TARIF SMU NAIK Aperindo Minta Pemerintah Miliki Pesawat Kargo

SEMARANG—Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) mendesak Pemerintah untuk mengadakan pesawat kargo yang menerbangi masing-masing bandara di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Bali, Makassar, Balikpapan, dan lain-lain.
Hal ini imbas naiknya tarif SMU (Surat Muatan Udara) di beberapa airlines.
Ketua Asperindo Jateng, Tony Winarno, menjelaskan terkait tarif SMU, yaitu tarif biaya pengiriman di luar handling (penanganan) dan lainnya. Sampai saat ini, pihaknya mendapat laporan dari beberapa airlines seperti Garuda sudah naik lima kali, Sriwijaya tiga kali, dan Lion Air tiga kali.
Kenaikan ini sangat memukul perusahaan jasa pengiriman ekspres, karena biaya pengiriman ekspres menjadi hal utama bagi biaya yang harus dibayar. Maka dari itu, hal ini beprengaruh tidak hanya kepada perusahaan anggota Asperindo, tapi juga kepada para pelanggan semuanya yang notabene adalah pelaku UMKM dari Jateng.
”Bayangkan saja, seperti contoh Sriwijaya, mengirim dari Semarang ke Makassar, sekarang ini dari harga Rp9.000 menjadi Rp24.000 per 10 kilogram artinya kenaikan hampir 250%,” ujar Tony, di Semarang, Selasa (8/1).
Melihat hal ini, Asperindo tidak berdiam diri dan sudah mengirimkan surat resmi kepada Menteri Koordinator Perekonomian, mengenai masalah kenaikan tarif SMU yang terjadi hampir di seluruh Indonesia tidak hanya Semarang.
Namun, menurut Tony, sampai saat ini surat tersebut belum mendapat tanggapan dan belum di handle oleh Pemerintah. Salah satu cara untuk mendapat jawaban, pihaknya mencoba bertanya ke airlines terkait kenaikan yang ternyata disebabkan oleh banyak hal. Karena ketika harga minyak dunia turun dan rupiah menguat artinya avtur pesawat turun, tapi tarif SMU malah naik.
Hitung
Banyak hal yang dilakukan yaitu pengelola bandara, fasilitator bandara dalam hal ini Angkasa Pura satu atau lain-lain, pihaknya tidak berbicara Angkasa Pura Semarang saja, tapi semuanya termasuk BLU (Badan Layanan Umum Bandara), semua menaikkan tarif untuk handling terutama bagi penumpang.
”Jadi kenaikan tersebut, dari airlines adalah mereka menghitungnya total dari berat, service seperti biaya parkir pesawat naik 20%, penumpang dan kargo juga naik. Hal ini juga dibarengi dengan kenaikan konsesi atau bagi hasil kepada fasilitator bandara,” papar dia.
Penanggung jawab Delta Aero Support, Mustofa Kamal mengatakan kenaikan luar biasa terjadi dari sisi penerbangan, semisal contoh pengiriman ke Jakarta itu hanya Rp3.800 sampai Rp4.100, sekarang bisa mencapai Rp7.400 hal ini berpengaruh pada volume pengiriman.
Selain itu, dengan kenaikan SMU pihaknya berharap pendapatan mengalami kenaikan. Tapi pada kenyataannya tidak demikian, karena tidak diimbangi dengan penurunan komisi agen, jadi dari 7 persen menjadi 3 persen.
”Saya contohkan untuk grafik perkembangan tonase pengiriman dari awal 2018 kami bisa mencapai 800 ton per bulan. Kemudian di triwulan kedua kami mengalami penurunan hanya sekitar 500 ton, dan triwulan terakhir Desember hanya sekitar 80 ton,” jelas Kamal. (Alif Nazzala Rizqi/JIBI)