KASUS HOAKS 7 KONTAINER SURAT SUARA Buang Ponsel, Tersangka Ditangkap di Sragen

TRI RAHAYU

SRAGEN—Tersangka pembuat ka­bar hoaks tujuh kontainer surat suara dicoblos, Bagus Bawana Putra, ditangkap di Sragen, Senin (7/1) pukul 02.30 WIB.
Bagus kabur ke Sragen setelah hoaks yang dibuatnya viral. Dia membuang ponsel dan SIM card ponsel-nya lalu meninggalkan rumahnya di Bekasi. Namun, jejak digital tersangka bisa ditemukan polisi.
”Ditangkap 7 Januari [2019], pukul 02.30 di wilayah Sragen,” jelas Direktur Tindak Pidana Siber Polri, Brigjen Pol. Albertus Rachmad Wibowo, di Mabes Polri, Rabu (9/1).
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 4
Bagus baru sekitar empat jam berada di rumah adiknya sebelum akhirnya ditangkap polisi. Dia tiba di Sragen, Minggu (6/1) sekitar pukul 22.00 WIB dan kemudian ditangkap Senin pukul 02.30 WIB.
Dia berniat ziarah ke makam ibunya di Tanon, Sragen. Sebelum ziarah ke makam ibunya, Bagus menginap di rumah adiknya yang tidak lain pemilik Rumah Bekam di Karangasem, Tanon. Rumah itu dihuni Esty, 40, adik kandung Bagus bersama suaminya Nugroho dan anak-anaknya. Esty dan Nugroho tak ada di rumah saat Koran Solo bertandang ke rumahnya, Rabu.
Esty saat dihubungi, Rabu sore, menjelaskan Bagus merupakan anak sulung kembar dari enam bersaudara yang lahir di Klaten. Esty awalnya dihubungi Bagus melalui sambungan telepon yang memberitahu akan ke Sragen dari Jakarta untuk ziarah ke tempat ibu. Esty diberi tahu kalau Bagus hendak menginap semalam di rumahnya karena setelah ziarah kembali ke Jakarta.
”Pukul 22.00 WIB [Minggu], Mas Bagus datang. Setelah saya buatkan minum, kemudian tidur. Pada pukul 02.15 WIB, ada orang yang mengetuk pintu dengan suara ‘permisi’. Saya membangunkan suami karena dikira pasien di klinik bekam. Setelah buka pintu, ternyata orang itu tim dari Mabes Polri yang bertujuan untuk menjemput Mas Bagus,” ujar dia.
Esty diminta membangunkan Bagus. Setelah bangun, Bagus sempat diinterogasi polisi selama 30 menit. “Setelah diinterogasi, Mas Bagus langsung dibawa naik mobil,” ujarnya.
Esty semula tidak mengetahui kasus hoaks yang diduga dilakukan kakaknya. “Saya tidak curiga apa-apa. Masa adik kandung di-nebengi tidur tidak boleh. Saya tidak menyangka masalahnya seserius itu. Bapak dan ibu awalnya di Klaten, setelah pensiun tinggal di Slogo, Tanon. Jadi salah itu datanya kalau Mas Bagus orang Sragen,” tuturnya.
Kapolres Sragen AKBP Yimmy Kurniawan mengatakan semula tim Bareskrim Polri menelusuri alamat sesuai KTP, namun ternyata sudah pindah ke Jakarta. ”Tim Mabes Polri kemudian mencari ke tempat bekam itu dan ternyata memang tersangka sembunyi di tempat itu. Jadi tersangka ini kabur dari Jakarta dan lari ke Sragen ini. Setelah ditangkap tersangka langsung dibawa ke Jakarta lewat Bandara Adi Soemarmo Solo,” jelas Kapolres saat dihubungi.
Pusat Laboratorium Forensik (Publabfor) Mabes Polri punya peran penting dalam mengungkap penyebaran hoaks tujuh kontainer surat suara tercoblos. Penyelidikan menggunakan scientific investigation melalui audio forensik. Hal itu dijelaskan Kasubbid Komputer Forensik Mabes Polri, AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar, dalam jumpa pers di Gedung Mabes Polri, Rabu.
Puslabfor yang bekerjasama dengan Tim Siber Bareskrim Polri menguji rekaman suara pembanding sebanyak empat file. Hasilnya, sidik suara atau voice print berhasil ditemukan. ”Dari voice print ini dilakukan komparasi. Kami melakukan uji dengan algoritma DNA terhadap barang bukti. Dengan dilengkapi suara pembanding, kami lakukan uji,” ujar Nuh.
Dia mengungkap DNA suara dalam rekaman tersebut identik dengan suara Bagus. Puslabfor menilai akurasi dari temuan ini sangat kuat sehingga bisa diyakini sepenuhnya. ”Semuanya data 99 persen, tingkat kemiripan yang tinggi. Sangat kuat mendukung hipotesis bahwa itu identik degan suara rekaman atas nama BBP,” tegasnya.
Kendati demikian, Nuh menjelaskan metode ini bisa digunakan dengan minimal rekaman 10 detik. Jika kurang, kata Nuh, identifikasi sidik suara cukup sulit untuk dilakukan. ”10 detik di sini adalah panjang si subjek ngomong, bukan panjang durasi audio,” katanya.
Bagus kali pertama membuat sekaligus menyebarkan hoaks tersebut di Twitter melalui akunnya @bagnatara1. Akun tersebut dikonfirmasi Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol. Dedi Prasetyo. Pada postingan hoaks tujuh kontainer surat suara dicoblos itu, Bagus juga menyebut atau me-mention empat akun politikus, antara lain Fadli Zon, Fahri Hamzah, Andi Arief, dan Mustofa Nahrawardaya. ”Betul itu akunnya, tapi sudah dihapus [akunnya] sama tersangka setelah viral,” ujar Dedi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, cuitan tersebut diposting pada 1 Januari 2019 pukul 23.35 WIB. Namun akun @bagnatara1 tidak lagi ditemukan di Twitter. Berdasarkan keterangan polisi, akun tersebut telah dihapus tersangka saat hoaksnya viral. Bahkan ponsel dan kartu seluler yang digunakan dibuang untuk menghilangkan barang bukti. ”Tapi yang namanya jejak digital itu tidak bisa dihilangkan sekalipun sudah dihapus. Tim Siber Polri punya kompetensi mengungkap itu,” ucapnya.
Esoknya, Bagus membuat rekaman suara terkait informasi tujuh kontainer surat suara dicoblos untuk meyakinkan masyarakat. Rekaman suara itu kemudian disebar ke grup Whatsapp yang ia miliki hingga beredar luas. Akibat perbuatannya itu, Bagus dijerat dengan Pasal 14 ayat (1) dan (2) juncto Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara. (Liputan6.com/JIBI)