Jogja Waspadai DBD

JOGJA—Awal tahun ini, Dinas Kesehatan DIY mencatat sebanyak 126 kasus DBD dialami warga. Masyarakat diminta terus mewaspadai kasus tersebut lantaran musim hujan masih berlangsung.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY Berty Murtianingsih mengatakan data hingga Januari 2019 jumlah pasien DBD sebanyak 126 kasus. Jumlah tersebut dibandingkan tahun lalu (Januari 2018) ada peningkatan. ”Januari 2018 ada 80 kasus. Tapi kalau dibandingkan dua tahun lalu, data tahun ini masih jauh. Pada periode yang sama 2016-2017 sampai 500 kasus,” katanya.
Siklus DBD di DIY secara rata-rata lima tahunan, tetapi masing-masing kabupaten dan kota memiliki siklus sendiri. Misalnya di Kulonprogo siklusnya enam tahunan sementara Sleman empat tahun sekali mengalami peningkatan kasus. ”Hingga Januari ini tidak ada laporan kasus pasien yang meninggal. Tahun lalu, ada tiga pasien DBD yang meninggal,” katanya.
Masih rendahnya kasus DBD pada awal Januari ini, lanjut Berty salah satunya disebabkan karena kesadaran masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSM) lebih meningkat. Masyarakat juga banyak melakukan langkah 3M Plus (menguras, mengubur, menutup, plus mendaur ulang barang bekas). Pola pengendalian seperti itu pun mendapatkan penghargaan dari pemerintah. ”Keberadaan bank sampah tampaknya memberikan dampak positif untuk menekan munculnya jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti. Botol-botol atau kaleng bekas diserahkan ke bank sampah,” katanya.
Disinggung penyebaran nyamuk Wolbachia untuk menekan kasus DBD, Berty menilai hal itu masih perlu dibuktikan melalui penelitian. Secara kasus (luas wilayah) keterlibatan Wolbachia belum begitu terasa. Keberadaan Wolbachia hanya ada di Kota Jogja. Padahal kasus DBD di Jogja dengan daerah lainnya hampir sama. Penilaiannya didasarkan pada data di mana kasus DBD di Jogja sebanyak 24 kasus, Bantul (29 kasus), Kulonprogo (12 kasus), Sleman (27 kasus), dan Gunungkidul (34 kasus).
Dinkes DIY, lanjut dia, tetap meminta agar masyarakat mewaspadai potensi kasus DBD ini. Alasannya, musim penghujan masih berlanjut hingga Maret. Apalagi Kemenkes sudah menyebar surat imbauan agar Dinkes baik di provinsi maupun kabupaten hingga rumah sakit untuk mewaspadai kasus DBD. ”Jadi harus waspadai perindukan nyamuk. Kami tetap menekankan agar masyarakat tetap mewaspadai. Berberapa program sudah kami siapkan,” katanya.
Dinkes juga menyiapkan rapid test untuk mendeteksi dini pasien DBD di setiap Puskesmas. Apalagi hampir 70% kecamatan di wilayah DIY merupakan daerah endemis DBD. Mulai Februari ini, Dinkes juga menggelar roadshow ke Puskesmas-Puskesmas untuk me-refresh para kader. ”Kami juga mendorong adanya gerakan satu Jumantik dalam satu rumah agar terbebas dari jentik nyamuk. Kami juga lakukan audit kasus DBD, apakah pelayanan suspect DBD sudah baik atau perlu dievaluasi,” katanya.
Sementara Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi, mengatakan Pemkot terus menggalakan program pencegahan penyebaran DBD salah satunya dengan UGM melalui World Mosquito Program. Program ini dilakukan dengan melepaskan nyamuk ber-Wolbachia di sejumlah kecamatan. ”Kami juga mengeluarkan imbauan untuk terus menggalakkan PSN. Langkah lain dengan menggalakkan Gerakan satu Rumah satu Jumantik dan Sambang Kampung, dan aktivitas pemberantasan sarang nyamuk dengan melibatkan berbagai pihak lintas sektoral,” katanya. (JIBI/Harian Jogja/Abdul Hamid Razak)