentingnya kontribusi seluruh sektor terkait upaya menurunkan kematian ibu dan neonatal,” tuturnya.
(JIBI/Bisnis Indonesia/Dewi Andriani)