Rutan Solo Rusuh, 12 Napi Dipindah

MARIYANA RICKY P.D.

SOLO—Kerusuhan terjadi antara pembesuk dan sejumlah tahanan kelompok laskar Islam dengan narapidana (napi) kriminal biasa (Blok C1) di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IA Solo, Kamis (10/1).
Buntutnya, 12 tahanan dan napi dipindahkan ke tiga lokasi berbeda, yaitu Semarang, Sragen, dan Wonogiri. Kerusuhan itu tidak terlepas dari kerusuhan antarkedua kelompok pada Desember 2018 lalu.
Informasi yang diterima Koran Solo menyebutkan, kericuhan bermula saat jam besuk tahanan, di mana sekitar 20 orang anggota laskar tiba ke rutan untuk membesuk tahanan.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
Saat itu, para pembesuk dari kelompok laskar dibagi per kelompok lima orang dengan waktu sekitar 20 menit untuk menemui tahanan laskar di Aula Rutan. Mereka membesuk Isan alias Abdullah Ihsan, 33, kasus UU Darurat, Rahmad Sardiansyah, 20, Pasal 170 KUHP/Penganiayaan, Komari alias Komar, 39, Pasal 170 KUHP/Penganiayaan, Harnang Tedy, 40, Pasal 170 KUHP/Penganiayaan, dan Geri Angger Raharjo, 19, Pasal 170 KUHP/Penganiayaan.
Saat kelompok pertama, kunjungan berjalan dengan aman. Kemudian saat kesempatan kedua dan pembesuk kelompok laskar hendak pulang, mereka meneriakkan takbir. Teriakan takbir dari kelompok laskar dibalas suara “guk-guk” dari tahanan Blok C1 yang berisi napi kriminal. Blok tersebut berisi antara lain Agus Ardiansyah alias Bebek, 30, napi kasus Pasal 363 KUHP/Pencurian, Ucok Devran Devries, napi kasus Pasal 363 KUHP/Pencurian, dan Koes Setiawan Danang Mawardi alias Iwan Walet, napi kasus Pasal 170 KUHP/penganiayaan.
Cekcok
Kedua kelompok ini sebelumnya pernah terlibat cekcok. Para pembesuk laskar emosi yang selanjutnya mendatangi para napi di Blok C1 yang lantas dilempari batu oleh mereka. Pembesuk dari kelompok laskar membalas lemparan tersebut hingga terjadi aksi saling lempar batu.
“Mereka saling lihat, saling pandang karena cekcok sebelumnya pernah terjadi antarkelompok yang sama pada Sabtu [29/12/2018] lalu. Sebelumnya sudah terkondisikan, namun Kamis ini kembali terulang. Pembesuk kelompok laskar sempat menarik baju salah satu warga binaan dari kelompok napi kriminal hingga terjatuh. Penghuni lain spontan membela,” jelas Kepala Rutan Kelas IA Solo, Muhammad Ulin Nuha, kepada wartawan, Kamis sore.
Melihat kejadian tersebut, pembesuk dari kelompok laskar langsung dibawa keluar oleh pihak pengamanan rutan, sedangkan tahanan dari kelompok laskar juga dipindahkan ke Ruang Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan. Sementara, dari pihak napi kriminal berusaha merangsek hingga menjebol pintu Blok C1 dengan Blok B. Menyikapi hal itu, satu satuan setingkat peleton (SST) Dalmas Polresta Solo tiba di rutan untuk menetralkan keadaan.
Selang beberapa waktu kemudian, sekitar 150 orang Laskar Islam mendatangi rutan meminta Iwan Walet dikeluarkan. Humas Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Endro Sudarsono, menyebut ratusan warga tersebut hanya meminta para pembesuk dikeluarkan dari dalam rutan. “Kepentingannya mengeluarkan pengunjung yang sekitar puluhan tadi agar dilepas sehingga kondusif. Info terakhir, semua sudah keluar. Seharusnya pengamanannya tidak seperti ini, karena kericuhan tidak terjadi sekali. Kami jelas sangat menyayangkan,” ungkapnya.
Setelah sekitar 30 menit menyemut di depan rutan, mereka akhirnya membubarkan diri satu per satu. Wakapolresta Solo, AKBP Andy Rifai, mengatakan keributan yang terjadi antartahanan dan napi hanya kesalahpahaman. Andi juga membenarkan, jika sebelumnya sempat terjadi benturan fisik. Namun, hal itu sudah diredam dan situasi kembali kondusif.
Andy mengatakan 12 tahanan yang terlibat peristiwa itu dipindah ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas I Kedungpane Semarang, LP Kelas IIA Sragen, dan Rutan Kelas IIB Wonogiri. Lima tahanan dari kelompok laskar dipindahkan menggunakan mobil barracuda, begitu pula Iwan Walet. Sisanya dibawa memakai mobil tahanan.
Pascakerusuhan, Wakapolda Jawa Tengah, Brigjen Pol. Ahmad Lutfi, mengunjungi rutan. Dia memastikan situasi bisa dikendalikan. Wakapolda juga sempat menyaksikan proses pemindahan tahanan dan napi. “Pengamanan kami pertebal dan situasi sudah bisa kami kendalikan, pengamanan rutin dikoordinasikan dengan polres den jajaran lain. Polri wajib mengamankan,” kata dia. (JIBI)