Etnis Uighur Pelanggaran HAM Tak Pernah Padam

Turki meminta Tiongkok untuk menutup barak-barak detensi, menyusul kabar kematian seorang musisi terkenal dari etnis minoritas Uighur. Mereka juga berharap PBB segera mengakhiri tragedi kemanusiaan di Tiongkok. Berikut laporan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.

redaksi@jibinews.co

Warga Uighur merupakan 45% populasi di Xinjiang. Mereka merasa dekat secara budaya dan etnis dengan negara-negara Asia Tengah, dan bahasa mereka mirip dengan bahasa Turki. Dalam beberapa dekade terakhir, sejumlah besar warga Han (etnik mayoritas Tiongkok) bermigrasi ke Xinjiang dan warga Uighur merasa budaya dan mata pencaharian mereka terancam. Xinjiang secara resmi ditetapkan sebagai wilayah otonomi di dalam negara Tiongkok, seperti halnya Tibet di bagian selatan.
Musisi muslim Uighur Abdurehim Heyit diduga telah menjalani hukuman selama delapan tahun di wilayah Xinjiang, tempat jutaan kaum Uighur dilaporkan sedang ditahan.
Penahanan Heyit terjadi setelah dia membawakan lagu berjudul Ayah yang liriknya diambil dari puisi Uighur tentang seruan generasi muda agar menghormati pengorbanan leluhur. Namun kalimat “martir peperangan” dalam lagu tersebut rupanya membuat otoritas Tiongkok menganggap Heyit sebagai ancaman teroris.
Pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan orang Uighur itu menjadi sasaran penyiksaan di barak konsentrasi. Pemerintah Tiongkok mengatakan fasilitas tersebut adalah barak re-edukasi.
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Sabtu (9/2), juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki Hami Aksoy mengatakan bukan lagi rahasia jika lebih dari satu juta warga Turki Uighur yang ditangkap secara sewenang-wenang menjadi sasaran penyiksaan dan indoktrinasi politik di penjara. Dia menambahkan bmereka yang tidak ditahan pun berada di bawah tekanan besar.
“Pembangunan kembali kamp konsentrasi di abad 21 dan kebijakan asimilasi sistematik pemerintah Tiongkok terhadap warga Turki Uighur adalah aib besar bagi kemanusiaan,” kata Aksoy.
Aksoy juga mengatakan laporan tentang kematian Heyit semakin memperkuat reaksi publik di Turki akan pelanggaran HAM serius di Xinjiang dan meminta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk mengambil langkah efektif demi mengakhiri tragedi kemanusiaan di sana.
Sebab Beijing mengklaim barak detensi di Xinjiang adalah pusat pendidikan vokasi yang dirancang untuk membantu membersihkan wilayah tersebut dari terorisme.
Berbicara pada Oktober lalu, pejabat pemerintah Tiongkok tertinggi di Xinjiang, Shohrat Zakir mengatakan para siswa di barak bersyukur akan kesempatan untuk merenungi kesalahan mereka.
Kelompok pegiat HAM mengatakan para muslim ditahan dalam jangka yang tidak ditentukan dan tanpa dakwaan, atas pelanggaran-pelanggaran seperti menolak untuk memberikan sampel DNA, berbicara dalam bahasa minoritas, atau berdebat dengan pihak berwenang.
Organisasi pemerhati HAM Amnesty International mengatakan mereka sangat khawatir akan laporan tentang kematian Heyit, yang belum dikonfirmasi secara resmi. Heyit terkenal sebagai pemain dutar, instrumen dengan dua senar yang sangat sulit dikuasai. Pada suatu waktu, ia dipuja di seluruh Tiongkok. Heyit belajar musik di Beijing dan kemudian tampil bersama kelompok seni nasional.
Nury Turkel, Ketua Uyghur Human Rights Project yang berbasis di Amerika Serikat, mengatakan beberapa aspek dalam video yang menampilkan musisi Heyit tampak mencurigakan.
Menurut dia, pemerintah Tiongkok mampu merekayasa video mengingat kemajuan teknologi yang mereka miliki. “Dengan teknologi masa kini, dimungkinkan menciptakan presentasi video. Itu tidaklah sulit,” ujarnya.
Dia menambahkan pemunculan video soal kondisi Heyit menunjukkan Pemerintah Tiongkok merespons tekanan publik. Pemerintah merespons Turki karena pengaruh yang Turki miliki dalam dunia muslim.
“Bolanya sekarang di ranah Pemerintah Tiongkok. Mereka menahan Heyit. Mereka menahan 10 persen populasi Uighur. Mereka kini mencoba memberitahu dunia bahwa tidak ada penyiksaan dan ini hanyalah pusat pelatihan kejuruan. Ini tanggung jawab mereka membuktikan video itu asli,” ujar dia. (JIBI/detik.com)