IMBAS PENOLAKAN ROLL OVER PEMEGANG POLIS Jiwasraya Butuh Dana Segar

JAKARTA—Pengamat asuransi Irvan Rahardjo melihat aksi sejumlah pemegang polis PT Asurani Jiwasraya (Persero) yang menolak roll over sabagai hal
yang wajar.

Leo Dwi Jatmiko
redaksi@koransolo.co

Menurut Irvan, mereka mem-butuhkan uang tunai karena didesak oleh sejumlah kebutuhan seperti dana pendidikan. Di samping itu, imbuh dia, alasan lain nasabah menolak roll over karena iklim investasi yang sedang bergejolak, sehingga memiliki uang tunai diyakini lebih baik daripada menginvestasikannya.
“Menurut mereka mungkin memegang uang tunai sekarang yang terbaik dikarenakan nilai investasi di sejumlah instrumen seperti saham, deposito, dan lain-lain sedang anjlok,” kata Irvan di Jakarta, Selasa (25/12).
Irvan menyarankan Jiwasraya untuk mencari pendanaan agar mampu membayar tuntutan nasabah yang menolak roll over.
Dia mengatakan beberapa cara yang dapat ditempuh Jiwasraya di antaranya yakni, dengan mengoptimalisasikan sejumlah bangunan Jiwasraya, atau menjual saham yang dimiliki meskipun merugi untuk memenuhi tuntutan nasabah.
“Rugi itu harus mereka tanggung karena menghadapi tuntutan nasabah. Cara lain mengoptimalisasikan aset-aset nonproduktif, dijaminkan ke bank kemudian mereka dapat dana atau menerbitkan bond atau surat berharga untuk gedung-gedung itu,” kata Irvan.
Irvan menjelaskan pemenuhan kewajiban nasabah yang menolak roll over, tidak bisa mengandalkan dana talangan dari bank mitra.
Menurut Irvan, produk Jiwasraya yang dipermasalahkan sejumlah nasabah merupakan produk asuransi bukan produk lembaga penjamin simpanan (LPS) atau perbankan.
“Perbankan tidak dibenarkan menalangi produk yang bukan produk dia, dan itu nanti menyalahi prudential Bank Indonesia, karena itu bukan produk perbankan,” ucap Irvan.
Bayar Klaim
Sebelumnya, PT Jiwasraya
menunda pembayaran klaim JS Proteksi Plan, salah satu produk bancassurance Jiwasraya, karena perusahaan mengalami tekanan likuiditas akibat kondisi pasar yang tidak stabil. Jiwasraya baru mampu membayar bunga jatuh tempo hingga 10 Oktober 2018 yang senilai Rp802 miliar berasal dari 711 polis.
Polis tersebut tersebar di tujuh mitra bancassurance di antaranya Standard Chartered Bank, Bank KEB Hana Indonesia, Bank Victoria, Bank ANZ, Bank QNB Indonesia, Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Tabungan Negara (BTN).
Direktur Utama PT Asuransi Jiwa-
sraya (Persero) Hexana Trisasongko mengatakan perseroan selalu siap berdialog dengan nasabah Jiwasraya mengenai masalah gagal bayar polis jatuh tempo.
Berdasarkan pengalaman dan
kesepakatan dengan mitra banc-assurance, sambung Hexana, me-
kanisme komunikasi dilakukan
lewat mitra perbankan terlebih dahulu. Dia  memohon kepada pe-
megang polis untuk menghu-bungi bank masing-masing
agar diatur jadwal pertemuan
dengan pihak Jiwasraya.
“[Dialog] kami lakukan dalam bentuk co-handling dan one on one atau small group. Itu lebih baik,” ujar Hexana, Senin (24/12).
Selain pertemuan, Hexana menyatakan upaya Jiwasraya dalam berkomunikasi dengan pemegang polis juga dilakukan melalui pesan elektronik dan surat. Perusahaan asuransi jiwa berpelat merah itu terus memberi kabar terbaru mengenai kondisi Jiwasraya.
“Jadi tidak benar kami mengabaikan mereka. Kalau belum bisa membayar pokok itu betul. Kami baru bisa bayar bunga, jadi return on investment masih terjaga,” kata Hexana.
Kordinator Forum Komunikasi Pemegang Polis Bancassurance Jiwasraya, Rudyantho, mengatakan saat ini nasabah masih membuka diri untuk bertemu dengan pihak Jiwasraya dan pemegang saham dalam menyelesaikan permasalahan pembayaran polis jatuh tempo. Adapun nilai pembayaran polis yang harus dibayarkan Jiwasraya kepada para nasabah di forum, kata Rudyantho, lebih dari Rp500 miliar. Angka itu dia yakini terus bertambah seiring dengan lambatnya kepastian yang diberikan Jiwasraya. (JIBI)