infrastruktur komunikasi Target Penting Palapa Ring

redaksi@koransolo.co

Pemerintah menjadikan Palapa Ring sebagai target krusial untuk melancarkan jaringan komunikasi melalui serat optik. Integrasi secara keseluruhan Palapa Ring dari barat sampai timur ditargetkan dilaksanakan pada pertengahan 2019. Berikut laporan yang dihimpun wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menargetkan proyek jaringan tulang punggung serat optik paket Palapa Ring Timur dapat rampung pada kuartal pertama tahun ini. Integrasi keseluruhan paket Palapa Ring disebut bakal dilaksanakan pertengahan 2019.
Rudiantara mengatakan saat ini, progres pembangunan infrastruktur Palapa Ring Timur telah mencapai 89,39%. Paket terakhir ini diyakini dapat rampung secepatnya kendati sempat terjadi beberapa gangguan seperti yang baru-baru ini terjadi di salah satu titik pembangunan di Nduga, Papua.
Menurut dia, meski di kawasan tersebut pengerjaan proyek sempat dihentikan karena menunggu situasi aman, pengerjaan di titik lainnya tetap dilaksanakan sesuai dengan rencana. “Proyek tidak boleh berhenti,” papar Rudiantara, seperti dikutip dari Bisnis.com, Rabu (9/1).
Dia melanjutkan setelah Palapa Ring Timur rampung, paling lambat pertengahan tahun ini pihaknya akan melakukan integrasi keseluruhan mulai dari Palapa Ring Barat, Palapa Ring Tengah sampai Palapa Ring Timur.
Seiring dengan progres penyelesaian proyek, proses kerja sama dengan operator juga disebut terus berjalan dan diharapkan per akhir 2019 sudah mulai ada operator yang memanfaatkan jaringan tulang punggung Palapa Ring. Dari ketiga paket proyek Palapa Ring, dua di antaranya telah rampung. Pengerjaan Palapa Ring Barat telah selesai sejak Maret 2018 dan mulai beroperasi sedangkan Palapa Ring Tengah resmi beroperasi sejak 21 Desember 2018.
Palapa Ring adalah suatu proyek pembangunan jaringan serat optik nasional yang akan menjangkau sebanyak 34 provinsi, 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia dengan total panjang kabel laut mencapai 35.280 kilometer, dan kabel di daratan adalah sejauh 21.807 kilometer.
Serat optik merupakan saluran transmisi yang terbuat dari kaca atau plastik yang digunakan untuk mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat ke tempat lain. Cahaya yang ada di dalam serat optik sulit keluar karena indeks bias dari kaca lebih besar daripada indeks bias dari udara.
Sumber cahaya yang digunakan adalah laser karena mempunyai spektrum yang sangat sempit. Kecepatan transmisi serat optik sangat tinggi sehingga sangat bagus digunakan sebagai saluran komunikasi. Serat optik umumnya digunakan dalam sistem telekomunikasi serta dalam pencahayaan, sensor, dan optik pencitraan.
Serat optik terdiri dari dua bagian, yaitu cladding dan core. Cladding adalah selubung dari core. Cladding mempunyai indeks bias lebih rendah daripada core. Nantinya, bagian core ini memantulkan kembali cahaya yang mengarah keluar dari core kembali ke dalam core lagi. Sebagai catatan, efisiensi dari serat optik ditentukan oleh kemurnian dari bahan penyusun gelas. Semakin murni bahan gelas, semakin sedikit cahaya yang diserap oleh serat optik.
Palapa O2 Ring
Reliabilitas dari serat optik dapat ditentukan dengan satuan Bit Error Rate (BER). Salah satu ujung serat optik diberi masukan data tertentu dan ujung yang lain mengolah data itu. Dengan intensitas laser yang rendah dan dengan panjang serat mencapai beberapa km, maka akan menghasilkan kesalahan. Jumlah kesalahan persatuan waktu tersebut dinamakan BER. Dengan diketahuinya BER maka, jumlah kesalahan pada serat optik yang sama dengan panjang yang berbeda dapat diperkirakan besarnya.
Terinspirasi oleh sejarah bangsa, pemerintah Indonesia menggunakan Palapa Ring sebagai nama proyek pembangunan infrastruktur jaringan tulang punggung bagi telekomunikasi nasional. Cikal bakal dari Palapa Ring adalah Nusantara 21 yang merupakan proyek awal pemerintah pada 1998. Namun, krisis ekonomi yang melanda Indonesia membuat proyek tersebut tidak berjalan. Januari 2005, pada ajang Infrastructure Summit I, wacana pembangunan infrastruktur telekomunikasi kembali mencuat ke permukaan.
Setelah Nusantara 21 tenggelam, muncul ide Cincin Serat Optik Nasional (CSO-N) yang diprakarsai oleh PT Tiara Titian Telekomunikasi (TT-Tel). Aplikasi tersebut merupakan jaringan kabel kasar bawah laut berbentuk cincin terintegrasi berisi frekuensi pita lebar yang membentang dari Sumatra Utara hingga Papua bagian barat dengan perkiraan panjang sekitar 25.000 km. Setiap cincin akan meneruskan akses frekuensi pita lebar dari satu titik ke titik lainnya di setiap kabupaten. Akses tersebut akan mendukung jaringan serat optik pita lebar berkecepatan tinggi dengan kapasitas 300 gbps hingga 1.000 gbps di daerah tersebut.
Pemerintah kemudian memopulerkan gagasan tersebut dengan nama Palapa O2 Ring. Akan tetapi karena mirip dengan merek dagang salah satu ponsel, pemerintah mengubah nama proyek serat optik ini menjadi Palapa Ring.
Rencana pemerintah, Palapa Ring merupakan jaringan serat optik pita lebar yang berbentuk cincin yang mengitari tujuh pulau, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, serta delapan jaringan penghubung dan satu cincin besar yang mengelilingi Indonesia baik lewat dasar laut atau pun lewat daratan.
Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti), Anang Latief, mengatakan proyek Palapa Ring Timur merupakan proyek yang paling menantang untuk diselesaikan. Namun ia optimis pada kuartal pertama 2019 pembangunan proyek ini akan selesai.
Harapannya dengan Palapa Ring, semua layanan pita lebar internet cepat lewat ponsel maupun Internet di sekolahan, di puskesmas, di tempat-tempat lainnya tentunya akan menjadi harapan kita semua, apa yang ada di Jawa kita bawa ke seluruh perbatasan,” paparnya. (JIBI/Bisnis.com/Detikcom)