Rumah Instan Berbiaya Rp116 Juta

SOLO—Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo bersama Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyerahkan kunci 56 unit rumah instan sederhana sewa (Risha) di lingkungan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Jumat (8/2) pagi.
Hunian subkomunal itu merupakan purwarupa dan bagian dari penataan kawasan kumuh Semanggi. Kepala Puslitbang Perumahan dan Permukiman (Puskim) Balitbang Kementerian PUPR, Arief Sabarudin, mengatakan model hunian subkomunal merupakan sistem penyediaan kelompok hunian vertikal 2,5 lantai tipe 36+.
Sebanyak 56 unit hunian itu dikelompokkan dalam komunal kecil menjadi subkomunal A, B, dan C. Pembangunan setiap unitnya membutuhkan dana Rp116 juta dengan teknologi kontruksi pracetak sistem Risha. Kompleks hunian itu dibangun selama tiga bulan.
“Di Solo proses pembangunan lebih dari tiga bulan, Juni-Desember 2018, karena kami memberdayakan masyarakat. Mereka kami ajak untuk belajar membangun Risha sehingga apabila ke depan ada proyek serupa mereka bisa dilibatkan. Ini bisa membuka lapangan pekerjaan baru,” kata dia kepada wartawan, Jumat.
Setiap unit Risha hanya membutuhkan lahan seluas 18 m2, cocok diterapkan pada kawasan padat penduduk. Selain itu, Risha merupakan upaya mewujudkan hunian sehat, menyediakan ruang cukup untuk anggota keluarga. Teknologi Risha terdiri atas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), kolam sanitasi, teknologi biodigester, sumur resapan, dan tray aerasi.
“Teknologi biodigester menghasilkan pupuk dan menangkap gas metan. Gas tersebut bisa digunakan penghuni untuk memasak sehingga menghemat pengeluaran. Sedangkan pupuknya bisa dijual, misalnya bekerja sama dengan Dinas Pertanian. Keduanya merupakan upaya memberdayakan masyarakat. Tidak hanya menata fisik tapi juga ekonominya,” ucap Arief.
Anggaran untuk membangun hunian itu senilai Rp10,6 miliar. Wali Kota mengatakan Pemkot menggunakan kompleks tersebut sebagai hunian sementara (huntara) bagi warga di RW 023 Semanggi yang terkena penataan kawasan melalui program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku). Warga terdampak bakal menggunakannya bergantian. “Perkiraan penataan RW 023 rampung dua tahun. Setelah itu Risha bisa digunakan warga lain yang membutuhkan. Teknis sewa ke depan seperti apa atau dibuat seperti rusunawa akan diatur lebih lanjut,” kata dia, Jumat. (Mariyana Ricky P.D./JIBI)