Usia Produktif Rawan Saraf Terjepit

Tika Anggreni Purba
redaksi@jibinews.co

Ketika berbicara soal saraf kejepit, banyak orang yang langsung bereaksi, bergidik ngeri. Orang langsung membayangkan bahwa ada bagian saraf yang saling menjepit antara yang satu dengan lainnya sehingga timbul nyeri yang tidak tertahankan.
Sistem saraf manusia merupakan struktur alami tubuh yang terdiri dari jejaring sistem kompleks yang membawa pesan dari otak ke seluruh tubuh, maupun sebaliknya. Ketika bagian saraf tersebut tertekan oleh jaringan di sekitarnya, karena berbagai faktor, maka inilah yang kemudian menimbulkan rasa nyeri.
“Sistem saraf terdiri dari dua bagian penting yakni sistem saraf pusat yang terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang, serta sistem saraf tepi yang terdiri atas bundel serabut serat panjang sel saraf,” jelas dokter spesialis saraf Henry Riyanto Sofyan dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
Berdasarkan penjelasan Henry tersebut, kita bisa memahami bahwa yang namanya saraf terjepit juga bisa terjadi pada bagian tubuh yang memiliki saraf. Artinya saraf terjepit tidak selalu terjadi pada bagian tulang belakang saja seperti yang selama ini dipersepsikan masyarakat.
Sederhananya, ketika seseorang duduk bersila atau bersimpuh, posisi ini dapat menekan saraf kaki tertentu sehingga menimbulkan kesemutan. Ini pun bagian dari saraf terjepit. Rasa nyeri akan timbul ketika saraf mengalami tekanan dari jaringan lain di luar saraf itu sendiri.
Beberapa contoh kejadian saraf terjepit adalah sindrom terowongan karpal dan sindrom terowongan tarsal. Sindrom terowongan karpal di pergelangan tangan misalnya, merupakan kondisi saraf terjepit di pergelangan tangan yang disebabkan oleh berbagai hal seperti cedera atau kesalahan gerak tangan.
Diskus Robek
Saraf terjepit yang terjadi pada bagian tulang belakang cukup umum terjadi. Keadaan ini disebut dengan hernia nucleus pulposus atau HNP. Ketika seseorang mengalami HNP, bantalan diskus yang terletak di antara tulang belakang keluar dari posisinya sehingga menekan atau menjepit saraf yang ada di sekitarnya.
Apabila Anda belum familier dengan diskus, coba ingat kembali mengenai rangkaian tulang belakang manusia. Antara tulang belakang itu disambung oleh bantalan kenyal yang dilapisi selubung yang kuat, itulah diskus. Istilahnya, diskus menjadi cakram antartulang.
“Cakram diskus ini berfungsi untuk memfasilitasi gerak tulang belakang,” kata Henry.
Nah, apabila selubung bantalan kenyal ini robek, bagian dalamnya yang berbentuk jeli dapat meluber ke luar. Hal inilah yang dapat mengganggu saraf tulang belakang karena tekanan diskus yang meluber maupun karena bahan gel diskus yang mengiritasi.
Menurut Henry, robeknya diskus menyebabkan nukleus pulposus yang ada di dalamnya menonjol keluar. Tonjolan atau luberan itu dapat menekan saraf dan mengakibatkan munculnya rasa nyeri. “Bahkan bisa menimbulkan kelumpuhan,” tutur Henry.
Diskus robek atau gangguan diskus lainnya dapat disebabkan oleh berbagai hal, tetapi yang terutama adalah cedera mendadak atau cedera menahun. Henry mengatakan bahwa tulang belakang sangat rentan terhadap cedera karena digunakan untuk aktivitas yang membutuhkan daya yang kuat.
“Orang bisa cedera pada saat perputaran tubuh, penyentakan tiba-tiba saat bergerak, tekanan harian karena postur buruk, “ katanya lagi.
HNP dapat terjadi mulai dari tulang leher hingga tulang pinggang bawah. Posisi saraf yang terjepit umumnya tergantung pada posisi dan jenis robekan.
“Misalnya robeknya diskus terjadi di tengah, nukleus pulposus dapat menekan sumsum tulang, atau apabila menonjol ke samping dapat menekan serabut saraf yang keluar dari sumsum tulang belakang,” kata Henry.
Sebetulnya, menurut Henry, tidak semua HNP menimbulkan gejala pada tahap awal. Kalaupun bergejala, biasanya timbul nyeri yang merambat pada bundel serabut saraf yang tertekan. Rasa nyeri yang dialami juga bervariasi mulai dari kesemutan, rasa tajam, bahkan rasa panas atau dingin yang merambat.
Apabila ternyata kondisi ini sudah terjadi selama beberapa waktu, gejalanya ditandai dengan rasa nyeri berubah menjadi baal, kemudian terjadi penurunan refleks gerak alami dari otot, lemah otot lengan dan tungkai, dan lain-lain.
Untuk mengenali HNP seseorang dapat merujuk pada sinyal nyeri yang terjadi pada bagian tulang belakang. “Dokter akan mengumpulkan gejala dan tanda tadi melalui wawancara medis, dan pemeriksaan fisik,” kata Henry lagi.
Baru setelah pemeriksaan yang menyeluruh, diagnosis dapat ditegakkan.
Henry menjelaskan bahwa tingkat keparahan HNP dibagi menjadi tiga tahap. Tahap awal, seseorang merasakan nyeri yang merambat yang disertai rasa baal. Kemudian pada tahap menengah, HNP ditandai dengan nyeri segaligus gangguan pergerakan motorik di lengan atau tungkai.
Pada tahap lanjut, HNP menyebabkan gangguan pergerakan motorik lengan dan tungkai disertai gangguan saraf otonom yang mengganggu kerja tubuh untuk berkeringat, buang air kecil, dan sebagainya. Paling parah, keadaan ini dapat berakhir pada kelumpuhan.
Henry mengatakan bahwa HNP sering terjadi pada kelompok usia 30—50 tahun, umumnya pria lebih rentan. Faktor risiko terjadinya HNP adalah merokok, sebagai penyebab perusak struktur diskus, kemudian predisposisi genetik, indeks massa tubuh yang berlebih, hingga aktivitas atau olahraga dengan menahan beban.
“Postur tubuh yang buruk dan berlebihan dalam mengendarai motor juga memicu,” tambah Henry.
Apabila sudah terjadi, penderita HNP harus diterapi. Di antaranya ini bisa dilakukan dengan terapi obat analgesik untuk menghilangkan rasa nyeri atau obat pelemas otot yang diresepkan dokter.
“Beberapa kasus membutuhkan terapi injeksi pada hernia untuk mengurangi peradangan,” katanya.
HNP juga bisa ditangani dengan terapi fisik dan rehabilitasi untuk memperbaiki postur tubuh dengan brace atau korset, tidak selalu harus ditangani dengan operasi. (JIBI/Bisnis Indonesia)