Indonesia Merasakan Dua Gerhana

Dari awal hingga akhir tahun, 2019 akan diisi dengan beberapa kejadian astronomi yang langka, termasuk lima gerhana. Namun, Indonesia hanya akan mengalami dua gerhana saja yang bisa dilihat di Tanah Air. Berikut laporan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.

redaksi@koransolo.co

Pada pekan pertama Januari, Anda bisa menikmati gerhana Matahari parsial yang akan terjadi pada 6 Januari. Sementara pada 20 dan 21, gerhana Bulan biasa akan terjadi karena Bulan berada pada titik terdekat ke Bumi dan menjadikannya tampak lebih besar dan terang. Kondisi ini dinamakan supermoon.
Ahli astronomi kelautan, Bruce McClure, dari EarthSky.org, mengatakan gerhana Matahari parsial pada 6 Januari 2019 dimulai saat Matahari terbit di Asia, kemudian bergerak dengan cepat ke timur selama sekitar 4,25 jam, akhirnya mengakhiri Matahari terbenam di kepulauan Aleut yang membentang dari Alaska.
“Tergantung di mana Anda tinggal, ini akan jatuh pada hari Sabtu atau Minggu. Mengingat gerhana selalu berpasangan atau kembar tiga, gerhana Bulan di Januari akan menyusul hanya dua pekan kemudian,” kata McClure dikutip dari express.co.uk, Minggu (6/1)
Menurut Mr McClure, gerhana Matahari selalu jatuh pada dua pekan setelah gerhana Bulan. Dia mengatakan hal tersebut karena gerhana Matahari pertama datang begitu awal di 2019, yang menyisakan cukup waktu untuk gerhana Matahari ketiga terjadi sebelum akhir 2019.
Setiap tahunnya, setidaknya gerhana bisa terjadi minimal empat kali gerhana dan maksimal tujuh kali gerhana. Di tahun ini, akan terjadi lima kali gerhana. Gerhana dimulai dari gerhana parsial 5 Januari 2019; gerhana Bulan total 20 Januari 2019; gerhana Matahari total 2 Juli 2019; gerhana Bulan parsial 17 Juli 2019; dan gerhana Matahari cincin pada 26 Desember 2019. Namun, tidak semua dari lima gerhana di tahun ini bisa diamati di Indonesia. Hanya dua yang bisa diamati, yaitu gerhana Bulan parsial 17 Juli 2019 dan gerhana Matahari cincin 26 Desember 2019.
Tak lama setelah gerhana Matahari total 2 Juli, pada 17 Juli orang-orang di Eropa, Afrika, Asia Selatan dan Australia bisa menikmati gerhana Bulan sebagian. Pada waktu Bulan purnama, Bulan akan menyelam sekitar dua pertiga menuju bayangan umbra Bumi. Ini adalah waktu terbaik untuk orang-orang menikmati langit di Eropa, Afrika, dan (sebelum fajar pada 17 Juli) di Asia Selatan dan Australia.
Jalur Gerhana
Berbeda dengan gerhana total 28 Juli 2018, gerhana Bulan parsial adalah ketika sebagian wajah bulan saja yang terhalang umbra bumi. Artinya dalam puncak gerhana tidak akan menyaksikan Bulan yang berubah warna tetapi hanya bulan yang tampak seperti tergigit. Pada puncak gerhana parsial 65%, Bulan akan masuk umbra Bumi. Total durasi akan mencapai lima jam 34 menit sementara itu durasi gerhana parsial mencapai dua jam 58 menit.
Gerhana Bulan pada 17 Juli 2019 dapat diamati pada pukul 01.43 WIB, ketika bulan masuk bayangan penumbra. Gerhana Bulan sebagian atau parsial akan masuk pada pukul 03.01 WIB, puncaknya pukul 04.30 WIB, dan gerhana parsial berakhir pukul 04.59 WIB. Gerhana akan benar-benar berakhir saat Bulan keluar dari penumbra 07.17 WIB.
Fenomena alam di tahun ini akan ditutup dengan gerhana Matahari cincin pada 26 Desember. Gerhana ini akan membayangi belahan Bumi timur sekitar 13.000 mil (13.000 km) selama 3,3 jam. Penduduk Indonesia juga bisa menikmati fenomena ini.
Gerhana ini akan dimulai pada subuh di Riyadh, Arab Saudi, selama dua menit 59 detik. Gerhana terbesar (dengan durasi pusat berlangsung tiga menit 39 detik) datang di Sumatra bagian timur. Sebagian besar dari 5,5 juta penduduk Singapura berada tepat di jalur cincin Matahari. Lalu gerhana Matahari sebagian bisa diamati di sebagian besar Asia selatan dan Australia.
Di akhir tahun, Indonesia disuguhi pemandangan gerhana Matahari cincin. Dalam gerhana Matahari cincin 26 Desember 2019, warga bisa melihat Matahari yang tadinya bulat berwarna menjadi tertutupi di tengah-tengahnya dan terlihat seperti cincin. Ketika gerhana terjadi, Bulan sedang berada di titik terjauhnya dari Bumi yaitu apogee.
Fenomena itu membuat sudut Bulan menjadi lebih kecil dalam pandangan Bumi, sekitar 1,2 menit busur lebih kecil daripada diameter sudut Matahari.
Saat Bulan melintas di depan Matahari, ia menyisakan sisi terluar Matahari yang tidak terhalangi, tepatnya hanya 94% wajah matahari yang terhalang oleh bulan.
Wilayah-wilayah Indonesia yang akan dilalui jalur gerhana Matahari cincin 26 Desember 2019 di antaranya adalah Pulau Simeulue, Sinabang, Aceh Singkil, Sibolga, Padangsidempuan, Balaipungut, Tanjungpinang, Kijang, Sungai Raya, Pemangkat, Singkawang dan Tanjung Selor. Selain wilayah ini, berarti Pulau Jawa akan mendapat gerhana Matahari parsial saja.
Secara global, gerhana Matahari cincin akan mulai berlangsung pada 10.34 WIB sampai dengan 14.01 WIB. Puncaknya akan terjadi pada 12.17 WIB. Gerhana Matahari cincin pertama kali menyentuh daratan Indonesia dari Pulau Simeulue mulai pukul 11.50 WIB, kemudian bergerak menuju Pulau Nias, Aceh Singkil, Sumatra Utara, Riau, Batam, dan Pulau Bintan.
Selanjutnya gerhana Matahari cincin akan melintasi Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Pulau Miangas akan menjadi daratan terakhir yang dilintasi pada pukul 13.31 WIB. (JIBI/express.co.uk/liputan6.com/infoastronomy.org)