EVAKUASI TRUK ELPIJI Hidup dan Mati Satria Kebencanaan di Sumberlawang

Tri Rahayu

Dua unit crane berkapasitas 25 ton dan 30 ton didatangkan dari Solo. Petugas kebencanaan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPD), Pemadam Kebakaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Palang Merah Indonesia (PMI) atau PSC 119, bersama aparat Polri dan TNI sudah bersiap di Jl. Solo-Purwodadi km 31, Mojopuro, Sumberlawang. Mereka bersiap untuk mengevakuasi truk tangki elpiji dengan beban gas seberat 15.000 kg yang terguling di pinggir jalan itu, Senin (7/1).
Jarum jam menunjukkan pukul 23.15 WIB. Arus lalu lintas dari arah Solo dan Purwodadi sebagian dialihkan karena evakuasi membutuhkan waktu lama dan harus menutup jalan. Kepala Pelaksana BPBD Sragen Sugeng Priyono menyiapkan personelnya. Tiga petugas pemadam kebakaran tak henti-hentinya menyemprotkan air pada tangki elpiji agar suhunya stabil dingin. Sugeng memperkirakan bila terjadi kecelakaan harus ada jalur evakuasi untuk lari. “Nanti kalau terjadi apa-apa lewat jalur ini,” kata Sugeng kepada personel Damkar dan BPBD malam itu.
Dua unit crane siap mengangkat truk dengan berat total sekitar 30 ton itu. Truk diangkat dengan dua crane secara berbarengan. Dalam hitungan detik, tiba-tiba terdengar suara kruk…kruk…bruk! Tiang dan dasaran tiang crane patah dan jatuh menimpa tangki truk. Dua petugas pemadam kebakaran langsung berusaha menyemprotkan air ke mesin crane yang tiang katrolnya ambruk.
“Ya, ada percikan api dan bahan bakarnya mancur ke atas. Hebat Pemadam Kebakaran. Mereka dengan sigap langsung menyemprot mesin crane itu kalau tidak bisa meledak. Padahal kondisi petugas pemadam kebakaran itu sudah pucat setelah lolos dari maut. Benar-benar perjuangan antara hidup dan mati,” ujar Sugeng saat ditemui Espos, Selasa (8/1) pagi.
Crane yang runtuh itu terjadi sekitar pukul 00.06 WIB. Jatuhnya tiang katrol itu nyaris mengenai petugas pemadam kebakaran yang sejak awal menjaga suhu tangki elpiji itu. Untungnya petugas pemadam kebakaran itu bisa menghindar dengan jarak hanya 3 meter dari robohnya tiang crane berkapasitas 25 ton.
“Waduh mati ini! Saat saya cek, mereka berteriak aman, Ndan. Hati ini merasa lega,” kata Sugeng yang berada di jarak 10 meter dari tiang crane yang roboh itu.
Jalur untuk Lari
Personel Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Sragen, Joko Ari Atmojo, berhasil mengabadikan momentum menegangkan itu dalam rekaman video di ponselnya. “Semua orang yang ada di situ seperti orang bingung. Untungnya ambruk crane itu tidak langsung seketika tetapi kruk…kruk… baru bruk. Semua berlari. Sejak awal sudah disiapkan jalur untuk lari. Dan ternyata ada yang masuk ke kandang ayam. Akhirnya semua selamat,” ujarnya.
Proses evakuasi berlangsung sejak Senin pukul 23.15 WIB sampai Selasa pukul 03.00 WIB. Joko menerangkan ada personel BPBD yang stand by di Sumberlawang. Craine yang ambruk, kata dia, sudah disingkirkan sejak pukul 04.00 WIB supaya tidak mengganggu lalu lintas. “Kondisi truk masih terguling di tempat semula. Kami masih menunggu crane tambahan dengan kapasitas 40 ton dari solo,” ujarnya.
Kapolres Sragen AKBP Yimmy Kurniawan melalui Kapolsek Sumberlawang Kompol Suseno menyatakan lalu lintas jalan Solo-Purwodadi lancar karena crane yang roboh sudah dievakuasi.
Berdasarkan pantauan Koran Solo pada pukul 14.00 WIB, evakuasi truk tangki berhasil dilakukan lanjutan masih dilakukan.