Kebun Nemo Ladang Bawah Laut, Solusi Krisis Pangan

Menanggapi krisis pangan dunia, berbagai negara berinovasi untuk mendukung keberlangsungan bahan pangan. Salah satunya Italia yang membangun Kebun Nemo di Kota Noli. Rumah kaca pesisir pertama di dunia ini ditanami berbagai macam sayuran dan buah-buahan sebagai eksperimen. Berikut laporan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.

redaksi@jibinews.co

Baru-baru ini ditemukan biosfer dengan penampakan mirip ubur-ubur raksasa. Bangunan di kedalaman 100 meter di bawah laut itu sebetulnya adalah biosfer rumah kaca bawah laut pertama di dunia. Rumah kaca itu merupakan sebuah proyek berorientasi masa depan, untuk mengatasi kelangkaan sumber daya. Di instalasi bawah laut ini, tumbuh tanaman yang biasanya dibudidayakan di daratan.
Koordinator proyek Gianni Fontanesi menyelam rutin untuk memelihara berbagai tanaman. “Kelihatannya funky dan sekaligus brilian. Sulit menggambarkannya. Saya bekerja tiap hari di sini, memantau pertumbuhannya, dan saya bangga dengan hasilnya. Secara teknis sistem ini tidak hanya bisa diterapkan di laut, tetapi juga di danau yang jumlahnya amat banyak di dunia, yang bisa diuntungkan dengan sistem ini,” kata Fontanesi dilansir dari liputan6.com, Rabu (30/1).
Rumah kaca pertama di dekat pesisir pantai itu, menurut Fontanesi, dibangun para penyelam enam tahun silam. Rumah kaca dilengkapi dengan sinar Matahari yang mencukupi untuk fotosintesa dan tidak perlu insektisida. Selain itu juga terdapat air untuk menyiram tanaman, sebagian berasal dari air garam.
Di Kebun Nemo, dilakukan eksperimen beragam tanaman sayuran dan buah-buahan. Koordinator proyek itu menjelaskan ada tangki yang berisi air dan pupuk di dalam rumah kaca. Di dalamnya dilengkapi pompa air.
Sistemnya sangat mudah yaitu pompa air menaikkan air bercampur pupuk hingga ke bagian paling atas pipa. “Di atas pipanya kami tanami berbagai tanaman, yang tumbuh tanpa tanah. Akarnya kontak langsung dengan air, yang mengalir ke bawah mengikuti gravitasi,” tambah Fontanesi.
Noli dengan populasi 3.000 orang adalah kawasan wisata. Namun, hanya para penyelam dan kelompok tertentu saja yang tahu, bahwa di Noli berada hampir 100 meter dari pesisir kawasan wisata. Selain itu di bawahya ada laboratorium laut istimewa. Fontanesi mengecek semuanya dari pusat pengendali, tiga sampai lima kali sepekan. Dia memonitor apakah semua pengendalinya bagus. Displai juga menunjukkan suhu dan kelembaban di dalam biosfer.
“Di sini kami bisa melihat halaman monitoring, yang menunjukkan situasi keseluruhan habitat dengan peta beragam biosfer. Teknologinya digerakkan energi surya, panelnya ada di atas sana. Kami berusaha sepenuhnya hijau,” kata Fontanesi.
Kabel yang menghubungkan biosfir dengan dunia luar, tersembunyi dalam struktur yang disebut pohon kehidupan. Sejatinya, pengelola kebun bawah laut memproduksi peralatan menyelam. Tekniknya kini digunakan di laboratorium bawah laut. Sekarang saatnya memanen tanaman.
Tim tersebut sudah memperoleh order dari seluruh dunia. Kebun bawah laut serupa sudah dipasang di Belgia, Mauritania dan Amerika Serikat. Kini kebun bawah laut bukan lagi sebuah impian, melainkan sebuah proyek hijau yang bisa berkontribusi pada pertanian berkelanjutan. (JIBI/liputan6.com/detik.com)