PENUMPANG BANDARA ADI SOEMARMO MENURUN Terdampak Tol, Andalkan Umrah

BOYOLALI—2018 Menjadi tahun yang sulit bagi pengelola Bandara Internasional Adi Soemarmo Solo (SOC) di Boyolali. Jumlah penumpang di bandara ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

FARIDA TRISNANINGTYAS
redaksi@koransolo.co

Pada Februari 2018, penerbangan internasional satu-satunya di bandara ini, selain umrah, tutup. Disusul bulan-bulan berikutnya ada buka tutup penerbangan domestic dan pada akhir 2018 beroperasinya tol Trans-Jawa berdampak besar terhadap jumlah penumpang secara signifikan.
PT Angkasa Pura I Bandara Adi Soemarmo sebagai pengelola bandara itu mencatat jumlah penumpang sepanjang 2018 turun tipis sebanyak 1,3% dibandingkan 2017. Pada 2018 bandara ini melayani 2,625 juta (2.625.534) penumpang berangkat dan datang, sedangkan pada 2017 penumpang mencapai 2,659 juta (2.659.371) orang. Artinya, ada penurunan 33.837 penumpang di bandara yang pada 2016 menyabet penghargaan bandara dengan pelayanan terbaik untuk kategori bandara kecil itu.
Petugas Humas PT Angkasa Pura I Bandara Adi Soemarmo, Danar Dewi, mengatakan ada sejumlah faktor yang memengaruhi penurunan jumlah penumpang antara lain penutupan rute penerbangan langsung ke sejumlah wilayah hingga pembukan jalan tol Trans-Jawa pada akhir tahun. “Penutupan rute juga menjadi penyebab penurunan penumpang,” kata dia kepada Koran Solo, Jumat (11/1).
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
Pada 25 April 2018 maskapai Lion Air Group (Wings Air) menutup empat rute hub dari bandara Solo menuju empat daerah, yakni Lombok, Banjarmasin, Tasikmalaya, dan Lampung.
November dan Desember tercatat sebagai bulan dengan jumlah penumpang paling sedikit. Pada November penumpang yang melalui Bandara Adi Soemarmo hanya 174.845 orang, sementara pada Desember 187.690 penumpang. Padahal pada bulan-bulan sebelumnya jumlah penumpang rata-rata 220.000 orang.
Khusus momentum Natal dan Tahun Baru pergerakan pesawat, penumpang, dan kargo di bandara tersebut turun tajam. Pergerakan pesawat turun 28% dari 1.244 menjadi 893, sementara jumlah penumpang turun 34% dari 183.564 menjadi 120.876 orang, dan kargo turun 27% dari 437.024 kg menjadi 318.326 kg.
Airport and Services Dept. Head Bandara Adi Soemarmo, Iwan Novi H., menambahkan penurunan penumpang diprediksi karena adanya dukungan transportasi darat dengan dibukanya jalan tol. Namun demikian, pihaknya mengklaim pelayanan di Bandara Adi Soemarmo selama Natal dan Tahun Baru tetap dilaksanakan semaksimal mungkin dan tidak ada kejadian yang menonjol.
Pengelola bandara ini tetap optimistis Bandara Adi Soemarmo bakal tetap diminati penumpang. Kehadiran kereta api (KA) bandara yang siap meluncur tahun ini dipre­diksi bakal mendongkrak jumlah penumpang. Pengelola ban­dara itu juga mematangkan sejumlah rencana perluasan antara lain perluasan apron 130 meter x 215 meter sehingga bisa menampung 15 pesawat narrow body. Selain itu, perpanjangan runway dari 2.600 meter menjadi 3.000 meter dan perluasan terminal penumpang 13.000 meter persegi akan menjadi daya tarik bagi masyarakat.
Harapan Adi Soemarmo saat ini adalah pasar umrah. General Manager Garuda Indonesia Branch Office Solo, Hendrawan, mengatakan pasar umrah di Jawa Tengah sangat bagus khususnya yang melalui Bandara Internasional Adi Soemarmo. Periode akhir tahun lalu merupakan masa peak season umrah.
Potensi umrah di Solo terus tumbuh karena didukung infrastruktur bandara yang mumpuni salah satunya Bandara Adi Soemarmo mendukung parkir pesawat berbadan besar. Saat ini Garuda Indonesia melayani tiga kali penerbangan reguler Solo-Jeddah dalam sepekan via Banda Aceh. Jadwalnya adalah Selasa, Kamis, dan Sabtu.
“Permintaan pasar yang tinggi ini membuat kami akhirnya menambah rute Solo-Madinah yang bakal dioperasikan pekan depan,” papar dia.
Sayangnya, potensi besar umrah ini belum cukup untuk mengimbangi pengurangan penumpang karena penutupan rute dan dampak tol pada 2018. Pada 2019 pengelola Bandara Adi Soemarmo dan segenap stakeholders terkait dihadapkan pada tantangan menyusun strategi untuk menghidupkan bandara lagi.
Membingungkan
Pengusaha advertising Solo, Ginda Ferachtriawan, menilai sebenarnya Bandara Adi Soemarmo cukup nyaman. Namun, dia mengaku transportasi pendukung dari dan ke bandara cukup membingungkan khususnya bagi pendatang.
“Boleh dibilang Solo ini berproses jadi Kota Metropolis, MICE, dan pariwisata. Akan tetapi, sarana pendukungnya harus ditingkatkan. Salah satunya adalah aksesibilitas. Selain itu, harga tiket pesawat juga terus naik, ini belum lagi kebijakan bagasi cuma-cuma yang bakal dihilangkan,” ujar dia.
Anggota DPRD Solo ini menilai perlu sinergi antarwilayah untuk memajukan pariwisata antara lain dengan menggencarkan promosi destinasi pariwisata di Soloraya. Dengan demikian, pendatang melalui Bandara Adi Soemarmo tidak kebingungan hendak pergi ke mana.
Ekonom dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Lukman Hakim, menilai lesunya perekonomian sepanjang 2018 turut berdampak pada kemampuan masyarakat menggunakan moda transportasi udara sehingga menyebabkan jumlah penumpang Bandara Adi Soemarmo turun 1,3% pada 2018. Di sisi lain, ketiadaan rute internasional selain pasar umrah juga berpengaruh.
“Tren baru pasar umrah berpotensi besar. Soal transportasi, juga harus dibenahi. Selain itu, promosi pariwisata potensi daerah harus digencarkan karena yang banyak terjadi, pendatang atau wisatawan sampai Solo itu bingung mau ke mana,” kata dia saat dihubungi, Jumat (11/1).
Sementara itu, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Soloraya, Budi Yulianto, menilai penurunan penumpang di Bandara Adi Soemarmo karena banyak faktor, yakni aksesibilitas dan konektivitas. “Adanya tol juga memberi pilihan baru kepada masyarakat. Aksesibilitas mudah, jarak pun terpangkas, dan tentunya biaya perjalanan. Apalagi jika masyarakat bepergian berombongan dalam jumlah banyak,” kata dia.
Meskipun demikian, dia menilai sebenarnya upaya Bandara Adi Soemarmo patut diapresiasi dengan segera adanya KA Bandara. (JIBI)