Menyiapkan Kesigapan TNI Hadapi Kericuhan

ICHSAN KHOLIF RAHMAN

Proses pemungutan suara Pemilu 2019 telah selesai dilakukan. Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih sibuk menghitung suara. Mengacu pada hasil proses hitung cepat, Partai Durian dan Partai Bayam sudah berpesta di posko kemenangan mereka masing-masing.
Simpatisan kedua partai itu menganggap partai mereka telah memenangkan pesta demokrasi itu. Suasana Kota Solo sangat tenang dan damai pada hari itu.
Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan Bhayangkara Pembinaan dan Keamanan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) berpatroli ke masing-masing posko. Simpatisan pun menyambut baik edukasi yang dilakukan personel TNI dan Polri itu.
Tiba-tiba suara raungan motor dari pendukung Partai Bayam sangat keras, mereka berkonvoi dengan mem-
bawa berbagai atribut berlambang partai usungan mereka.

Saat melintasi Posko Partai Durian suara motor pun semakin dikeraskan hingga akhirnya menyulut emosi para pendukung Partai Durian.
Cekcok antarpendukung tak bisa dihindarkan. Babinsa dan Bhabinkamtibmas yang berada di lokasi kejadian tidak dipedulikan. Saling lempar benda keras pun terjadi, dengan sigap polisi datang menggunakan kendaraan taktis untuk menetralisir suasana.
Namun, suasana semakin panas ketika pendukung Partai Bayam mengerahkan seluruh massa untuk menyerang Partai Durian. Dengan sigap aparat TNI datang membantu polisi, meski dilempari berbagai benda padat, para petugas bergeming. Dalam hitungan menit, massa berhasil dipukul mundur.
Hal itu merupakan simulasi pengamanan pemilu yang digelar Kodam IV/Diponegoro untuk menghadapi kemungkinan terburuk yakni kericuhan. Latihan dilaksanakan di kompleks Stadion Manahan, Solo, Minggu (10/2) pagi.
Kepala Staf Daerah Militer Kodam IV/Diponegoro, Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa, mengatakan latihan itu merupakan tugas-tugas pokok TNI dalam membantu Polri.
“Latihan ini bertujuan agar prajurit TNI tahu secara pasti tahap-tahap pengamanan itu. Selama ini kita selalu koordinasi dengan Polri, prinsipnya kami mengacu pada tahap-tahap rekan Polri. Hal itu kami selalu latih untuk mengatasi kemungkinan terburuk kericuhan,” ujar dia saat ditemui Koran Solo di sela-sela simulasi.
Dia menjelaskan asas sebagai prajurit yakni netralitas dalam menyikapi Pemilu 2019 merupakan sebuah hal yang tidak bisa ditawar. Selain itu, dalam membantu polisi tetap mengacu pada aturan sesuai hukum yang berlaku. (JIBI)