Debat Capres Perbanyak Interaksi

JAKARTA—Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan memperbanyak atau mengintensifkan interaksi kandidat dalam debat capres kedua, yang akan berlangsung pada Minggu (17/2).

redaksi@koransolo.co

”Di segmen dua sampai lima semuanya dalam bentuk dialog. Jadi sangat dimungkinkan masing-masing capres bertanya kepada capres lain,” ujar Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi di Jakarta, Senin (11/2). Debat kedua yang hanya akan dijalani antarcapres ini, dibagi dalam enam segmen, yaitu segmen pertama berupa penyampaian visi-misi, segmen kedua dan ketiga berupa pertanyaan dari tim panelis. Kemudian, segmen keempat berupa debat eksploratif dengan pemantik diskusi berupa tayangan video singkat yang disiapkan tim panelis, segmen kelima kedua capres saling mengajukan pertanyaan bebas dan segmen terakhir berupa pernyataan penutup. Pramono menyampaikan setiap pertanyaan yang diajukan masing-masing capres dalam dialog atau interaksi, tetap harus mengacu pada tema debat kedua yaitu isu energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam dan lingkungan hidup.
Menurut Pramono, persiapan debat kedua sudah mencapai 90 persen, mulai dari keberadaan tim panelis, moderator, daftar pertanyaan, teknis penyelenggaraan, pengamanan, dan lain-lain. Debat kedua akan diselenggarakan di Hotel Sultan, Jakarta pada Minggu (17/2) dengan mengambil tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam dan lingkungan hidup.
Debat kedua hanya akan dijalani para capres yakni Jokowi dan Prabowo Subianto. Pilpres 2019 diikuti dua pasangan calon yakni nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Dipertajam
Sementara Peneliti Institute for Indonesia Local Policy Studies (ILPOS), Broery Doro Pater Tjaja, di Jakarta, Senin (11/2), mengatakan sesuai dengan tujuannya debat politik menjelang pemilu semestinya mampu memposisikan ketajaman visi misi pada bidang yang telah ditentukan dalam ini untuk putaran kedua bertema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup.
”Energi menjadi topik pemantik debat yang baik karena dari sini dapat diukur seberapa jauh keberpihakan pasangan calon terhadap isu yang menyangkut hajat hidup dan masa depan rakyat banyak ini,” katanya.
Pada debat pertama, Broery menyayangkan pasangan calon masih terkesan hanya saling menyerang dan berusaha terlihat benar di balik kamera. Menurut dia, hal itu diharapkan bisa diperbaiki dalam penampilan kedua sebagai usaha untuk membangun pendidikan politik bagi masyarakat.
”Sebab semestinya debat adalah ruang pemaparan visi berkualitas yang dapat mempengaruhi massa atau meyakinkan massa bahwa pasangan calon bersangkutan adalah anak terbaik bangsa yang siap menjadi presiden dan wakil presiden terutama untuk isu-isu yang terkait energi,” kata Mahasiswa Program Doktoral Studi Pembangunan UKSW itu.
Sebagian masyarakat menunggu paparan visi pasangan calon terkait persoalan energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup.
Menurut dia, debat harus mampu mencerminkan pendapat pasangan calon dengan baik sehingga ajang tersebut berpengaruh langsung terhadap elektoral pasangan.
”Intinya, debat seharusnya merupakan ajang pendidikan politik bagi semua kalangan. Bila debat berikutnya masih seperti debat pertama ini, maka panggung debat capres hanya akan mewarnai media massa dengan pemberitaan saling serang dan hujat yang tidak akan mencerdaskan warga,” katanya.
Imbasnya, kata dia, pemilu yang seharusnya mempersatukan justru bisa sampai pada tataran konflik. ”Hal ini tentu saja tidak kita inginkan. Kami berharap pada debat putaran kedua ini, setiap pasangan calon akan fokus pada gagasan membangun negara dan bangsa sehingga debat tersebut akan menjadi pendidikan politik yang baik bagi masyarakat,” kata Mantan Kabid Litbang Pengurus Pusat GMKI itu. (JIBI/Antara)