Gunung Merapi Masuki Fase Erupsi Kecil

JOGJA—Laju pertumbuhan kubah Merapi sampai Februari ini dinilai masih rendah. Dengan rata-rata pertumbuhan 1.300 meter kubik perhari, butuh waktu lama bagi Gunung Merapi untuk menghasilkan erupsi dahsyat.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM Kasbani mengatakan aktivitas Gunung Merapi saat ini mengalami fase erupsi kecil. Hal itu menyebabkan kondisi kubah saat ini masih stabil meskipun beberapa kali terjadi guguran lava. ”Awan panas yang muncul skalanya masih kecil. Ini karena pertumbuhan kubah juga relatif rendah,” katanya di Kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja, Rabu (6/2).
Jika laju pertumbuhan Merapi masih rendah, kemungkinan untuk terjadi erupsi skala besar masih membutuhkan waktu lama. Kasbani membandingkan kondisi saat ini dengan erupsi pada 2010 lalu. Saat itu volume lava kubah di Merapi saat itu mencapai 10 juta meter kubik. Pertumbuhan kubah lava saat itu cukup cepat dan potensi awan panasnya juga besar. Adapun saat ini volume lava Merapi baru mencapai 461.000 meter kubik. Proses erupsi efusif pun hingga kini masih berlangsung ditandai aktivitas vulkanik tinggi mensuplai magma.
”Kalau laju pertumbuhan lavanya masih seperti saat ini [rata-rata 1.300 meter kubik] maka perjalanan Merapi masih panjang. Tapi ini tergantung dari proses di dalamnya. Memang tidak hangus 10 juta meter kubik, tetapi tergantung dari stabil tidaknya kondisi kubah,” kata Kasbani.
Dia menyebut, awan panas yang muncul beberapa waktu lalu masih dalam radius aman. Pada November 2018 lalu, Kasbani sudah memperkirakan potensi munculnya awan panas atau wedhus gembel itu. Potensi itu muncul dengan perhitungan laju pertumbuhan kubah rata-rata 3.000 meter kubik perhari dengan jarak luncuran sekitar 2,2 kilometer ke Sungai Gendol.
Sementara awan panas yang tiga kali muncul pada 29 Januari lalu masing-masing mencapai 1.400 meter dengan durasi 141 detik, 1.350 meter dan durasi 135 detik dan 1.100 meter dengan durasi 111 detik. ”Jadi awan panas yang muncul masih dibawah radius yang kami rekomendasikan. Belum membahayakan warga karena kami telah mengeluarkan larangan aktivitas dengan radius 3 kilometer dari puncak,” katanya.
Meski begitu, dia belum bisa memastikan kapan erupsi Merapi sesungguhnya bisa terjadi. Pasalnya suplay magma dari dalam masih kecil. Masa erupsi pembentukan kubah lava. Hal itu, kata Kasbani, tergantung dari aktivitas yang terjadi di dalam tubuh Merapi. ”Ini sudah sekitar sembilan bulan masuk masa erupsi [21 Mei 2018]. Semua aktivitasnya masih di dalam radius rekomendasi kami. Karena dikeluarkan sedikit-sedikit kemungkinan aman,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Seksi Gunung Merapu BPPTKG Agus Budi Santoso menjelaskan yang membedakan guguran dan awan panas adalah dari sifat magma dan laju ekstrusi magma. Dari sebelumnya lava pijar menjadi awan panas yang disertai juga unsur gas. (JIBI/Harian Jogja/Abdul Hamid Razak)