8 Warga Terkena DBD, Satu Kampung Di-fogging

SRAGEN—Pemerintah Desa Jambanan bekerja sama dengan Puskesmas Kecamatan Sidoharjo, Sragen, menggelar pengasapan atau fogging di Dusun Jipangan, Jumat (11/1).
Pantauan Koran Solo di lokasi, fogging dilakukan dua petugas puskesmas. Keduanya mendatangi satu persatu rumah warga. Mereka mengasapi setiap sudut rumah seperti kamar, dapur, ruang tamu, halaman rumah, saluran drainase dan lain-lain. Proses fogging itu disaksikan warga sekitar. Sebelumnya mereka sudah diberi masker supaya tidak banyak menghirup asap yang dapat membahayakan pernapasan.
Fogging dilakukan setelah delapan warga terserang demam berdarah dengue (DBD) dalam dua pekan terakhir.
”Delapan warga itu rata-rata masih anak balita. Tiga anak di antaranya dinyatakan positif DBD. Ketiganya sempat menjalani rawat inap di rumah sakit. Namun, sekarang mereka sudah pulang. Sementara lima warga lain baru suspect atau dicurigai terkena DBD. Lima warga itu mengalami demam dan panas tinggi sama persis dengan gejala DBD. Namun setelah menjalani rawat jalan, lima warga itu sudah sehat lagi,” ujar Kepala Desa Jambanan Sugino Welly saat ditemui wartawan di lokasi.
Sugino mengakui adanya temuan kasus DBD dalam dua pekan terakhir itu membuat warganya khawatir. Mereka waswas bila penyakit DBD itu bisa menular kepada warga lain. Oleh karena itu, warga meminta dilakukan pengasapan supaya keberadaan nyamuk penyebab penyakit DBD bisa dibasmi. Kepada warga, Sugino menegaskan bahwa pengasapan atau fogging itu adalah pilihan terakhir.
Dia mengingatkan cara yang tepat untuk menanggulangi penyakit DBD adalah dengan memberantas sarang nyamuk. “Saya selalu ingatkan warga supaya rutin menguras bak mandi minimal tiga hari sekali. Periksa lingkungan sekitar, jika ada kaleng bekas yang tidak terpakai silakan ditimbun. Memberantas sarang akan membunuh jentik-jentik nyamuk. Kalau pengasapan hanya akan membunuh nyamuk dewasa. Pengasapan belum sempurna kalau tidak dibarengi dengan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk,” jelas Sugino.
Sebelumnya, dua anak-anak asal Desa Duyungan, Kecamatan Sidoharjo dan Desa Jekawal, Kecamatan Tangen, Sragen, meninggal dunia karena terkena DBD pada Desember 2018 lalu. Kedua anak tersebut meninggal karena mengalami Dengue shock syndrome (DSS).
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Fanni Fandani, mengungkapkan anak yang meninggal karena DBD itu berinisial R, 13, warga Jekawal, yang didiagnosis DSS dan meninggal dunia di salah satu rumah sakit di Solo pada 17 Desember 2018 pukul 23.00 WIB. Anak lainnya, N, 5, asal Duyungan, Sidoharjo, dengan diagnosis DSS, dan meninggal di rumah sakit di Solo pada 24 Desember 2018 pukul 01.00 WIB. (Moh. Khodiq Duhri)