Ada Harga Negosiasi untuk Pengusaha Logistik

JAKARTA—Maskapai penerbangan membuka diri untuk berdiskusi dengan pengusaha jasa logistik yang memanfaatkan kargo pesawat. Tarif bisa dibicarakan alias dinegosiasikan.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memanggil maskapai penerbangan dan pengusaha di bidang logistik terkait polemik kenaikan tarif kargo udara, Jumat (8/2). Dalam pertemuan itu belum ada kesepakatan mengenai tarif atau solusi untuk menyudahi polemik ini.
VP Corporate Secretary Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan, mangatakan siap bicara terbuka mengenai struktur pembentuk biaya kargo udara dan membicarakan solusi terbaik yang menguntungkan jasa kurir dan maskapai. ”Kami harus mengobrol terbuka saja, ini ongkos kami, ini biaya kami, kemampuan kami segitu. Itu nanti sama kemampuan pasar akan diformulasikan,” terang dia, Jumat.
Dia menegaskan Garuda Indonesia siap memberikan rentang harga yang masih masuk akal bagi bisnis kargo udara. Harga tersebut dapat dinegosiasikan. Ikhsan menegaskan tarif kargo udara yang ditetapkan saat ini sudah menghitung biaya operasional maskapai yang melonjak.
”Sekarang kami Rp6.000 per kilogram [kg] untuk satu jam penerbangan ya. Sebelum itu harganya ada yang Rp1.800 ada yang Rp3.000, Rp4.000 paling tinggi,” jelas dia.
Menurut dia, harga lama tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan. Dalam berbisnis, pendapatan harus bisa menutupi biaya yang muncul sehingga kenaikan tidak dapat dihindarkan. ”Kami menghitung sekarang harga dengan inflasi, fluktuasi, harga avtur, kebandaraan, dolar ya memang harus dinaikkan,”tutur dia.
Direktur Keamanan Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, Dadun Kohar, menuturkan pertemuan tertutup maskapai dan pengusaha jasa logistik pada Jumat belum memberikan keputusan terkait tarif kargo udara, tetapi masing-masing pihak sepakat menyelesaikan permasalahan secara bersama-sama.
Menurut dia, akan ada pertemuan lanjutan mengenai tindak lanjut pembahasan tarif tersebut. Dadun menyebut sejumlah pihak terkait hadir pada pertemuan itu di antaranya perwakilan Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo), Garuda Indonesia, serta pengelola bandara [PT Angkasa Pura II].
Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari surat yang dilayangkan oleh Asperindo kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Surat itu berisi penolakan Asperindo terhadap kenaikan tarif surat muatan udara (SMU) atau kargo udara. (Rinaldi Mohammad Azka/Rio Sandy/JIBI)