SASARAN TEMBAK Berbagai Jalan Merayu Pemilih Abu-Abu

Pengamat politik dan lembaga sur­vei boleh berpendapat debat capres pertama belum signifikan mengubah elektabilitas. Namun, masing-masing tim kampanye pasangan calon optimistis performance para kandidat cukup memuaskan di debat pertama dan akan berhasil mengubah peta dukungan.
Ketua Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Jusuf Kalla (JK) optimistis elektabilitas pasangan nomor urut 01 melambung. Terlihat dari jawaban-jawaban mereka saat debat. JK mengatakan cukup puas melihat jalannya debat kedua pasangan calon.
“Pada debat yang pertama ini, kami lihat calon nomor 1, Pak Jokowi dan Ma’ruf Amin lebih siap. Baik siap menjawab, siap juga bertanya,” ujar JK beberapa waktu lalu.
Tidak mau kalah, juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahean juga memberikan penilaiannya terhadap jalannya debat. Dalam cuitannya ia menilai pasangan Prabowo-Sandi lebih menguasai jalannya debat.
Debat putaran kedua calon presiden dan wakil presiden Pemilu 2019 akan dilaksanakan pada 17 Februari mendatang, bertempat di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta. Tema yang akan diangkat mengenai energi, pangan, sumber daya alam, dan lingkungan hidup. Berbeda dengan debat pertama, debat kedua hanya akan mempertemukan kedua calon presiden.
Namun, peneliti Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) Fakultas Hukum Universita Islam Indonesia (UII) Mohammad Agus Maulidi mengingatkan sangat tidak rasional mengetahui dan memahami secara mendalam kualitas dan karakter kepemimpinan serta aspek lain capres dan cawapres hanya melalui debat dengan durasi waktu yang sangat terbatas. Namun, Agus mengatakan setidaknya dengan debat capres publik akan mempunyai sedikit gambaran mengenai karakter, arah gerak kepemimpinan, serta target yang hendak dicapai ketika terpilih menjadi presiden dan wakil presiden. Bagi pasangan calon, agenda debat ini akan menjadi ruang yang tepat, tidak hanya sosialisasi program, tetapi juga mengkritisi agenda lawan, menunjukkan serta meyakinkan masyarakat bahwa agendanya jauh lebih unggul.
Menurut dia, debat capres tidak akan membawa berpengaruh signifikan bagi para pendukung yang fanatik dan tradisional. Bagi mereka, bagaimana pun kualitas calon yang didukung dalam berdebat dan menyampaikan gagasan, akan tetap menjadi idola dan pilihan ketika hari pemungutan suara tiba. Berbeda ceritanya ketika dihadapkan pada pemilih yang diistilahkan oleh Ubedilah Badrun sebagai tipe pemilih skeptis (pemilih yang meragukan semua calon).
“Tipe pemilih rasional [pemilih berdasarkan rasionalitas politik dan kualitas calon] tetapi masih “abu-abu” atau “ragu” menentukan pilihan [swing voters], bagi mereka, debat akan memberikan jalan serta arah pilihan yang menentukan. Pada konteks inilah bisa dikatakan penyelenggaraan debat capres dan cawapres sangat menentukan elektabilitas masing-masing pasangan calon,” kata Agus.
Belajar dari sejarah, yaitu Pemilu Presiden 2014, Anies Baswedan sebagai juru bicara tim sukses Jokowi-JK menyebutkan kemenangan Jokowi-JK banyak disumbang oleh “pemilih abu-abu”. Cirebon dan Indramayu, yang diyakini sebagai basis wilayah Prabowo-Hatta sekalipun, bisa dimenangkan oleh Jokowi-JK pada Pemilu 2014 dengan perolehan suara 60%. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan calon dari kedua kubu pada 2019 ini.
Terlebih ketika melihat margin elektabilitas antara keduanya tidak terlalu besar. Survei terbaru elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin vs Prabowo-Sandiaga Uno oleh Alvara Research Center yaitu 54,3% vs 35,1% dengan undicided voters 10,6%. Sedangkan, hasil survei oleh Lembaga Survei Median menunjukkan margin yang lebih kecil yaitu 47,7% vs 35,5% dengan undicided voters sebesar 16,8%.
Faktanya, angka pemilih yang masih “abu-abu” antara pasangan calon nomor 01 atau nomor 02 ini memang terbilang sangat tinggi. Peneliti LIPI Siti Zuhro menyebut pada Pilpres 2019 ini angka pemilih yang masih “abu-abu” mencapai 30% hingga 40%, yang didominasi oleh pemilih muda dan apolitis. Angka ini ternyata lebih tinggi dibandingkan “pemilih abu-abu” pada 2014, yang menurut survei LIPI pada akhir Juni 2014 angkanya mencapai 20%.
Jumlah “pemilih abu-abu” ini ternyata masih lebih besar dibandingkan dengan margin elektabilitas. Artinya, selisih elektabilitas itu dapat saja tertutup untuk bisa memenangkan pemilu, ketika bisa merebut hati pemilih yang masih “abu-abu” tersebut. Tidak terlalu berlebihan ketika salah satu pengamat politik mengatakan menguasai 10% saja dari pemilih yang masih “abu-abu” itu, maka potensi memenangkan pemilu presiden dan wakil presiden ini sudah terbuka begitu lebar.
Dengan demikian, sebenarnya adanya debat capres dan cawapres ini merupakan media untuk meyakinkan dan menarik hati pemilih yang masih “abu-abu” tersebut dengan tawaran gagasan yang rasional dan tentu lebih unggul daripada gagasan lawan. Kendati demikian, pemilih yang telah menentukan pilihannya juga sangat mungkin akan berpaling, mengingat pemilih di Indonesia yang sangat terbuka, ditambah dengan rendahnya kedekatan psikologis dengan partai politik. ( Salsabila Annisa Azmi)