Wedhus Gembel Turun 2 Km

JOGJA—Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas, Kamis (7/2) petang. Awan panas mengarah ke hulu Kali Gendol dan meluncur sejauh
2 kilometer (km).

redaksi@koransolo.co
ABDUL HAMID RAZAK

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menyebutkan wedhus gembel, sebutan awan panas oleh masyarakat setempat, teramati di Gunung Merapi pada pukul 18.28 WIB. Awan panas meluncur dengan amplitudo 70 dan memiliki durasi 215 detik.
”Benar ada awan panas. Ada potensi hujan abu. Warga diharap tetap tenang dan selalu mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik,” katanya saat dimintai konfirmasi Harian Jogja.
Berdasarkan catatan Harian Jogja, jarak luncur awan panas sejauh 2 Km itu merupakan yang terpanjang dibandingkan sebelumnya. Walaupun begitu masih di bawah jarak aman yang direkomendasikan oleh BPPTKG sejauh 3 km.
Adapun jarak luncuran awan panas yang tiga kali terjadi pada 29 Januari lalu masing-masing mencapai 1.400 meter dengan durasi 141 detik, 1.350 meter dan durasi 135 detik dan 1.100 meter dengan durasi 111 detik.
Sebelumnya, Kepala Seksi Gunung Merapu BPPTKG, Agus Budi Santoso, menjelaskan ada tidaknya luncuran awan panas tergantung dari proses dan faktor yang memicunya. Peningkatan laju eksrusi magma disertai gas, memungkinkan munculnya kembali awan panas. ”Awan panas ini terjadi kalau eksrusi magma tinggi, kandungan gasnya tinggi,” katanya.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
Berdasarkan data BPPTKG sebelum terjadi luncuran awan panas, kondisi di sekitar Gunung Merapi pada Kamis (7/2) petang diselimuti cuaca mendung dan berkabut. Suhu udara di sekitar lokasi antara 19,4 hingga 22,6 derajat Celcius, dengan tingkat kelembaban udara antara 86-78%rh dengan pressure 871,9-917,4 hpa.
Meski begitu, kondisi angin di sekitar Merapi cukup tenang. Di sekitar lokasi selama satu jam sebelum keluar awan panas, hujan sempat turun dengan skala 40 mm. Adapun guguran yang terjadi sejak siang hingga sore hari tercatat sebanyak 32 kali dengan durasi antara 12-157 detik.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementrian ESDM Kasbani saat berkunjung ke Kantor BPPTKG Yogyakarta pada Rabu (6/2) , mengatakan aktivitas Merapi saat ini mengalami fase erupsi kecil. Hal itu menyebabkan kondisi kubah saat ini masih stabil meskipun beberapa kali terjadi guguran lava. ”Awan panas yang muncul skalanya masih kecil. Ini karena pertumbuhan kubah juga relatif rendah,” katanya.
Terpisah, Kepala Pelaksana Harian Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO) DIY, Pramono, mengatakan jika sewaktu-waktu erupsi besar terjadi kondisi sabo dam di sungai-sungai yang berhulu Merapi, terutama di Kali Gendol, siap digunakan. ”Seluruh sabo dam siap menghadapi potensi bencana erupsi Gunung Merapi. Perkiraan potensi sedimen yang akan mengalir di Kali Gendol sekitar 2,1 juta meter kubik,” jelasnya.
Jika tidak terjadi erupsi, lanjut Pramono, material Merapi tidak turun sekaligus, namun sedikit-sedikit. Paling banyak dalam 0,5 juta m3 dalam satu tahun pertama pasca erupsi. ”Jumlah sabo dam di Kali Gendol ada 20 unit [lokasi] dengan total kapasitas tampung sekitar 1,1 juta m3. Artinya, Kali Gendol masih aman karena total kapasitas tampung  lebih besar dari yang akan mengalir sekitar 0,5 juta m3,” paparnya.
Hujan Abu
Meskipun BPPTKG menilai aktivitas saat ini masih terbilang rendah namun BBWSO mengaku tidak memiliki kewenangan untuk melarang aktivitas penambangan di Kali Gendol. ’Imbauan berkaitan dengan aktivitas atau potensi erupsi Gunung Merapi merupakan kewenangan dari BPPTKG atau instansi yang membidangi kebencanaan,” katanya.
Sementara itu, sekitar pukul 19.20 WIB, hujan abu dirasakan warga di wilayah Desa Genting, Kecamatan Cepogo, Boyolali. Sekretaris desa (sekdes) setempat, Triyono, mengatakan hujan abu tipis terlihat dari sorot lampu kendaraan yang melintas. Selain itu, abu yang sudah jatuh juga tampak di jok-jok kendaraan roda dua yang diparkir di luar ruangan. “Genting terjadi hujan abu tipis pukul 19.20 WIB terlihat dari jok motor dan sorot lampu kendaraan,” ujarnya kepada Koran Solo.
Dia menambahkan hujan abu juga tidak berlangsung lama. Selain itu, aktivitas warga tidak terganggu akibat hujan abu itu karena sebagian besar sudah berada di dalam rumah. “Tidak mengganggu aktivitas warga,” imbuhnya. (Akhmad Ludiyanto/JIBI)