Inovasi Indonesia Ketahanan Menjadi Kedaulatan Pangan

Pemerintah Indonesia bekerja keras untuk mewujudkan kedaulatan pangan di Tanah Air. Berbagai teknologi dimanfaatkan untuk mewujudkan kecukupan pangan.
Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengagumi berbagai terobosan yang dilakukan Pemerintahan Presiden Jokowi dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Di antaranya dengan memanfaatkan lahan rawa lebak dan pasang surut yang dijadikan lahan pertanian produktif guna meningkatkan produktivitas pertanian nasional.
“Ini membuktikan kehadiran negara yang secara sistematis mengakui, menghormati, dan memenuhi hak atas pangan warganya. Pemerintahan Presiden Jokowi sudah mulai mengalihkan pendekatan dari ketahanan pangan menjadi kedaulatan pangan,” kata Bamsoet dilansir dari detik.com, Kamis, (18/10/2018).
Wakil Ketua Umum Kadin ini menegaskan persoalan pangan tidak bisa disepelekan. Pasalnya, seiring besarnya pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia, pemenuhan kebutuhan pangan kerap menjadi masalah akibat ketersediaan pangan yang belum mencukupi.
Bamsoet juga menjelaskan hingga kini ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketersediaan pangan di Indonesia. Pertama, kendala lahan pertanian yang kian berkurang, karena kebutuhan pembangunan yang terus meningkat. Kedua, dampak perubahan iklim global yang ekstrem. Dan ketiga, kondisi pertanian Indonesia didominasi petani kecil dengan kepemilikan lahan yang sangat kecil rata-rata hanya sekitar 0,5 hektare. Sehingga mengakibatkan kesulitan terhadap akses permodalan, pasar, informasi dan teknologi.
“Keempat, proporsi kehilangan hasil panen dan pemborosan masih cukup tinggi sekitar 10 persen hingga 20 persen. Kelima, ketidakseimbangan produksi pangan antarwilayah. Akibatnya, daerah Jawa yang subur mempunyai produksi pertanian yang besar. Sementara, daerah luar Jawa produksinya relatif kecil, karena lahannya kurang subur,” ujar Bamsoet.
Lebih jauh Bamsoet mengingatkan dunia sempat mengalami beberapa kali krisis pangan global. Pada 2008, Food and Agriculture Organization (FAO) melaporkan naiknya angka kelaparan global mencapai 40 juta jiwa. Pada 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan sebanyak 815 juta orang di dunia menderita kelaparan. Jumlah tersebut sama dengan 11% populasi penduduk dunia.
“FAO juga melansir 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahun di tengah 815 juta orang menderita kekurangan pangan di seluruh dunia. Ini ironis sekali. Kita bisa wujudkan dunia tanpa kelaparan dimulai dari diri sendiri. Mari belajar bersyukur dari hal-hal yang kecil seperti tidak membuang-buang makanan,” kata Bamsoet. (JIBI/liputan6.com/detik.com)