Jangan Abaikan Aturan Lari

Tika Anggreni Purba
redaksi@jibinews.co

Masyarakat sedang gandrung olahraga lari. Mereka beramai-ramai mengikuti berbagai kompetisi lari, mulai dari yang jarak dekat hingga jarak jauh. Sebagian lagi memilih lari karena terlihat keren dan sedang tren.
Olahraga lari memang salah satu olahraga yang mudah dan bisa dilakukan berbagai kalangan. Selain itu, lari dianggap aktivitas yang menyenangkan dan efektif membakar kalori.
Menurut dokter umum Grace Joselini, lari merupakan salah satu aktivitas fisik dalam pencegahan obesitas. Apalagi angka obesitas di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahun.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyatakan bahwa prevalensi kelebihan berat badan pada orang dewasa usia produktif meningkat dari 11,5% pada 2013 menjadi 13,6% pada 2018. Hal ini membuktikan bahwa masih banyak orang Indonesia yang tidak seimbang dalam asupan makanan dan aktivitas fisiknya.
Grace merekomendasikan lari untuk mencegah peningkatan kondisi obesitas tersebut. Selain simpel, menjalankannya juga tidak memerlukan usaha yang besar. Aktivitasnya pun dapat dilakukan di dalam ruang maupun di luar ruang.
“Selain itu lari termasuk aktivitas intensitas tinggi yang membakar kalori sangat banyak,” kata dokter timnas sepakbola wanita Asian Games 2018 ini. Namun, sebelum memulai olahraga ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
Jangan hanya karena tren atau ikut-ikutan semata. Kita perlu menetapkan tujuan apa yang hendak dicapai melalui lari.
“Orang yang kelebihan berat badan tidak disarankan untuk lari karena ketika lari lutut menanggung beban dua kali berat tubuh,” katanya.
Lari memang bisa menguras banyak kalori, tetapi risiko cedera saat lari pada orang gemuk lebih tinggi. Orang gemuk disarankan untuk memilih olahraga lain yang tidak berisiko cedera lutut seperti berenang dan bersepeda.
Aturan Lari
Belakangan ini, berbagai pihak menyelenggarakan lomba atau kompetisi lari jarak jauh. Bahkan lomba lari maraton juga diminati banyak orang. Akan tetapi sebelum mengikuti lomba atau memilih lari sebagai olahraga rutin, Grace menyarankan setiap orang untuk mengukur kemampuan diri terlebih dahulu.
“Kalau tidak pernah latihan sebelumnya, jangan coba-coba ikutan maraton atau lari jarak jauh,” ujarnya.
Dia mengatakan bahwa untuk mengukur kemampuan dapat dilihat dari latihan lari sehari-hari.
Grace mengatakan seseorang tidak bisa secara mendadak mengikuti olahraga lari (khususnya lari jarak jauh) apabila tidak berlatih sebelumnya.“Jangan lari di luar kemampuan kita,” katanya.
Dokter yang tengah menempuh pendidikan spesialis kedokteran olahraga ini juga mengatakan bahwa sama seperti olahraga lainnya, pemanasan dan pendinginan merupakan bagian penting dari lari. Karenanya, pemanasan dan pendinginan yang benar jangan diabaikan.
Dia menganjurkan para pencinta lari untuk selalu minum sebelum berlari maupun di sela-sela lari. Cairan sangat diperlukan agar tubuh tidak mengalami dehidrasi yang dapat memicu kondisi yang tidak baik bahkan fatal seperti heat stroke.
Konsumsi makanan yang sehat juga diperlukan sebagai sumber energi ketika berlari. Menurut Grace, seseorang perlu mengisi cadangan makanan dalam ototnya sebelum lari. “Konsumsi makanan dengan gizi sehat dan seimbang,” katanya.
Selain itu, pemilihan sepatu yang tepat mesti menjadi perhatian. Jangan karena ingin terlihat keren dan gaya, akhirnya salah pilih sepatu lari. Sepatu yang dipilih sebaiknya adalah sepatu khusus lari. Tidak hanya sepatu, pakaian yang pas juga perlu dikenakan. Banyak orang yang salah kostum ketika lari karena tidak mengetahui dampaknya. Grace mencontohkan orang yang lari dengan jaket tebal bahkan sarung tangan. Menurutnya, hal ini tidak baik dipakai untuk lari.
“Saya memahami kalau tujuannya mungkin agar keringat lebih banyak keluar, tetapi sebetulnya hal itu kurang tepat,” ujarnya. Ketika cuaca panas dan suhu tubuh semakin panas, maka risiko dehidrasi bahkan heat stroke semakin tinggi.
Grace menyarankan untuk menggunakan pakaian yang longgar atau bahan pakaian yang menyerap keringat. Bagi orang yang senang lari di luar ruang, jangan lupa melindungi tubuhnya dari paparan sinar matahari. Grace menyatakan bahwa orang dewasa tidak disarankan terpapar sinar matahari lebih dari 1 jam tanpa menggunakan sun block.
Ada kalanya cedera tak terhindarkan sekalipun kita sudah mempersiapkan diri dengan baik saat berlari. Cedera olahraga lumrah terjadi akibat berbagai faktor, misalnya salah menggunakan sepatu, kesalahan dalam pemanasan dan pendinginan, gerakan yang salah, dehidrasi, dan terjatuh karena jalur lari yang tidak rata. Bagian-bagian tubuh yang berisiko mengalami cedera ketika lari adalah sendi, tendon, dan otot.
Pertolongan pertama pada cedera adalah RICE, yakni rest, ice, compression, dan elevation. Ketika cedera terjadi pada saat lari, istirahatkan bagian tubuh yang cedera sementara waktu.
“Kalau bengkak, sebaiknya dikompres dengan es. Jangan dipijat,” kata Grace lagi. Selanjutnya, apabila rasa sakit masih terasa, balut bagian yang cedera dengan perban elastis dan naikkan posisi bagian tubuh yang mengalami cedera lebih tinggi.
Kebugaran
Menurut founder Fitness Embassy Jansen Ongko, lari direkomendasikan sebagai olahraga rutin untuk meningkatkan kebugaran. Dia mengatakan bahwa selama olahraga dilakukan dengan benar dan teratur, lari dapat menjadi bagian dari pola latihan demi menjaga kebugaran.
Menurut pelatih kebugaran ini, olahraga lari sangat dominan untuk melatih kardiorespiratori yang melibatkan organ jantung dan paru. Oleh sebab itu, seseorang dapat menambahkan jenis-jenis olahraga pelengkap seperti latihan kekuatan.
Lari dapat disandingkan dengan strength training/resistance training yang dapat memperkuat otot. Selama rutin menjalani olahraga lari, tidak ada salahnya menggunakan jasa pelatih. “Apapun olahraganya, sangat disarankan untuk didampingi pelatih atau instruktur, khususnya ketika memulai olahraga tertentu,” kata Jansen.
Menurut Ketua Umum Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI) ini, kehadiran pelatih akan meminimalkan kesalahan teknik olahraga.
Selain itu, katanya, pelatih akan menolong seseorang untuk lari dengan cara yang tepat dan benar sehingga mengurangi potensi cedera. (JIBI/Bisnis Indonesia)