Transaksi Muncikari Capai Rp2,8 Miliar

SURABAYA—Polisi menemukan Rp2,8 miliar di dalam rekening tersangka muncikari yang siap dibagikan kepada artis yang terlibat jaringan prostitusi online.

redaksi@koransolo.co

Selain itu, polisi juga menjadwalkan memanggil lima dari 45 artis dan model yang terbukti kuat terlibat dari jaringan prostitusi online.
Mereka masing-masing berinisial AC, TP, BS, ML, dan RF, akan dimintai keterangan sebagai saksi. AC, TP, dan BS masuk dalam jaringan muncikari Tantri Novanta (TN), sementara ML dan RF masuk jaringan muncikari Endang Suhartini alias Sisca (ES). Para artis tersebut berumur di bawah 30 tahun.
”Yang sudah ada buktinya, dan di mana untuk menguatkan bahwa prostitusi online ini besar, kami sudah mengambil hasil data dari mengambil rekening koran ini Rp2,8 M, besar sekali,” ujar Kapolda Jawa Timur (Jatim), Irjen Pol. Luki Hermawan, saat dimintai konfirmasi di Mapolda Jatim, Surabaya, Kamis (10/1).
Luki mengatakan transaksi ini terhitung cukup besar. Sementara pihaknya masih mengembangkan berapa jumlah transaksi dari tersangka lainnya. ”Cukup besar sekali transaksinya dan datanya ada dari perbankan yang kami dapatkan dan akan kami kembangkan terus,” lanjut Luki.
Selain Tantri dan Sisca, ada dua muncikari lagi yang kini masih diburu polisi. Polda Jatim telah mengantongi dua nama muncikari yang juga terlibat dalam prostitusi artis secara online tersebut. Hingga kini status keduanya masih menjadi buron polisi.
”Dua DPO dalam monitoring kami dan insya Allah dalam waktu dekat untuk identitas maupun lokasi yang bersangkutan sudah kami monitor,” kata Direskrimsus Polda Jatim, Kombes Pol. Akhmad Yusep Gunawan, kepada wartawan di Mapolda Jatim, Kamis.
Yusep menambahkan kedua DPO itu juga perempuan. Mereka diketahui memiliki peran yang sama dengan Tantri dan Sisca. Yusep pun berharap segera dapat menangkap kedua muncikari tersebut. ”Mudah-mudahan dalam waktu singkat ini kita bisa melakukan upaya paksa kepada kedua terduga tersebut,” harapnya.
Berdasarkan pengakuan Tantri dan Sisca, ada sejumlah artis yang meminta agar dapat bergabung ke jaringan dalam prostitusi online ini. ”Berbagai variatif. Ini yang masih kami dalami. Ada yang di antaranya meminta kepada muncikari, bahkan juga muncikari yang kemungkinan [menawarkan],” ungkap Yusep.
Polisi kini sedang menelusuri jejak digital para muncikari prostitusi online ketika beraksi menawarkan artis kepada pelanggan atau user. Penelusuran dilakukan melalui laboratorium forensik. Yusep mengatakan urusan menawarkan jasa ke pelanggan menjadi tugas utama muncikari.
Meski belum mendapatkan banyak informasi, Yusep memberikan bocoran bahwa muncikari biasanya menawarkan nama artis dengan inisial tertentu. Misalnya dalam kasus Vanessa Angel, muncikari yang menawarkan jasanya memberikan nama Vanessa kepada calon user. ”User yang memunculkan daripada inisial VA ini adalah dari pihak muncikari, bukan permintaan user,” kata Yusep.
Sebelum ditawarkan, lanjut Yusep, muncikari telah menyiapkan data berupa nama-nama artis yang dapat memberikan jasa. Kemudian muncikari tinggal menawarkannya ke user. ”Artinya bahwa muncikari telah menyiapkan data-data apabila ada permintaan dari user. Jadi munculnya nama VA bukan permintaan user melihat dari konten pembicaraan digital, di chatting Whatsapp tersebut,” terangnya.
Setelah namanya disetujui, calon user membayar DP atau uang muka sebesar 30 persen kepada muncikari. Hal ini pernah diutarakan Kapolda Jatim Irjen Pol. Luki Hermawan. Baru setelah bertatap muka, user harus melunasi tarif prostitusi artis. ”Pembayaran uang muka 30 persen juga digital. Setelah itu ketemu, sisanya,” sebut Luki.
Hingga kini polisi masih menyidik kedua muncikari yang disebut memiliki dua jaringan yang berbeda. Sisca dikabarkan memiliki spesialisasi menawarkan jasa prostitusi artis, sedangkan Tantri spesialisasi menawarkan model dan selebgram. ”Sedang kami dalami satu sama lain dari muncikarinya. Ada dua muncikari yang saling berhubungan,” tambahnya.
Peran Vanessa
Berdasarkan keterangan dua tersangka muncikari tersebut, polisi juga mendapat informasi artis Vanessa Angel disebut beberapa kali menerima order dari bisnis ini. Order untuk Vanessa dikelola oleh Sisca. Vanessa juga diketahui telah bergabung dalam jaringan sejak 2017.
Berdasarkan data rekening koran para muncikari, ada sekitar 15 transaksi pembayaran gaji dari Sisca kepada Vanessa. ”Untuk sementara data yang kami tarik per 2017. Namun dari transaksi rekening yang kami dapat, rekening koran, untuk inisial VA ini telah mendapat kiriman sebanyak 15 kali menerima transfer dari muncikari ES,” papar Yusep.
Tak hanya itu, Vanessa juga disebut sempat mentransfer sejumlah uang ke rekening Sisca. Dari data transaksi itu terlihat Vanessa pernah delapan kali mengirim uang ke muncikari berusia 37 tahun tersebut.
Untuk mengungkap peran Vanessa yang lebih dalam, polisi sedang menelusuri konten komunikasi dari Vanessa kepada muncikari, termasuk transaksi dan besaran tarif yang ditetapkan Vanessa. Dari hasilnya dapat diketahui apakah artis berusia 27 tahun ini hanya memberikan layanan prostitusi kepada pelanggan ataukah juga menawarkan jasa artis lain untuk mendapatkan keuntungan. ”Konten komunikasinya maupun terkait dengan konten komunikasi transaksi, terkait dengan harga maupun transfer dari pada konten gambar dan video,” lanjut Yusep.
Sementara itu, artis Cathy Sharon resmi melaporkan pencatut dan penyebar foto rekayasa yang menampilkan dirinya terkait kasus dugaan prostitusi online ke Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis. Cathy menjelaskan kasus ini telah merusak reputasinya. Tak hanya mengganggu kehidupannya, gosip ini juga meresahkan keluarga Cathy.
”Saya kaget dan sekaligus sedih melihat ada [gosip] seperti itu. Pastinya sedih, saya memikir asumsi publik yang tidak mengenal saya malah menduga-duga hal-hal yang tidak baik mengenai saya. Oleh sebab itu, saya keberatan dan saya menghubungi Sandy. Dan hari ini kami buat laporan di sini saya hanya menjaga jejak digital saya,” ujar Cathy seusai membuat laporan.
Kuasa hukum Cathy, Sandy Arifin, menjelaskan lebih terperinci terkait isi laporan kliennya. ”Jadi resmi hari ini setelah kami berkonsultasi dengan rekan-rekan penyidik kami melaporkan secara resmi hari ini ke Polda Metro Jaya dengan pencemaran nama baik melalui media elektronik atau mendistribusikan konten asusila atau pornografi menggunakan pasal UU ITE dan juga UU Pornografi,” paparnya. (Detik/Liputan6.com/JIBI)