keracunan wonogiri Korban Bertambah 14 Orang

WONOGIRI—Warga yang sakit setelah makan menu pesta perayaan Tahun Baru dan minum minuman bersoda di Menger RT 001/RW 002, Kedunggupit, Sidoharjo, Wonogiri, Senin (31/12) lalu, bertambah 14 orang.

Rudi Hartono
redaksi@koransolo.co

Mereka dirawat inap di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso, puskesmas, dan klinik kesehatan, sejak Rabu (2/1) pagi. Bahkan, satu orang harus dirawat di Ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD. Sementara itu, faktor penyebab dugaan keracunan masih misteri.
Salah satu korban, Paiman, 45, dirawat di Ruang ICU. Dia masuk rumah sakit Rabu sore. Selain itu ada tiga warga yang dirawat inap di Puskesmas Jatisrono. Ketiganya masuk puskesmas, Kamis pagi. Dua warga lainnya menjalani rawat inap di klinik di Sidoharjo. Mereka menambah panjang daftar warga yang sakit. Totalnya tercatat 39 orang dari seluruh peserta kegiatan lebih dari 40 orang. Sebelumnya, terdapat 25 warga yang menjalani pemeriksaan di Klinik Sabrina, Sidokriyo, Ngadirojo, Selasa (1/1) pukul 23.00 WIB hingga Rabu pukul 07.00 WIB dan puskesmas. Sebanyak 13 orang dirawat inap di klinik, selebihnya rawat jalan. Warga yang dirawat inap di RSUD, puskesmas, dan klinik di Sidoharjo bukan warga yang sebelumnya menjalani pemeriksaan di Klinik Sabrina.
Pejabat Humas RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso, Iwan Sulistya, mengatakan kondisi para pasien Kamis kemarin sudah mulai membaik. Mereka sadar sepenuhnya. Namun, mereka masih membutuhkan perawatan. Mereka dirawat di empat ruang, yakni Cempaka, Dahlia, Aster, dan ICU. Kondisi pasien yang dirawat di ICU juga sudah membaik. Awalnya pasien bersangkutan diberi selang nasogastrik (Ngt) untuk memasukkan nutrisi cair. Selang Ngt dipasang melalui lubang hidung sampai lambung. Pada Kamis selang itu sudah dilepas dan diobservasi.
“Jika tidak ada masalah pasien boleh pindah rawat bangsal non-ICU,” kata Iwan.
Pantauan Koran Solo di Ruang Cempaka, masih ada dua pasien yang dirawat dengan diinfus. Keduanya yakni Gilang Purnayuda, 15, siswa kelas IX SMP dan Ervan Alfantio, 13, siswa kelas VII SMP. Mereka masih terlihat lemas dan mengaku pusing. Namun, kondisi itu jauh lebih baik dari pada saat kali pertama masuk RS. Gejala klinis yang mereka rasakan kali pertama badan panas, tetapi saat yang sama merasa kedinginan. Seiring berjalannya waktu pusing dan perut sakit. Gilang kali pertama merasakan sakit, Rabu pagi, sedangkan Ervan sejak Selasa malam.
Keluarga Gilang, Warto, 60, meng­informasikan selain dilarikan ke RSUD, ada tiga orang yang dirawat inap di Puskesmas Jatisrono mulai Kamis pagi dan dua orang dirawat inap di klinik di Sidoharjo. Sampai saat ini dia masih bingung karena penyebab yang membuat warga sakit masih menjadi misteri. Menurut dia, hanya warga yang ikut makan ikan nila dan ayam bakar di acara karang taruna yang sakit.
Sementara, dirinya dan belasan warga lain yang makan bersama secara terpisah tetap sehat. Padahal, daging ayam yang dibakar di tempatnya makan dan di tempat acara karang taruna berasal dari sumber sama, yakni dari salah satu keluarga sukses merantau.
Perangkat Desa Kedunggupit, Deden Sugiyarto, mengaku masih penasaran dengan penyebab para warga sakit setelah menyantap menu pesta perayaan pergantian tahun.
Menurut dia kasus tersebut berbeda dengan kasus keracunan makanan lainnya yang reaksinya cepat. Reaksi klinis yang dialami warganya cukup panjang, yakni mulai sehari hingga dua hari setelah makan.
“Petugas puskesmas sudah turun ke lapangan memberi obat warga yang tak menunjukkan gejala,” kata Kasi Perencanaan itu.
Sementara itu, perawat Klinik Sabrina, I Putu Keanu, menginformasikan lima dari 13 pasien rawat inap sudah pulang pada Rabu sore dan Kamis pagi. Kondisi yang masih dirawat sudah membaik. Dia memperkirakan banyak dari mereka yang sudah bisa pulang, Kamis sore.