Susun Rencana Sebelum Tunda Kehamilan

Menunda kehamilan tentu sah-sah saja karena ini merupakan salah satu cara dalam perencanaan di dalam keluarga atau rumah tangga. Namun, ada beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan oleh pasangan yang menunda kehamilan terutama dari faktor usia.
Sebab, ketika seorang wanita sudah berusia di atas 35 tahun, jumlah dan kualitas sel telur mengalami penurunan sehingga lebih sulit memiliki momongan. Di samping itu, berdasarkan hasil penelitian dari Health Journal disebutkan bahwa 48% perempuan yang menggunakan pil antihamil dan spiral KB (IUD) selama 2—4 tahun, akan mengalami kesulitan hamil saat menginginkan anak pertama.
Para peneliti infertilitas Barat menemukan fakta bahwa faktor antibody antisperma pada wanita bisa menjadi pemicu gagalnya kehamilan. Kondisi ini terjadi karena adanya pemerosotan potensi sperma dalam membuahi ovum atau sel telur dalam tubuh wanita.
Dokter spesialis kebidanan dan kandungan Yassin Yanuar mengatakan bahwa pasangan yang menunda kehamilan harus membuat program perencanaan kehamilan dengan didampingi oleh dokter spesialis. Sebab, jika tidak ada perencanaan yang matang maka akan banyak risiko yang dialami di kemudian hari.
“Pada pasangan yang merencanakan untuk menunda kehamilan, perlu memperhitungkan faktor usia. Kita tidak bisa memprediksi secara akurat kapan usia biologis seseorang sudah menua melebihi usia kronologisnya,” ujarnya.
Usia kronologis adalah usia yang dihitung berdasarkan tanggal lahir seseorang. Adapun, usia biologis merupakan refleksi dari kuantitas dan kualitas sel telur seorang perempuan yang erat kaitannya dengan fekunditas yaitu kemampuan reproduksi perempuan memperolah kehamilan atau penuaan reproduksi.
Usia kronologis dan biologis ini tidak selalu sama, bahkan sering ditemukan bahwa usia biologis lebih cepat menua dibandingkan dengan usia kronologis. Berbagai faktor menjadi penyebabnya mulai dari faktor genetika, gaya hidup, paparan zat kimia, serta adanya riwayat penyakit tertentu.
“Penuaan reproduksi perem­puan ditandai saat sel telur habis, dan ini lebih berisi­ko dialami ketika perem­puan sudah di atas 35 tahun,” ujarnya.
Senada disampaikan, dokter spesialis dan kandungan Beeleonia yang mengatakan bahwa perempuan pekerja biasanya memiliki prioritas yang lebih mengutamakan karier dan pendidikan sehingga baru merencanakan kehamilan saat usia yang lebih tua.
Pada kalangan perempuan karier seperti ini, rentan terjadinya gangguan fertilitas yang berkaitan dengan berkurangnya jumlah dan kualitas sel telur yang dimiliki. Inilah yang dikenal dengan konsep cadangan ovarium, yang erat kaitannya dengan usia biologis
Disamping faktor usia, terdapat gangguan lain yang menyebabkan seseorang sulit memilkiki momongan baik anak pertama maupun anak kedua. Misalnya saja infeksi dan saluran telur yang rusak, gangguan pematangan sel telur, sumbatan saluran telur atau gangguan pada rahim dan indung telur.
Infertilitas
Selain itu, munculnya miom atau kista cokelat yang sebelumnya tidak dimiliki, kemudian muncul saat mendambakan anak kedua. Kondisi tersebut disebut infertilitas sekunder.
“Tidak hanya dari sisi perempuan saja, gangguan kesuburan juga bisa dialami suami karena berkurangnya jumlah sperma yang disebabkan oleh gaya hidup, merokok, dan paparan radiasi ponsel yang diletakan di kantong celana,” ujarnya.
Beeleonia mengatakan bahwa seseorang bisa dianggap memiliki gangguan kesuburan jika gagal mendapatkan kehamilan setelah melakukan hubungan seksual yang benar selama 1 tahun tanpa memakai alat kontrasepsi.
Fachry Achmad, Direktur PT Ingin Anak mengatakan bahwa program bayi tabung bisa menjadi salah satu pilihan bagi pasutri yang mengalami gangguan kesuburan dan ingin mempunyai keturunan. Hanya saja, biaya program bagi sebagian pasutri kurang terjangkau.
Untuk itu, pihaknya menghadirkan program bayi tabung pintar yang canggih (sophisticated), modern, terjangkau (affordable), reproductive, technology yaitu SMART IVF. Namun, proses untuk mendapatkan bayi tabung melalui Smart IVF tidaklah sederhana karena sama seperti proses program bayi tabung lainnya yang melewati delapan tahapan.
Yaitu; pemeriksaan USG, hormon, saluran telur dan sperma, penyuntikan obat untuk membesarkan sel telur, penyuntikan obat penekan hormon, pengambilan sel telur, pembuahan, pengembangan embrio, penanaman embrio serta tahap menunggu hasil.
“Namun, dengan konsep ini, biaya yang diperlukan lebih terjangkau hanya sekitar Rp38 juta per siklus dan dengan demikian kami berharap banyak pasutri yang menginginkan keturunan melalui program bayi tabung dapat terbantu,” ujarnya.
Dengan adanya laboratorium yang canggih dengan peralatan teknologi tinggi pada program bayi tabung pintar ini, maka memungkinkan dilakukannya prosedur pencarian sel telur, mempertemukan sel telur dengan sel sperma, penetasan sel telur, kultur embrio, sampai pembekuan embrio dan pencairan embrio.
Namun demikian, penting untuk diingat, hal yang harus diperhatikan demi suksesnya program bayi tabung pintar adalah kondisi fisik dan psikologis istri, suami, infrastruktur fisik, peralatan medis, staf yang kompeten, teknik prosedur yang baik dan kolaborasi pelayanan dengan pendekatan tim.
Sementara itu, Budi Wiweko pendiri SMART-IVF sekaligus Presiden Perhimpunan Fertilisasi in Vitro Indonesia (Perfitri) mengatakan bahwa berdasarkan laporan IA-IVF 2017, dari sejumlah 9.122 siklus bayi tabung pada 2017 di Indonesia, terdapat 2.467 siklus yang menghasilkan kehamilan.
Persentase kehamilan yang terbesar terdapat pada usia kurang dari 35 tahun, yaitu sebesar 17,46%, disusul dengan kehamilan pada usia 35—37 tahun (6,01%), usia 38—40 tahun (3,49%), 41—42 tahun (1,16%), dan yang paling rendah pada usia di atas 42 tahun (1%). (JIBI/Bisnis Indonesia/Dewi Andriani)