2020, Hasil Produksi Sapi Bisa Dipanen

JAKARTA—Hasil produksi sapi perah dan sapi potong sejumlah 2,7 juta ekor dari program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) bisa mulai dinikmati pada 2020.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita mengatakan selama dua tahun Upsus Siwab berjalan sudah melahirkan 2,74 juta ekor. Dari jumlah tersebut 500.000 ekor di antaranya adalah sapi perah sementara 2,2 juta ekor sisanya adalah sapi potong.
Jumlah sapi perah yang dilahirkan lebih sedikit karena populasi jenis itu pun terbatas, yakni 250.000 ekor jantan dan 250.000 ekor betina. Selain itu, Ketut mengatakan Upsus Siwab lebih memfokuskan dalam penambahan populasi sapi potong supaya produksi daging sapi juga meningkat.
“Dari kelahiran 2,7 juta ekor sapi perah tidak begitu banyak. Kami fokus kepada sapi potong, kalau lahir 2017-2018 kemungkinan baru bisa potong tiga tahun lagi,” ujar dia di Jakarta, Selasa (8/1).
Ketut mengatakan dalam setahun sebenarnya sapi yang dipotong dalam negeri sebanyak 2,3 juta ekor atau setara dengan 660.000 ton produksi daging sapi. Jumlah tersebut setara dengan yang dilahirkan dalam dua tahun terakhir.
Namun, Ketut menyampaikan meskipun pada 2020 bisa menikmati hasil dari lonjakan populasi sapi, namun hal tersebut juga seiring dengan pertambahan populasi manusia.
“Selama ini 67% produksi sapi dipotong dari sapi lokal. Dengan program ini bisa menambah peningkatan populasi sapi karena konsumen pasti akan bertambah lagi. Loncatan konsumsi penduduk juga ada. Apakah tren keduanya akan seimbang, menurut saya populasi sapi harusnya bertambah dua kali lagi,” papar dia.
Selain itu, penambahan indukan impor juga telah dilakukan oleh pemerintah pada 2015 dan 2016 sebanyak 6.323 ekor yang didistribusikan ke Provinsi Kalimantan Timur, Aceh, Sumatra Utara dan Riau. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan oleh Ditjen PKH Kementan pada November 2018, indukan impor yang dipelihara oleh kelompok peternak saat ini telah berkembang menjadi sebanyak 7.439 ekor atau telah mengalami pertumbuhan sebesar 17,65% karena bertambah 1.116 ekor dari jumlah awal.
“Kami juga telah menambah sapi indukan impor sebanyak 2.065 ekor pada 2018 dan telah mendistribusikannya kepada 115 kelompok peternak dan 8 UPTD yang tersebar di 14 provinsi, di antaranya Provinsi Lampung, Bangka Belitung,  Jambi,  Sumatra Selatan,  Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Barat, Bengkulu, Yogyakarta,  Kalimantan Barat,  Jawa Tengah,  Jawa Timur, dan Jawa Barat”, ungkap I Ketut.
I Ketut berharap dengan adanya penambahan indukan impor ini diharapkan terjadi peningkatan produksi daging sapi dalam negeri dan bertambahnya usaha sapi berskala usaha komersil di tingkat peternak, sehingga populasi secara nasional akan bertambah, sekaligus akan bertambah sumber input produksi sebagai investasi yang menjadi pondasi menuju swasembada daging sapi yang dicanangkan tercapai pada 2023. (Pandu Gumilar/JIBI)